Chapter 3 : Saat Kau Memintaku untuk Membenci Islam

Muhamad Mustain
Karya Muhamad Mustain Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Maret 2017
Chapter 3 : Saat Kau Memintaku untuk Membenci Islam

Lea, aku memang bodoh, aku memilih untuk berlari menghindarkan diriku dari muslim yang meneriakiku tadi. Jika kau berpikir bahwa aku lelaki yang tak siap menanggung risiko dari apa yang telah dilakukannya, nyatanya memang demikian. Aku pun terlalu cengeng. Menangis sesenggukan--menyadari seolah aku melarikan diri dari apa yang telah Tuhan berikan, dari hidup yang telah apa saja berkecukupan.

Aku tak tau bagaimana kelanjutan pencarian ini, Lea. Aku semakin panik mengetahui dompetku juga tertinggal di masjid tadi. Aku tak kuasa memikirkan bagaimana reaksi muslim-muslim itu saat mendapati rosarioku, atau membaca kolom agama yang ada di kartu pengenalku.

Aku mengasingkan diri di teras gereja kecil di kota yang kusinggahi saat ini. Terus menangisi sesuatu yang benar-benar tak pernah kumengerti. Memetik dedaunan dan mencari kain-kain di sekitar tempat sampah. Mencoba menutup luka akibat pecahan kaca di kakiku.

*****

"Lelaki harus kuat dan tangguh, sayang." Kau masih mengelus-elus lembut punggungku. Tak lama kemudian, tanganmu merengkuh pundakku. Sementara aku masih terduduk menunduk. Air mata meleleh di tebing pipiku. "Papi pasti tenang di sana. Sudah ya sedihnya? Sudah sehari kepergian Papi, loh. Aku juga butuh kau kuatkan. Kamu harus kuat."

"Aku kehilangan panutan. Sosok lelaki yang tangguh."

"Jangan bilang begitu." Suaramu lembut. Entah apakah karena berhati-hati, seolah kau takut membuat hatiku makin sakit. "Ada Yesus di hatimu.  Dia datang menebus dosamu. Dia tentu bisa menjadi panutanmu, betapa keras perjuangannya dulu."

Aku hanya mengangguk. Tersenyum seadanya. Mengusap kesedihan yang masih tersisa di pelupuk mata.

*****

Ingatan-ingatan itu berkelebat dalam benakku, Lea. Senyummu dan senyum papi bergantian seperti slide yang membuat hatiku makin tak kuasa menanggung betapa beratnya merindu. Apalagi ketika kulihat foto kita berdua yang masih menghias di layar utama ponselku, sebelum aku membuka lagi ayat yang tadi sang ustadz bacakan.

Ketika aku mengusap layar ponselku untuk mencari ayat itu, aku menemukan ayat AlQuran yang lebih indah, Lea. Tepat sebelum ayat yang tadi dibacakan.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Aku tak mengerti apa maksudnya sebelum aku membaca artinya : "Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar."

Lea, apakah sebenarnya aku telah menganiaya diriku sendiri? Apakah sebenarnya bukan Muhammad yang hadir dalam mimpiku? Badanku masih terkulai lemah di teras gereja ini, sebelum semuanya menghitam.

...

 

  • view 53