Keputusan dan Sebuah Kepergian

Muhamad Mustain
Karya Muhamad Mustain Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Mei 2017
Keputusan dan Sebuah Kepergian

Kamu percaya hidup ini bagaikan kereta, dengan sekumpulan manusia yang akan turun di stasiun yang berbeda-beda. Ada yang akan turun di stasiun yang sama denganmu, ada yang mungkin akan berada di samping tempat dudukmu tanpa sekalipun mengajakmu atau kamu ajak berbicara, ada yang akan melihatmu diam-diam di balik buku yang pura-pura dia baca. Dan, dari semuanya, yang paling menyakitkan adalah ada yang akan kamu anggap sebagai teman ngobrolmu di kereta, yang akan dengan sangat cepat kamu lupakan ketika kakimu menginjak peron stasiun setelahnya.1

Biasanya, di ruang yang tak terlalu luas, kamu kerap bersikukuh mempertahankan pendapatmu. Tak ada sebaris kalimat, tak ada telinga yang memerah, karena yang menjadi lawanmu hanya sebuah kaca bening yang menampilkan perawakanmu. Kamu percaya bahwa konon, jika kamu ingin menyelami hingga bagian paling dalam dari samudera yang bergejolak dalam dadamu, kamu hanya cukup melihat apa yang terlukiskan di permukaan matamu.2 Kali ini, kamu hendak berhenti menghitung berapa kali perdebatan yang menurutmu tak penting ini terjadi. Di depan kaca bening kamar kecil kereta, kamu merasa telah cukup membulatkan keputusan yang entah akan kamu sesali atau tidak, meski yang jelas itu akan menyakitkanmu.

...

Kamu kembali ke tempat dudukmu. Posisimu cukup strategis, karena dia saat ini duduk di depanmu–tak jauh darimu. Kamu membuka kembali buku tipis kumpulan puisi Sapardi yang sedang kamu baca–lebih tepatnya pura-pura kamu baca. Kamu menutup wajahmu dengannya, dan sesekali mencuri pandang ke arahnya. Barangkali, jika saat itu, kamu membawa buku yang berukuran lebih besar, seperti buku terakhir Muhammad karya Tasaro GK, kamu dapat lebih leluasa menyembunyikan wajahmu yang bisa saja memerah karenanya.

Kamu telah cukup merekam bagaimana alis tipisnya, mata bulatnya, lengkung bibirnya. Kamu telah yakin, kamu masih bisa melihatnya ketika kelak mungkin hatimu porak poranda oleh rindu itu terhunjam. Ya, terhunjam, bukannya menghunjam. Karena rindu dan banyak perasaan sejenisnya seolah bagai tamu yang tak sopan, yang datang tanpa permisi mendobrak pintu yang sudah kamu gembok berlapis, yang akan berdiam di rumahmu dalam waktu yang bisa saja cukup lama, yang akan memanggil kawannya untuk berbondong masuk ke rumahmu–Si "Kesepian" misalnya.

Bahkan, kamu pernah mengatakan padaku, bahwa menyimpan perasaan halus itu adalah bagian dari sebuah ketaksengajaan. Ketaksengajaan yang sebenarnya tak ingin kamu perbuat, meski di saat yang sama juga tak ingin kamu tolak. Ketaksengajaan yang entah bagaimana kamu mendefinisikannya. Bahwa dia bagimu mungkin memang menarik, sekalipun orang-orang berkata dia tak cantik. Atau, barangkali kamu hanya menyadari bahwa dia sangat mirip dengan mendiang ibumu saat masih seumuran dengannya–kamu tahu kamu merindukannya.

Kamu tahu bahwa perasaan halus itu terendap dalam palung paling dalam dari samuderamu--meski tak pernah tahu kapan awal mulanya. Sayangnya, gejolaknya barangkali tak mampu kamu tenangkan hingga dapat terbaca olehnya melalui percikan matamu. Akibatnya, perasaanmu yang awalnya seperti air yang tenang berubah menjadi gulungan ombak yang menjadi gangguan sekaligus ancaman baginya. Yang terjadi berikutnya, kamu hanya bisa mengganti setiap sesuatu yang telah hancur di antara kalian hanya dengan helaan nafas panjang yang sebenarnya tak mengubah apapun. Kamu tak menyesal, kamu hanya mengakui bahwa banyak hal dari kalian yang dicabut karena kesalahanmu sendiri.

