Identitas sebenarnya

Nurul Aulia
Karya Nurul Aulia Kategori Renungan
dipublikasikan 08 Agustus 2017
Identitas sebenarnya

Who Are You?
#identitassebenarnya
#siapakita
 
 
Identitas Sebenarnya!
Siapakah kamu? Wahai yang bertitel sederet nama yang kau banggakan. Pernahkah teringat jika seyogyanya hidup tak selalu utuh, kadang berjalan maju, mundur, bahkan berada di urutan terbelakang, 


Masih terasa perjalanan mendaki ku beberapa hari lalu, entahlah, aku jadi seperti ini. Bukan hal buruk jika aku menyukai dunia baruku. Aku menyukai alam, tebing, air yang deras, batu yang besar, perjalanan yang curam nan berliku, terjatuh dan tersungkur, terkena badai, merasakan hembusan angin yang menyusup sampai sari-sari tulang belulangku, debu yang menyapu wajahku, sengatan panas yang memberi merona hitam di wajahku, juga tentang bintang dimalam hari yang bisa kutunjuk seolah semua tepat hanya untukku, juga tentang mentari yang datang dan dapat ku tatap lekat di depan mataku. Aku tak pernah tahu persis sejak kapan aku menyukainya. Beberapa tahun telah berlalu, dan aku membiasakan diri, dalam jejak yang kutinggal untuk diriku sendiri. Mungkin aku egois, mungkin aku penikmat kesendirian dan penyepi. Entah, aku tak dapat menerawang jelas alasannya. Yang pasti aku menyukainya. 

Aku pernah menyukai sesuatu hal, yang akhirnya membuat aku terjatuh. Aku pernah mempercayai sesuatu hal yang akhirnya membuat aku tenggelam. Kata orang sikapku sungguh egois, berkecamuk hanya dengan salah satu saja. Hanya terfokus dengan dunia yang menurut ku itu yang terbaik. 

Kala aku merasa sesak tak kutemui tempat untuk meluapkan emosi dan kekecewaan maka bagiku, bertemankan alam adalah jawabannya. Bagiku itu adalah cara terbaik. Ketika aku merasa kecewa, dan tak berdaya maka di saat perjalanan itu pula aku merenung. Bolehkah jika aku merasa demikian? Salahkah jika aku saat ini hanya ingin seperti ini. Seolah aku adalah jawaban dari semua pertanyaanku sendiri. 

Tak banyak orang tahu, jika seseorang dalam menemukan jati dirinya terkadang berbuat hal nekad, mungkin itu hanya dorongan naluri dan pikiran yang membuat dirinya merasa tertantang. Banyak versi yang kutemui dan aku tegaskan tak ada seorang pun yang berhak melarang tentang kearifan masa muda jati dirnya.

Mungkin kamu, menyukai hal hal yang berbanding terbalik dengan caraku, silahkan saja ikuti apa kata hatimu dan ikuti aturanNya. Terkadang tanpa kita sadari menyendiri sejenak tanpa harus kita luapkan isi hati kita pada seseorang yang bernama kawan itu terasa ada nilai lebihnya. Kamu tahu, bersikap demikian adalah wajar. Bukan berarti kita tak butuh teman, tapi cobalah sejenak kamu pikirkan apa yang kamu cari sampai hidupmu usia menjelang tua nanti, hobimu yang kau sukai saat ini, dan tentang siapa dirimu sendiri.

Teman sejati manusia adalah kesendiriannya. Tanpa kita sadari kesendirian adalah hal terunik yang diberikan cara Tuhan pada hambanya. Ia adalah sebuah keistimewaan. 

Aku terkadang begitu, merasa cape, lelah, dan hanya ingin yang instan- instan saja. Tapi manusiawi bukan? Karena itulah hakekat manusia. Setiap orang menginginkannya.

Aku membayangkan bagaimana jadinya jika semua orang berpikiran seperti itu, mungkin itulah sebabnya mengapa Tuhan memberi kita persamaan dan perbedaan. Agar kita tahu makna tujuan dari diri kita sendiri. Setiap orang merasa terkungkung kala sesuatu hal hilang atau bahkan lenyap dari dirinya. Apa sebenarnya yang kita punya? Jika dipikir- pikir tidak ada dan tidak pernah ada!  Salah satu dosen kampusku selalu mengatakan “ Kita hidup bukan memiliki segalanya tetapi segala yang kita miliki saat ini memiliki manfaatnya”. 

