Saat Kau Memintaku Untuk Membenci Islam

Muhamad Mustain
Karya Muhamad Mustain Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Maret 2016
Saat Kau Memintaku Untuk Membenci Islam

(Remake from "Seribu Malam untuk Muhammad" by Fahd Pahdepie.)

...

Lea, sejujurnya semenjak aku memutuskan untuk pergi, tiap malam setelahnya kadang aku kembali teringat saat masih bersamamu dulu. Tentu saja akan sangat sulit untuk melupakan entah berapa malam yang telah kita lewatkan. Di rumah kecilmu itu, banyak kenangan yang telah kita simpan, berbagai kisah telah kita rangkai. Kadang, di satu kesempatan, jika kamu menemukan resep masakan baru dari internet, kita belajar memasak bersama dan menikmati hasilnya sembari menonton TV.

*****

Adakah kamu masih ingat? Suatu malam, kita tengah menonton berita tentang serangan kelompok yang dicap sebagai teroris di daerah timur tengah yang rawan konflik.
"Islam." mukamu kesal. "Kenapa sih mereka suka nebarin kebencian?"
Aku diam, memandangmu heran.
"Apa sih yang mereka cari sebenernya? Kayaknya kebencian yang mereka sebarin juga tanpa alasan.". Aku masih diam menatapmu sambil menikmati sup makaroni buatanmu, sampai kau bertanya, "gimana menurutmu, Ndra?"
"Menurutku?". Aku meletakkan mangkuk sup. "Gimana kalau ternyata ini berita dibuat untuk memfitnah dan memojokkan mereka?"
"Maksudmu?". Kau memicingkan alis.
"Yah, namanya juga dunia, Lea. Bisa aja ada yang bikin skenario di balik semua ini, kan?"
"Mana ada, Ndra? Haha."
"Bukannya daerah Timur Tengah kaya sumber daya alam, ya? Maksudku, logis juga kalau karena itu alasannya. Ya kayak dua orang cewek A sama B yang ngrebutin cowok, trus si B bikin-bikin berita buruk tentang cewek A." kataku sambil memainkan jemariku untuk mengilustrasikannya. "Otomatis pada gasuka tuh sama si A, bahkan bisa-bisa cowok incerannya juga ga suka. Akhirnya si B lebih mudah buat dapetin cowok itu. Yah mungkin hubungan diplomasi antar negara juga ada kayak gitu lah."
"Hahahaha. Mukamu, ndra, sumpah lucu banget kalo ngomong serius gitu. Kau ini tahu apa soal hubungan diplomasi gitu-gituan, Ndra." Kamu terpingkal-pingkal, sementara aku pura-pura bersiap mengguyurkan sup panas ke mukamu. "Andai ga ada Islam, kayaknya dunia bakal damai-damai aja ya, Ndra?"
"Emm. Gimana ya? Takut juga kalau ternyata pas kita kira dunia damai, tapi ternyata ada yang gak beres. Gima-"
"Tuh, tuh. Lucu banget mukamu kalo pas serius. Hahaha." katamu memotong ucapanku.
"Bentar, aku belum selesai." Aku meninju lenganmu pelan. Kau tertawa, melempar bantal. "Gimana kalau ternyata bukan mereka sumber penebar teror dan kebencian? Maksudku, logis juga kalau mereka bertindak begitu sebagai reaksi dari apa yang mereka terima." Aku menyendok sup memberi suapan ke kamu, dan kamu tersenyum sebagai bentuk reaksimu. "Entah siapa yang menebar teror pertama kali, kita kan ga tahu dari sudut pandang mereka juga. Lagian, emang kamu mau hidupmu dibully mulu sama seseorang trus kamu selalu diem aja? Pasti ada masa kamu bereaksi kan?"
Kamu mengangguk-angguk. "Ya, iya, sih. Tapi, emang gitu realitanya?" katamu dengan mulut penuh makaroni.
Aku hanya mengangkat bahu tanda tak tahu. Bukankah kita tak pernah tahu banyak tentang Islam, Lea? Lantas kenapa kita begitu mudahnya menilai mereka hanya dari media yang kita lihat, dengar, dan baca? Lantas kenapa kita mudah menghakimi mereka dengan pemahaman kita yang terbatas?