Maka, yang bisa kamu lakukan untuk memperbaikinya hanya...tak ada. Tak ada lagi, selain pergi membiarkan sang Takdir nanti akan memencet tombol "Reset" bagimu. Tak ada lagi, selain mengikuti seperti kata Sapardi, mendoakan kebaikannya setiap hari.

...

Kamu kembali merekam wajahnya dengan lebih leluasa karena kali ini dia tertidur pulas. Ya, setidaknya kamu berharap selalu mengingat wajahnya. Hingga dalam kemungkinan terburuk sekalipun, seperti ketika kelak dia sama sekali tidak berniat memberikan senyumnya padamu, setidaknya kamu merasa damai oleh senyumnya yang kamu simpan rapat-rapat di ingatanmu. Kau tak akan ragu untuk membisikkan pada bantal di kamarmu bahwa kamu rindu, sehingga hadir senyumnya untukmu meski hanya di mimpimu.

...

Detik berlalu seperti deretan pohon-pohon yang bergerak di jendela kereta. Lenguhan kereta membangunkannya, sekaligus menjadi penanda bahwa kalian telah sampai di stasiun tujuan. Dia melihatmu, sementara kamu refleks membaca kembali bukumu.

Kalian turun di stasiun yang sama. Meski dia terburu-buru berjalan di depanmu. Aku takut terlambat, katanya. Hati-hati, katamu.

Kalian mengambil jalan yang berbeda di persimpangan.

...

Hanya beberapa langkah setelahnya, kamu membalikkan badan, melambaikan tangan, sambil lirih mengucap 'Good Bye' untuk punggungnya yang bergerak semakin menjauh. Meski rasanya terlalu absurd untuk menambahkan kata 'good' dalam sebuah perpisahan yang kamu tahu mungkin tak akan baik-baik saja.

Tidak ada yang baik-baik saja dari sebuah kepergian.3

Sementara dia tetap berjalan tanpa menengok ke belakang. Kamu tersenyum, karena untuk kali ini, kamu berhasil menyembunyikan gejolak paling hebat dari palung terdalam di dadamu. Kamu hanya tak ingin merepotkannya lagi.

Kamu bahkan tidak pernah berhak merasa kehilangan, karena memang sedari awal kamu tidak memiliki apapun. Sekalipun hatinya untukmu, kamu mesti sepenuhnya sadar bahwa kamu tak berhak meminta apapun. Hatinya tetaplah hatinya, yang bisa berubah kapanpun.

Kamu kembali masuk ke stasiun, menunggu kereta sebenarnya yang akan mengantarmu entah kemana. Kamu sepakat dengan Jose Saramago, bahwa pertanyaan "Akan kemana?" kali ini terasa sangat susah untuk dijawab. Yang kamu tahu, saat ini kamu hanya ingin berlari. Karena kamu percaya, bahwa Tuhan akan semakin dekat ketika kamu melangkah.4 Hingga ketika kelak doamu yang terpanjatkan tak berbatas apapun, kamu telah merasa cukup pantas untuk menyemogakan bahwa suatu saat akan ada kebetulan-kebetulan kecil yang mempertemukan kalian kembali.

...

(Dalam kereta perjalanan Bandung-Yogyakarta, 30 April 2017)

 

 

[1] Ungkapan "hidup ini seperti kereta" sebenarnya sudah sangat viral di internet. Hanya saja, ada yang pernah mengatakannya kepada saya. Meski sebenarnya melupakan tak akan mungkin dilakukan oleh manusia. Karena konon, sesuatu yang dengan sengaja dilupakan justru akan semakin diingat. Manusia hanya mampu melepaskan hingga perlahan ingatan itu dikaburkan.
[2] Konon, untuk menjawab pertanyaan "apa yang sebenarnya kau cari?", kamu bisa menjawabnya dengan menatap matamu sendiri di cermin.
[3] Meski kepergian sangat berbeda dengan kehilangan, namun kepergian selalu meninggalkan kotak-kotak kosong yang nanti akan ditempati oleh si Kesepian.
[4] Ini cukup jelas, bahwa ketika kamu melakukan perjalanan, maka doa-doa yang kamu rapalkan akan dicatat oleh Bos Besar dalam daftar prioritas yang akan segera dikabulkan. Entah seperti yang kamu minta, atau sesuai yang terbaik bagi rencanaNya.

  • view 128