Jangan Khawatir

Muhamad Mustain
Karya Muhamad Mustain Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 April 2017
Jangan Khawatir

Mas, saya masih ingat janji yang kita sepakati bersama hari itu. Hari itu adalah hari kedua semenjak mas mengikrarkan janji untuk menggenapkan separuh agama saya di depan bapak. Rumah kita masih ramai oleh sanak famili. Ya, hari itu, mas berjanji lagi, bahwa mas akan berusaha keras untuk mewujudkan mimpi yang pernah saya sampaikan, yang akhirnya kita sepakati bersama.

...

Waktu memelesat. Kita dihadapkan dengan kenyataan yang tak seindah pesta-pesta pernikahan kemarin hari. Saya tidak tahu apa yang mas kerjakan dari pagi hingga kadang terlampau larut malam sampai di rumah. Tak jarang, saya memarahi mas atas semua itu. Maafkan keluguan saya yang mungkin karena terlalu khawatir.

"Tak perlu khawatir. Percayakan saja pada saya.", begitu kata mas berulang tiap hari sampai kadang saya bosan.

Mas, apakah mas masih ingat ketika Ahmad hadir untuk kita? Alih-alih bahagia, ada rasa khawatir datang menyelinap dalam hati saya. Bagaimana biaya persalinan? Biaya merawat Ahmad? Biaya ini dan itu? Semua tak akan murah.

"Jangan khawatir. Semua administrasi sudah saya urus.", begitu mas katakan.

"Mimpi kita?"

"Di tempat berbeda. Uangnya sudah terkumpul sebagian. InsyaAllah beberapa tahun lagi."

Hari-hari berat pernah kita lewati bersama. Tak satu atau dua kali, kita terlibat percekcokan yang membuatku enggan melihat mas untuk beberapa waktu.

"Mas, biar saya bantu kerja.", kataku saat itu.

"Kita bagi tugas saja. Ahmad kasihan. Masih kecil. Kamu perhatikan dia. Ya?"

"Tapi, mas. Saya cuma mau bantu keuangan keluarga. Untuk mimpi kita juga."

"Jangan khawatir. Rezeki tak akan salah tempat. Masih ada saya."

"..."

Saya waktu itu diam dan pergi. Mengurung diri di kamar. Mas juga diam. Tak peka. Tak romantis. Keras kepala.

Meski begitu, saya tidak bisa mendiamkan mas lebih dari sehari. Kadang malam-malam, saya sengaja membuatkan mie instan atau kopi. Lalu, mengantarkannya ke meja kerja mas. Duduk di samping mas hanya untuk menemani atau melihat mas bekerja.

"Kamu besok harus bangun pagi. Tidur ya?", begitu selalu yang mas katakan ketika mata saya mulai terlihat menyipit karena mengantuk. Saya memang kadang ngotot menemani mas begadang, walaupun kadang saya tidur duluan, dan bangun-bangun sudah ada di atas ranjang. 

...

Pernahkah juga mas ingat ketika Ahmad kritis karena penyakitnya?

Saya menangis sepanjang hari di samping tempat tidurnya. Mas pontang-panting mencari uang untuk membayar biaya rumah sakit. Walau beberapa hari sering saya lihat tidak bekerja dan memilih menemani Ahmad.

"Ahmad lebih berharga daripada pekerjaan saya."

Keluguan mas yang menurutku fatal. Karena beberapa hari tidak masuk bekerja justru membuat mas dipecat dari kantor tempat mas bekerja. Saya sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan mas, yang selalu saja sama jawabnya, rezeki tak akan salah tempat.

Akhirnya, ketika biaya rumah sakit itu makin tinggi, mas mengajakku bicara saat itu. Mengetuk keikhlasan dalam hatiku untuk merelakan uang impian kita untuk membayar biaya perawatan Ahmad.

"Ga apa. Ahmad lebih penting dari mimpi kita. Ahmad lebih penting."

Tabungan kita terkuras, entah di nominal sebesar apa. Tapi mas katakan saat itu,

"Masih ada. Yang penting Ahmad sembuh. InsyaAllah saya masih bisa usahakan lagi."

...

Sekitar seminggu selepas Ahmad pulang dari rumah sakit, di pertengahan Ramadhan, adalah hari ketika saya seharusnya memberikan segalanya yang terbaik untuk mas. Selepas salat Isya, selepas saya mencium tangan mas, mas mengatakan sesuatu yang selama ini tak pernah saya dengar.

"Maaf. Maaf untuk semuanya. Maaf sering membuatmu khawatir."

Ramadhan hari ke-17. Saya kesiangan, dan sempat hampir memarahi mas yang juga kesiangan karena tidak membangunkan saya untuk menyiapkan sahur.

