Jangan Jadi Hakim di Indonesia, Udah Kebanyakan!

Muhamad Mustain
Karya Muhamad Mustain Kategori Psikologi
dipublikasikan 20 Maret 2017
Jangan Jadi Hakim di Indonesia, Udah Kebanyakan!

Barangkali Badan Pusat Statistik (BPS) harus merevisi datanya yang menyebutkan bahwa Indonesia masih didominasi pekerja di bidang pertanian. Karena nyatanya berdasar survey kecil-kecilan yang saya lakukan dengan responden seenaknya, dan tingkat kepercayaan "sing penting yaqin", banyak masyarakat kita yang sekarang jadi "melek hukum". Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya orang yang berbondong-bondong menjadi "hakim", spesialisasi atau berkonsentrasi di dunia maya. Meski tak sedikit juga "hakim" yang bekerja di dunia nyata.

Jangan salah, "hakim-hakim" ini memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang menghakimi. Gambaran paling jelas dari kemampuan mereka kadang ditunjukkan dan dipromosikan melalui sinetron yang begitu mendidik. Mungkin Anda pernah melihat segmen dalam sinetron ketika ada sekerumun orang kampung mendatangi rumah orang yang terduga melakukan kesalahan membawa garu dan obor. Selanjutnya si terduga bersalah akan dihakimi habis-habisan, dibakar hidup-hidup, bahkan ada yang harus disunat dua kali. Ya, selain sebagai "hakim", orang-orang kita juga ternyata multitalent dan dapat pula menjadi tukang bakar atau mantri sunat.

Jika kalian belum melihat aksi "hakim" ini di dunia maya, mungkin kalian sempat menemukannya di kasus yang sempat viral beberapa hari ini. Yaktul, munculnya video bunuh diri yang direkam dan ditampilkan secara live kemarin sontak membuat dunia maya geger tak keruan. Video yang mengandung graphic content ini membuat Facebook bergerak cepat menghapus video ini. Hanya saja, dengan lugunya, beberapa orang reupload video dengan tujuan meraup jempol dan share yang bejibun tanpa melihat mendalam gimana efeknya.

"Hakim-hakim" ini sempat mengeluarkan kalimat saktinya. Dia berbagi sedikit kebaikan dengan mengingatkan bahwa bunuh diri akan masuk neraka. Tak jarang dia juga menunjukkan kekuatan dirinya, "ini liat aku pernah punya masalah yang lebih berat tapi masih kuat", penanda telah survive. Menunjukkan dirinya sebagai inspirator.

Hanya saja, saya mungkin akan menyarankan kepada pemerintah setempat. "Hakim" kita ini harus diberi pelatihan ilmu psikologi. Ringan saja.

Di ilmu psikologi, soalnya sangat haram hukumnya untuk menghakimi orang yang lagi punya masalah. Sebenernya ini biar adil aja sih jadi "hakim"nya. Karena nyatanya ga adil kan kalo kita mengadili orang dari standar yang kita ciptakan sendiri?

Orang yang lagi down banget emang belum bisa berpikir jernih buat menerima nasihat, apalagi cacian. Makin dipojokin, makin dia ngerasa inferior banget. Jadi, sebenernya dia ga butuh nasihat loh, rata-rata cuma butuh didengarkan, ditemenin, dan didukung.

"Hakim" ini beberapa hari ini juga ada yang beraksi di dunia nyata. Beberapa dari mereka bahkan sangat berdedikasi hingga masih bekerja di antrian minimarket. Mereka akan menanyai orang-orang yang menggunakan foto anak kecil sebagai wallpaper ponselnya. Pertanyaan untuk menjaga keamanan dari keresahan yang terjadi belakangan ini : "mas pedo ya?". Bahkan beberapa sangat profesional hingga akan melaporkan hasil temuannya ke polisi. Ketika sadar foto anak kecil itu ternyata foto anak yang tertuduh, mereka akan langsung pergi tanpa meminta maaf. Bukannya mau kabur, namun menjaga keamanan dari para pedo yang mungkin ada di tempat lain.

...

Nah, gimana, udah bisa dilihat kan betapa profesional dan terlatihnya "hakim" yang ada di Indonesia? Dengan jumlah yang sebegitu banyak, otomatis dunia kerja jadi makin mencekam. Kalo kalian kepikiran nanti gedhe mau jadi hakim, tolong pikirkan dan pertimbangkan lagi. Nanti banyak saingan loh~

  • view 71