Kita harusnya merasa malu, jika merengek menginginkan sesuatu dan merasa malas tak butuh jika apa yang kita mau tak terwujudkan. Dimana letak rasa syukur kita? 

Kita lebih sering lupa dibanding ingatnya. Disadari atau tidak itulah kita. Kita lupa identitas diri kita sendiri. Salah satu teman sependakiku pernah bercerita, pernahkah kita berpikir jika saat ini kita seolah mengundang bahaya untuk diri kita sendiri. Apa tujuan dari pendakianmu, hanya sekedar numpang eksis belaka, atau sekedar ingin bertitel si penggila dan penikmat ketinggian. Hanya sebatas itu? Sungguhlah rugi. Bukankah kita pergi kesini ingin mecapai tujuan kita sampai puncak diatas sana. Lalu setelah diatas sana apa lagi yang kamu mau. Hanya sebatas pulang dan kembali bukan? Tentu dengan harapan selamat. Kamu melupakan satu hal, dan itu adalah proses perjalananmu sendiri. Kita lupa, dari tempat kita berasal kita mati-matian menunjuk ke atas sana, kita siapkan segala perbekalan, kita siapkan segenap fisik dan kantong kita. Lantas apakah kita turun kembali dengan hal yang sama pula. Tentu lah rugi. Sangaaat rugi. Kita lupa saat ini nikmat yang Tuhan berikan lebih dari apa yang kita butuhkan, Tuhan teramat baik, bahkan pada seorang yang kita anggap  buruk sekalipun. Tak pantas dan tak berhak kita
membatasi diri untuk menggali ilmu dari siapapun. Tidak ada yang tahu hidup kita datang, berjalan dan berakhir dimana. Tapi ingatlah seperti perjalanan kita. Kita menunjuk ke atas puncak disana mati-matian berjuang dan kita lupa ketika berada di ujung sana yang bawah terlihat mewah dan tempat yang kita tunjuk justru tiada apa-apanya. Bukankah sesuatu yang indah dapat kita kagumi jika dari kejauhan.

Sudah sejauh mana kita meng-titelkan diri kita pantas menjadi sang hamba yang beridentitas dan berlabel baik. 

Ada hal lucu yang ia tanyakan padaku, bagaimana persiapanmu sampai saat ini. Aku hanya menggeleng kepala, dan ia hanya tersenyum simpul, entahlah apa makna senyumnya itu. Yang jelas maksud pertanyaannya adalah tentang diriku. Ada satu hal yang menohok, dan membuat aku merasa terhenyak. Sebagai muslim (baca: umat yang beragama) hendaklah kita patut untuk bersikap wajar dalam hal apapun, jangan berlebih, baik dalam menyukai dan tidaknya pun dalam kadar yang normal- normal saja. Manusiawi, jika kita merasa kecewa, sedih, kehilangan, tapi cukup, cukup sampai saat itu saja, tak perlu berkepanjangan. Kamu tahu, orang tua kita zaman dulu, yang sekarang kau sebut mereka nenek dan kakek itu ada caranya tersendiri seperti apa harus menanggapi hal- hal yang tentu diluar kekuasaan kita. Tugas kita sebagai manusia dan khalifah. Hanya itu. Sebagai manusia tugas kita adalah mengabdi sebagai khalifah tugas kita adalah bermanfaat. Jangan takut, jika hal- hal buruk datang menghampirimu, bisa jadi itu mungkin akibat dari tingkah laku kita sendiri. Tanpa kita sadari kita yang mengundangnya datang menghampiri. Manusia, berhak menginginkan hal yang berlebih, bahkan mungkin terkadang melampui batasannya.
Tapi ingat, tugas kita adalah yang terpenting bisa bermanfaat. “ Khoirun nas fauhum  linnas” . Kita boleh kok, egois, merasa sedih, kecewa, bahagia karena itu semua adalah hak kita. Tapi ingat, janga pernah lupa dengan identitas kita yang sebenarnya. Manusia kadang melupakan itu. Kamu memiliki tujuan bukan dalam proses perjuanganmu saat ini, kemana nanti dan akan seperti apa. Ciptakan sensasi tujuan mu sehebat mungkin, selayak mungkin, jangan takut, star and action. Memang tidaklah mudah, tetapi jika dijalani dengan ikhlas, hati terbuka semuanya terasa mudah dan tentu ada kepuasan tersendiri. Itu baru ikhtiar yang sesungguhnya. Hasilnya baru kita serahkan, dan kita abdikan diri, hambakan pada sang pemilik segala hamba.

  • view 53