Langit Merah Alba

Muhamad Mustain
Karya Muhamad Mustain Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 April 2017
Langit Merah Alba

Ledakan demi ledakan berdentum. Entah dari jarak berapa mil dari rumah kami yang mereka jadikan target selanjutnya untuk kembali membombardir negeri yang dulunya damai ini. Mereka berdalih menumpas pembelot, lalu menyebarkan kabar ke kalian seolah memang benar yang terjadi adalah yang demikian. Padahal, apa yang kami alami dan rasakan, juga fitnah-fitnah yang diciptakan, sungguh terlalu rumit untuk diceritakan.
 
Tengah malam kali ini sepertinya kami harus menahan dulu kantuk yang menggantung di kelopak mata kami. Aku segera membangunkan istri dan anak-anak ketika suara pesawat-pesawat terbang berlalu lalang di atas kota kecil ini. Kami bergegas, tanpa membawa barang apapun, kecuali putra pertamaku yang membawa bola sepak yang dua tahun lalu kuhadiahkan di ulang tahunnya kelima.
 
"Untuk bermain lagi sama Ayah nanti", katanya. Kami dulu memang terbiasa bermain sepak bola di halaman belakang rumah.
 
...
 
Belum ada satupun bantuan datang ke tempat ini untuk melakukan evakuasi. Entah apa alasannya, kami tahu hal ini sering terjadi. Kami melangkah meninggalkan kota yang sepertinya akan diratakan dengan tanah tak lama lagi. Meninggalkan kenangan-kenangan dan kebahagiaan tempo hari yang terlalu berat untuk kami bawa turut serta semuanya.
 
... 
 
Di tengah perjalanan, putra pertamaku tiba-tiba berhenti, duduk menekuk lutut dan menenggelamkan wajahnya.
Aku bercangkung di hadapannya, mengelus pelan rambutnya. Dia mendongakkan kepala, dengan air mata yang telah mengaliri tebing pipinya.
 
"Ayah, kemana lagi kita harus berjalan? Tempat mana yang membuat kita aman?", tanyanya dengan nafas terisak.
 
"Dimanapun kamu bisa tidur dengan tenang, dan kita melaksanakan shalat Subuh nanti tanpa ancaman.", jawabku.
 
Kedua tanganku memegang pipinya yang terlihat tirus. Mengusap air mata yang berjatuhan. Aku merasa berdosa mengajaknya yang selama seminggu ini memang sedang sakit. Tapi, harus bagaimana lagi jika kami tak memilih pergi?
 
Aku menggendongnya di punggungku. Putra kedua kami yang masih bayi terjaga dan merengek di gendongan ibunya.
 
... 
 
Kami sampai di kota Alba ketika adzan Subuh berkumandang. Kota Alba sebenarnya tak jauh dari kota kami--hanya bersebelahan. Kami memilih untuk singgah sejenak, melaksanakan salat karena kami rasa kota ini tak akan dijadikan target serangan.
 
Istriku sedang berhalangan, sehingga aku memintanya untuk tetap menunggu di halaman luar masjid, bersama orang-orang yang telah berjaga jika terjadi apa-apa.
 
... 
 
Masjid ini terlalu ramai menampung jamaah, yang mungkin banyak yang juga mengungsi sebagaimana kami. Aku berada di samping putra pertamaku, di shaf tengah.
 
Salat Subuh dilakukan dengan khusyu dan khidmat sebelum suara-suara pesawat itu melintas di langit kota ini.
 
Kami tetap bergeming. Memasrahkan hati sepenuhnya. Sang Imam membacakan surat Al-Anfal ayat 38 sampai 40 di rakaat kedua, lalu membaca Qunut Nazilah sebelum sujud. Kami tenggelam dalam isakan tangis masing-masing.
 
Suara pesawat berlalu lalang masih terdengar di langit Alba, tepatnya di atas masjid ini. Qunut Nazilah masih dibacakan dengan suara parau, dan isakan yang beberapa kali tertahan.
 
... 
 
"Allahummansur Islam wal Muslimin"
 
... 
 
Tepat di ujung kalimat, pesawat mengentakkan bom di masjid. Imam masjid gugur terkena serangan yang terlalu mendadak ini. Teriakan takbir terdengar bersahutan. Sementara sisa-sisa kaki yang masih kokoh berdiri, tetap mencoba menuntaskan kewajibannya ke Ilahi.
 
Seorang pengganti Imam melanjutkan bacaan Qunut Nazilah. Kami semakin terisak, tenggelam dalam keberdayaan sembari meminta kekuatan.
 
Salat Subuh di kolong langit Alba, berakhir pilu.
 
...
 
Aku dengan sigap membopong putra pertamaku berlari ke luar masjid, mencari ibunya. Tangisan kami pecah ketika kami melihat dua orang yang kami kasihi juga gugur dalam kejadian ini.
 
Aku mencium kening putraku. Mengusap rambutnya. Mendekapnya dalam dadaku yang sebetulnya juga remuk.
 
Aku mendongakkan kepala dengan mata berkaca. Pesawat-pesawat itu telah lenyap dari langit Alba yang kini memerah.
Kami menanti pertolongan di Alba, sementara aku masih terus menenangkan putraku. Menguatkannya, menjanjikannya bahwa bantuan akan datang sebentar lagi.
 
"Ayah, aku mau tidur.", katanya tiba-tiba.
 
Aku mendekapnya dan menidurkan kepalanya di pundakku yang berguncang. Hingga kusadari, bahwa perlahan tubuhnya menjadi dingin. Satu-satunya harta terakhir yang kupunyai kini juga telah pergi.
 
Tim evakuasi datang sekitar sepuluh menit kemudian. Hari itu juga, aku menahan sakit luar biasa dalam dadaku saat harus melepas kepergian seluruh anggota keluargaku. Mereka dikuburkan dalam satu liang lahat yang sama. Namun, aku harus mengikhlaskan semuanya.
 
Tim evakuasi mengantarku kemudian ke kota Ercava, salah satu kota yang masih utuh dan entah bagaimana selanjutnya. Matahari telah terbenam ketika aku tiba di sana. Salah seorang dari tim evakuasi di titik pengungsian mendatangi dan membantuku yang berjalan terseok-seok.
 
"Kau datang sendiri. Mana keluargamu?"
 
".... Mereka telah aman di dalam hatiku."
 
...
 
(Terinspirasi dari sebuah komik yang menceritakan peperangan di Timur Tengah)


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Kerennya tulisan ini adalah menangkap penderitaan kaum Muslim di Alba, kota yang disebutkan dalam cerita ini, secara seperlunya, tidak dibuat dramatisir dengan tetap sanggup menghadirkan rasa pilu dan getir selama menikmati tulisan ini.

    Berkisah tentang tokoh utama sekaligus narator dalam cerita ini, fiksi karya Muhamad Mustain ini menampilkan pelajaran tentang keyakinan terhadap Alloh swt, semangat rela mati demi Islam, cinta keluarga dan keikhlasan yang luar biasa. Saat sholat pun dalam bayang-bayang kematian, fiksi ini terasa cukup mencekam, sukses membawa pembaca membayangkan bagaimana jika berada dalam situasi tersebut. Secara keseluruhan, alur cerita seru, pilihan kata yang pas membuat cerpen berhasil berbicara banyak tanpa bertele-tele. Sip keren, Muhamad!