Menjadi Ayah Terbaik Untukmu

Muhamad Mustain
Karya Muhamad Mustain Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 April 2017
Menjadi Ayah Terbaik Untukmu

Turus di halaman belakang buku kerjaku sudah menunjukkan lima garis. Artinya, ini hari kelima kusadari kau memasuki rumah tanpa salam, dengan menekuk muka yang entah apa sebabnya. Mungkin seharusnya sudah lebih dari lima kali. Entah.
 
Belakangan, kau selalu mengurung diri di dalam kamar, bahkan ketika makan. Kau hanya keluar seperlunya ke masjid ketika aku mengetuk pelan pintu kamarmu saat adzan berkumandang.
 
Rendra, belakangan aku tahu bahwa kesedihan-kesedihanmu tak lain bersumber dari kegagalan yang tak pernah kamu ceritakan. Jadilah, sore itu, aku menunda dulu pekerjaanku, berniat mengajakmu keluar. Tak mudah membujukmu untuk akhirnya mau keluar dari pertapaanmu selama beberapa hari itu.
 
Di dalam mobil, di samping kursi kemudiku, kau hanya diam. Beberapa kali kulirik, mukamu seolah siap menerkam siapa saja yang berniat mengganggumu. Aku menyalakan radio, memilah ke frekuensi yang memutar lagu-lagu yang kau suka.
 
Aku tahu sebenarnya kau penasaran kemana kau akan kubawa. Hingga rasa penasaranmu terjawab ketika mobil yang kita tumpangi memasuki halaman parkir salah satu mall di kota.
 
Di dalam mall, langkahmu beriringan di sampingku, sementara mulutmu masih membisu. Kita memasuki bioskop, ketika kau menjawab "terserah" untuk pertanyaanku tentang film apa yang ingin kamu tonton. Dasar, kau seperti ibumu. 
 
Aku sengaja mengajakmu ketika bioskop pada jam saat itu hanya memutar tiga film. Aku tau kau pasti tak suka dua film yang lain. Bukan tipe film kesukaanmu. Jadi, aku dapat mengajakmu menonton film yang memang ingin aku tunjukkan padamu.
Film berakhir. Ada sedikit senyum yang kembali menghias di wajahmu.
 
Destinasi selanjutnya, aku mengajakmu menjelajahi setiap rak di toko buku di mall yang sama. "Pilih mana yang kau suka", kataku. Hm, serasa melesatkan bola tenis, kau memantul dari rak satu ke rak lain.
 
Kau mengambil buku seperlunya. Sesekali membaca buku yang segelnya telah terbuka. "Cuma ini?", tanyaku saat kau hanya memberiku dua buku.
 
Kita keluar dari toko buku. Kau telah melebarkan sedikit lagi senyummu yang menghias wajahmu.
 
Di perjalanan pulang, di samping kemudiku, wajah "ingin menerkam orang" telah hilang dari wajahmu. Hm, sepertinya waktu yang tepat untuk mengambil hatimu. 
 
"Gimana tadi Ren?", tanyaku memancing.
 
"Terima kasih, yah"
 
"Terima kasih untuk apa?", aku pura-pura tidak mengerti.
 
Kau menceritakan apa yang melenyapkan senyummu selama berhari. "Sekarang baikan, kan?", tanyaku disusul anggukannya. Aku yakin, tanpa harus kuberikan betapa monotonnya kalimat-kalimat motivasi, kamu telah belajar sendiri dari film tadi.
 
"Sekarang kita kemana, yah?", tanyamu, pertanda kau mulai membuka diri. 
 
"Makan?"
 
"Kemana?"
 
"Warung lesehan di jalan deket taman kota."
 
"Kok tumben kesana?"
 
"Iya, makanannya enak. Selain itu, ada banyak anak-anak jalanan yang bisa kamu temui berlalu lalang di dekat sana."
 
"Anak jalanan?"
 
"Bukan anak jalanan sinetron ya! Tapi anak-anak pengamen yang asik. Nanti kamu bisa pesen lagu kesukaanmu di sana. Mereka bisa lagu apa saja."
 
Pupil matamu membesar. Aku hanya tersenyum. 
 
...
 
Di tempat makan, kau ikut bernyanyi bersama anak-anak jalanan yang menyanyikan lagu untukmu. Mereka tidak terlalu nakal seperti yang orang katakan, bukan? Ada maksudku membawamu menemui mereka. Aku tahu, kau belajar sesuatu dari mereka. Usiamu sudah terlalu dewasa untuk menerima terlampau banyak petuah-petuah dariku yang kutakutkan seolah mengatur-atur hidupmu.
 
... 
 
Begitulah caraku mengambil hatimu, Rendra. Di luar sana, banyak ayah yang terlalu sibuk menghabiskan waktunya untuk bekerja dan terus bekerja. Namun, tak pernah menyisihkan waktu sehari saja untuk putranya.
 
Lagian bekerja kan juga untuk mendapat uang agar bisa membahagiakan keluarga, begitu alasan mereka. Mungkin benar, tapi tidak sepenuhnya. Bagaimanapun, keluarga adalah harta yang paling utama.
 
Di luar sana, banyak ayah yang lebih hafal visi misi perusahaan tempatnya bekerja, namun tak tahu apa yang disukai putranya. Karena yang kulakukan tadi sebenarnya bukan mengambil hatimu, Ren. Kamu sendiri yang membuka hatimu karena telah dihujani apa-apa yang kamu suka. Musik, film, dan buku, yang telah mengambilnya.

  • view 63