Chapter 2 : Tak Sampai Nalar (dari cerbung "Ketika Cinta Bermatematika")

Muhamad Mustain
Karya Muhamad Mustain Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Maret 2017
Chapter 2 : Tak Sampai Nalar (dari cerbung

Keyra, meski aku tak percaya dengan jatuh cinta, sejujurnya ada gemuruh yang kurasakan ketika melihatmu berjalan masuk ke perpustakaan. Diam-diam, aku suka melihat nyala matamu ketika melihat buku-buku. Dari jauh kadang aku senyum-senyum sendiri melihat muka seriusmu membaca berlembar buku matematika di hadapanmu. Meski demikian, aku tidak percaya apalagi langsung menyimpulkan bahwa ini jatuh cinta, Keyra. Tapi, demi apapun itu, aku seperti sedang gila. Lebih tepatnya, tergila-gila.

Buku kali ini yang kau baca adalah "Introduction to Real Analysis" yang disusun oleh Robert Gardner Bartle. Aku melihatmu di balik buku dari rahim yang sama dalam matematika analisis : buku berjudulkan "Introduction to Mathematical Statistics" disusun oleh Robert Vincent Hogg.

Penamu menari-nari di tangan. Menulis sesuatu di secarik kertas. Mukamu kebingungan beberapa kali.

Aku berdiri dari tempat duduk. Berpura-pura mengembalikan buku padahal sebenarnya hendak melihat apa yang sedang kau lakukan. Entahlah, sebenarnya aku tidak merencanakan sedemikian. Hanya saja, seolah kakiku menentukan arah langkahnya sendiri.

"Sequence and Series. Euler's Number." Begitulah sekilas kubaca dari buku yang kau buka.

"Euler's Number : We conclude this section by introducing a sequence that converges to one of the most important ''transcendental" numbers in mathematics, second in importance only
to it." (Introduction to Real Analysis by Robert G. Bartle)

*****

Keyra, aku meyakini bahwa jatuh cinta adalah sesuatu yang tidak rasional, tidak nyata, dan tidak bernalar. Begitulah kenapa aku lebih percaya pada sesuatu yang rasional. Namun, apakah kau percaya bahwa sesuatu yang rasional akan selamanya tetap rasional?

Sayangnya, aku melupakan tentang bilangan euler ini, Keyra. Bilangan ini konon memegang peranan paling penting di matematika.

Aku menemukan sesuatu dari bentuk (1+1/n)^n. Jika kau memasukkan n sama dengan 1, 2, dan seterusnya, kau akan menemukan hasil pecahan rasional darinya.

Namun, jika kau memasukkan n menuju tak hingga, kau akan mendapat bilangan e (euler). Bilangan irasional, bahkan sekaligus bilangan transenden. Transenden, jika tak salah dalam KBBI disebutkan sebagai sesuatu di luar nalar manusia.

Keyra, rasa-rasanya efek kedatanganmu sedahysat bilangan euler. Aku tak sedang menggombal.

Keyra, bahkan bilangan euler ini dapat dihasilkan dari penjumlahan bilangan-bilangan rasional dengan bentuk 1/n! (n! adalah n faktorial, artinya n x (n-1) x (n-2) x ... x 2 x 1). Jika kita menjumlahkannya dari n=1 sampai n sebesar mungkin, kau akan menemukan bahwa hasilnya mendekati bilangan euler.

Tak terpungkiri, Keyra. Sesuatu ini memang tak sampai nalar. Seperti halnya kedatanganmu, yang sedahsyat bilangan euler!

*****

Aku mengambil buku "The Theory of Interest" karya Stephen Kellison. Melangkahkan kaki, dengan detak jantung yang serupa fungsi Weierstrass. Tak keruan.

Keyra, butuh waktu dan helaan nafas panjang sebelum akhirnya aku memberanikan duduk di sampingmu.