*****

Lea, kenapa aku mengingat malam itu?
"Semenjak kenangan malam itu, saat aku pamit pulang dan tidur, aku mengalami kejadian itu, Lea. Kejadian yang benar-benar membuat beberapa tahunku kemarin sangat berat dan resah.
Aku bermimpi berada di suatu padang tandus yang sangat panas. Aku merasakan dahaga yang teramat sangat sampai seseorang menolongku. Wajahnya sangat bercahaya, senyumnya sangat tulus, tubuhnya tak gemuk tapi juga tak kurus, dan belum pernah aku melihat laki-laki seperti itu dalam hidupku.
"Apa yang lebih besar dari iman?" tanyanya, dan aku hanya bisa menjawab "tak tahu".
"Apa yang lebih besar dari iman?" tanyanya lagi, dan aku lagi-lagi hanya bisa menjawab "tak tahu".
Kemudian, dia memberikan segelas air padaku, "Minumlah, kamu membutuhkannya", katanya sambil tersenyum. Seketika aku meminumnya, aku merasakan diriku dihinggapi perasaan yang amat sejuk, dan sel-sel mati dalam tubuhku terasa hidup lagi. "Kebaikan, melebihi apapun. Aku menyebutnya ihsan." sambungnya.
Lalu dia berbalik badan, meninggalkanku sendirian. Dan aku hanya bisa menatap punggungnya menjauh, menjauh, hingga aku merasakan sedih dan kehilangan sosoknya. Sosok yang entah kenapa kuyakini itu sebagai Muhammad, nabi dan rasul terakhir umat Islam.
Jika bertemu Muhammad dalam mimpi adalah mimpi yang suci bagi umat Islam, kenapa aku dipilih untuk merasakannya juga?

*****

Lea, bagaimana rasanya bila suatu hari kamu harus belajar kebencian dari seseorang yang engkau cintai?
...
"Tuh kan teroris lagi." katamu saat kita menonton berita di televisi tempat makan langganan kita. "Udahlah, Ndra, kayaknya emang kita harus hati-hati deh sama Islam. Yang kayak gitu tuh harus kita benci."
"Kenapa?"
"Ya, karna aku gak suka Islam." katamu.
"Islam tak seperti itu, Lea."
"Tahu apa kamu soal Islam, Ndra? Haha."
"Islam tak seperti itu, Lea."
"Oke oke. Kalau kamu ga sepaham sama aku, yaudah. Tapi, aku tetep. Kan kenyataannya udah jelas, Ndra? Kau bisa liat sendiri."
"Islam tak seperti itu, Lea!!!", sentakku, hingga tanpa terasa, air mataku meleleh.
Semua pasang mata di meja-meja makan sebelah menatap ke arah kita. Kau diam, menatapku dengan tatapan yang aneh, entah merasa apa. Kulihat kau menggigit bibir bagian bawahmu, dan mengangguk-angguk. Hingga setelahnya, kau diam, pergi dari tempat itu. Tanpa pesan apapun.
Aku menangis membela Islam? Aku diam, ini tak mungkin. Tak mungkin aku sakit ketika Islam dibenci. Tak mungkin. Sementara air mata itu terus meleleh.
Aku memang sakit. Aku tak bisa menolak perasaan itu, seperti yang telah kulakukan saat beberapa kali menolak mimpi itu. Namun, bayangan Muhammad terasa semakin lekat dalam relung hati dan ingatanku.
...
Sekali lagi, Lea, bagaimana rasanya bila suatu hari kamu harus belajar kebencian dari seseorang yang engkau cintai? Bayangan Muhammad di mimpiku membuatku yakin bahwa sebenarnya Muhammad yang dicintai umat Islam tak pernah sama sekali mengajarkan kebencian dalam Islam. Tapi, kamu, yang kucintai, kenapa memintaku untuk membenci Islam?

*****

Sejak saat itu, memang kita telah jarang berkomunikasi. Terakhir, kau meminta maaf atas kejadian malam itu, sementara aku tak membalas apa-apa -karena aku merasa itu bukan kesalahanmu terhadapku- sampai surat ini datang untukmu.
Justru, maafkan aku yang dengan sengaja menjauh darimu selama dua tahun. Itu karena suatu alasanku. Semenjak pengalaman mimpi itu, aku memutuskan untuk melakukan pencarian tentang sosok Muhammad. Entah kau akan berpikir apapun tentangku, namun aku telah jatuh pada kebaikan sosok Muhammad dan merindukannya saat terakhir kutatap punggungnya di mimpi itu.
...
Kepergian, lambaian tangan, atau salam perpisahan selalu seperti tak punya perasaan; apalagi jika kau melakukannya tanpa pesan. Tapi waktu, semua akan berlalu; yang tersisa tinggal kenangan.
...
Aku kehilanganmu, Lea. Tapi, aku juga kehilangan sosok Muhammad.
Aku yakin kamu akan mengerti. Islam tak seperti itu, Lea.

Keterangan :
Kata yang dicetak tebal diambil dari buku "Seribu Malam untuk Muhammad" karya Fahd Pahdepie.

  • view 181