Filosofi Air

Muhamad Mustain
Karya Muhamad Mustain Kategori Budaya
dipublikasikan 22 Maret 2017
Filosofi Air

Le, hidup ini sudah makin hari makin susah. Banyak orang yang berpura-pura baik, tapi sebenarnya menyimpan niat jahat. Banyak yang sudah lupa kudratnya jadi manusia, sampe-sampe sering gak memanusiakan manusia lainnya. Tapi, le, kamu anak paling kecil ibuk yang paling polos, sekarang ibuk pikir kamu sudah cukup dewasa untuk membicarakan soal hidup lebih serius. Karena ibuk mungkin gak punya waktu yang lama lagi untuk tetep bisa ada di sampingmu. 

Gak banyak yang mau ibu katakan, le. Biar kamu gak harus mengingat banyak-banyak. Yang penting, jangan gampang dipengaruhi dunia.

Ingat pepatah nenek moyang kita ya, le. Golèk banyu bening. Mencari air jernih. Cari air jernih untuk mengisi hatimu. Carilah panutan yang gak cuma bener, tapi juga pener*. Karena bahkan setan bisa berpura-pura jadi panutan. Cari guru yang bisa digugu* dan ditiru.

Le, suatu saat bakal ada sosok gadis yang bakal dampingin kamu gantiin ibuk. Menyiapkan sarapan buat kamu, ngompres kepalamu pas badanmu panas, sampai berdoa di tengah malam untuk menguatkan kamu. Kalau nanti ibuk dikasih umur panjang, jangan lupa untuk beri kabar ke ibuk. Ibuk masih pengen liat anak ibuk jadi bapak yang baik bagi anak-anaknya, seperti bapakmu yang udah pergi dulu meninggalkan kita semua. Ibuk sebenarnya ingin tinggal serumah sama kamu. Tapi ibuk ga pengen merepotkan kamu, le. 

Kelak, kamu yang bakal jadi panutan bagi istri sama anak-anakmu, le. Kalau kamu menyayangi mereka, jangan jadi panutan yang buruk bagi mereka. Jangan lupa tetep belajar. Jadi bapak yang pinter dan bisa dibanggakan anak-anaknya. Jadi banyu bening buat keluarganya.

Satu lagi, le. Ojo ngubak-ubak banyu bening. Jangan memperkeruh air bening. Jangan mengotori tempat yang tentram. Jadi bapak nanti gak cuma hubunganmu dengan istri dan anakmu. Tapi juga hubunganmu sama keluarga istrimu. Hubunganmu sama tetanggamu. Jadilah tetangga yang grapyak*. Sering bagi makanan ke tetangga. Ingat kalo pagar mangkok* lebih kuat dari pagar besi. Jadilah mantu yang baik, yang manut tapi ya kalo bisa jangan nunut*. Kalau hatimu tentram, insyaAllah sekitarmu juga akan tentram.

Mungkin itu aja, le. Maaf ibuk sudah ganggu waktu sibukmu karena terlalu banyak ngomong. Ibuk yakin kamu udah dewasa untuk menentukan pilihan hidupmu sendiri. Tetap doakan bapak. Tetap kabari ibuk.

Ibuk sayang kamu.

 

 

Keterangan :

*pener : tepat, digugu : dipercaya, grapyak : ramah/supel, pagar mangkok : rumah dijaga oleh tetangga yang sering kita beri kebaikan (dalam hal ini disimbolkan dengan mangkok, sebagai wadah makanan yang kita berikan)

  • view 89