..."Kadang kamu bisa menemukan bilangan euler di berbagai hal di matematika.", kataku sembari menarik kursi di sampingmu, kemudian duduk. Kau agak terperanjat. Menggeser sedikit kursimu.

"Tak apa. Santai saja." kataku sembari mengulurkan tangan. "Rehan". Aku mengulurkan tangan.

Kau menelungkupkan tangan. Tak membalas menjabat. "...Keyra", katamu singkat.

"...Maaf", aku kikuk. Pipiku memerah. Maaf, Keyra. Aku belum pernah memulai pembicaraan dengan gadis duluan. Bahkan sepertinya memulai pembicaraan dengan membahas matematika adalah ide buruk.

Kau terkekeh pelan.

"Jurusan Matematika?", kataku berbasa-basi. Kau hanya mengangguk.

"Sama", sambungku lagi.

"Kok aku gak pernah liat kamu?", akhirnya kau menanyakan balik. Aku bersorak dalam hati. Setidaknya pembicaraan ini tidak seperti tanya jawab wawancara.

"Aku program studi Statistika. Kamu?"

"...Aku Matematika."

"Aku tau.", aku tersenyum. Kau bermuka datar. "Kau sering mengambil buku di sisi barat dari rak itu." kataku sembari menunjuk ke rak buku yang kumaksud.

"... Kau.... memperhatikanku?"

".... Oh, bukan. Bukan. Maksudku, sering lihat saja. Aku hanya menebak.". Aku mencoba untuk tetap tenang. "Aku sering di sini", sambungku.

"Oh...Syukurlah."

...

"Menyambung yang tadi. Bilangan euler banyak dipakai di matematika.", kataku setelah beberapa detik hening.

"Oh ya?", matamu melebar. Rambut-rambut tipis menyisip di balik kerudungmu. Aku menunjuk ke arahnya.

"Maaf", katamu singkat sembari merapikan kerudungmu.

"Bahkan pertumbuhan rambutmu bisa dimodelkan dengan bilangan euler berpangkat, loh. Biasanya disebut eksponensial."

Kau hanya tersenyum.

"Di buku ini, bilangan euler digunakan untuk menghitung bunga bank yang diperoleh nasabah sepanjang waktu terus menerus atau kontinu.", kataku sembari menunjukkan buku "The Theory of Interest" yang tadi kubawa.

"...Bagaimana bisa?", tanyamu.

"Menggunakan limit bilangan alam. Karena bentuknya bunga majemuk atau bunga berbunga, trus bunga yang kita dapet ga cuma tiap detik tapi tiap waktu berjalan."

Kau diam seribu bahasa.

"Saking rapatnya, bisa dianggep kita mendapat tak hingga bunga dalam suatu waktu. Makanya nanti dimodelin pake rumus bunga dengan periode n menuju tak hingga."

Kau masih diam.

"Di ilmu statistika, bilangan euler muncul berkali-kali. Di fungsi kepadatan peluang, fungsi yang dipakai untuk memodelkan peluang suatu kejadian acak."

Sekarang kau terlihat menggaruk-garuk kepalamu.

...

"Maaf, Rehan. Aku harus pulang sekarang. Udah ditungguin temen di depan.", katamu tiba-tiba.

"Oh. Ya sudah." aku mengangguk. "Baiklah".

"Duluan ya.", katamu sembari melenggang pergi meninggalkan aku sendiri.

...

Ah iya, Keyra. Aku lupa memberitahumu. Bilangan euler dipangkatkan dengan pi dikalikan i dijumlahkan satu adalah nol.

Jika kau adalah euler, aku siap menjadi seirasional pi dan seimajiner i. Untuk dipasangkan denganmu, lalu dijumlah satu sebagai kesatuan dan identitas. Klop! Kita akan senetral nol.

...

Ah, Keyra. Kenapa aku jadi segila ini? Ah ini pasti gara-gara kamu yang semisterius bilangan euler!

  • view 75