Justru yang terjadi, tangis saya membuncah. Bukan karena kesiangan itu mas, namun sesuatu yang menyebabkan itu terjadi. Subuh hari Jumat itu, mas pergi meninggalkan saya dan Ahmad.

Ahmad menangis sejadi-jadinya. Saya hendak mengatakan "jangan khawatir", apa daya lidah saya sangat kelu. Saya sudah memaafkan apa yang mas sampaikan malam sebelumnya. Saya sudah memaafkan, bahkan ketika mas belum atau lupa meminta maaf.

...

Mas, sejujurnya semakin ingatan itu dikilas balik dalam benak saya, saya semakin menangisi hari-hari itu. Bukan karena masih bersedih atas perasaan kehilangan. Namun, karena saya....entahlah, saya tak tahu saya merasa apa. Semuanya seakan bercampur menjadi satu.

Saya telah menganggap hutang atau janji itu terlunasi, sebab mas tidak bisa menolak kepergian itu sebelum janji-janji itu mas penuhi.

Saya telah melepaskan janji-janji itu. Mengikhlaskannya dengan perasaan paling dalam seperti saat saya melepaskan kepergian mas. Saya gunakan uang tabungan itu, untuk menikahkan Ahmad ke seorang gadis yang cantik dan baik. Saya yakin, mas menyukai gadis seperti dia.

"Nanti, kalo saya udah gak ada pas Ahmad sudah harus menikah, tolong pastikan calon istrinya sama seperti kamu."

Begitulah pesan mas sebagai titipan. Saya saat itu hanya tersipu, setelah berkata "Hus!" karena mas seolah bercanda soal "kepergian". Namun, insyaAllah gadis ini sesuai apa yang mas harapkan untuk Ahmad.

Sebetulnya Ahmad tidak meminta untuk menikah, mas. Saya yang menyegerakan urusan ini, karena saya rasa Ahmad sudah cukup dalam memahami separuh agamanya. Saya cuma gak ingin melihat Ahmad menambah dosa mas di sana, dengan berpacaran atau apalah itu. Saya takut.

"Buk, harusnya ibu gak perlu khawatir. Percayakan Ahmad. Ahmad kan belum bekerja tetap."

Begitulah yang dia katakan ketika saya memintanya menikah. Ternyata dia sama seperti mas. Mengatakan mantra yang sama: jangan khawatir.

"Rezeki tak akan salah tempat. Kamu, jangan khawatir juga.", kata saya ke Ahmad. Saya tersenyum penuh kemenangan. Terima kasih, atas kalimatnya. Sekarang, saya mengerti kenapa mas sering mengatakan itu.

...

Waktu berlalu dengan cepat. Ahmad harus meninggalkan rumah tiap hari kerja, dan datang mengunjungi di akhir pekan. Alhamdulillah, dia diterima di suatu perusahaan yang meski jauh dari desa.

"Ibu, ikut Ahmad ya di kota. Ahmad gak enak lihat ibu tinggal sendirian di sini.", katanya.

Saya menolak dengan halus. Tidak mungkin saya meninggalkan tempat ini, mas. Banyak kenangan kita di sini. Lagipula, masih ada yu Wati, tetangga sebelah yang selalu siap menolong dan menemani, meski apa-apa masih saya coba usahakan sendiri. Agar menuruti pesan mas saat itu : jangan terlalu merepotkan tetangga kita.

Benar kata mas dulu. Rezeki memang tak akan salah tempat. InsyaAllah, keikhlasan dan kerelaan akan mendapat ganjaran terbaik.

"Kalau begitu, Ibu harus mau menerima yang satu ini", kata Ahmad lagi. 

...

Dzulhijjah kemarin, saya akhirnya mewujudkan mimpi kita. Ya, kita. Awalnya saya pikir hanya saya yang mewujudkan impian itu, sampai Ahmad yang mengatakannya,

"Bapak ikut kok, buk. Dia ada di hati kita. Dia hadir lewat doa-doa yang kita panjatkan."

Saya tersenyum. Air mata meleleh. Ahmad menghapusnya. Istrinya merangkul pundak saya.

...

Terima kasih, mas, atas impian-impian yang telah kita sepakati. Meski akhirnya mas tak bisa hadir secara fisik menemani mimpi ini terwujud, mas telah berhasil mendidik Ahmad menjadi sosok laki-laki seperti mas.

Tak peka. Tak romantis. Keras kepala.

Namun, dia selalu bertanggung jawab atas segalanya. Yang selalu dengan mantap mengatakan "jangan khawatir, saya masih bisa mengusahakannya".