Beragama Secara Esensial

Musdah Mulia III
Karya Musdah Mulia III Kategori Agama
dipublikasikan 03 Maret 2016
Beragama Secara Esensial

Problem paling mengemuka dari umat beragama, termasuk umat Islam adalah mereka tidak menganggap keberagamaan (religiosity) sebagai bagian esensial dari kemanusiaan. Tidak heran jika dewasa ini kita menjumpai orang-orang yang mengklaim diri sebagai ?beriman, namun sangat tidak manusiawi.

Dalam Islam contohnya, dijumpai orang-orang yang rajin ibadah, tapi tidak peduli pada ketidakadilan yang terjadi di masyarakatnya, tidak peduli pada sampah yang menumpuk di sekelilingnya, tidak peduli pada kelaparan tetangganya, tidak peduli pada kekerasan yang dialami keluarganya, demikian seterusnya.

Agama seperti tidak mampu menjawab pelbagai masalah kemanusiaan yang krusial seperti ketidakadilan, kemiskinan, kelaparan, konsumerisme, hedonisme, kekerasan, korupsi dan beragam penyakit sosial lainnya. Agama pun tidak mampu mengikis stigma, prejudice dan perilaku diskriminatif, khususnya terhadap kelompok marjinal, minoritas, dan tertindas. Ajaran tentang keadilan, kejujuran, solidaritas, kepeduliaan, dan kasih sayang hanya terukir indah dalam Kitab Suci, tapi sangat sulit dijumpai dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Semua agama dan kepercayaan seharusnya fokus membawa umat mereka kepada peningkatan kualitas spiritualitas diri yang terefleksi dalam aktivitas dan kerja-kerja konkret yang membebaskan manusia dari semua bentuk penyakit sosial tersebut.

Agama harus mampu mengubah umatnya menjadi lebih peka pada persoalan-persoalan kemanusiaan dan lebih professional dalam memberikan pelayanan kemanusiaan, khususnya terhadap kelompok rentan dan tertindas yang dalam Al-Qur?an disebut? kelompok mustadh?afin.

Demikian pesan-pesan moral dalam Internasional Congress on Listening to Asia di Universitas Urbaniana, Roma. Presentasi saya berjudul Questioning The Book in the World of to Day, Faith and Hermeunetics: the Contemporary Islamic Thought. Kesimpulan dari presentasi tersebut adalah penting bagi semua umat beragama untuk mengkaji kembali pesan-pesan moral dalam Kitab Suci.

Bagi saya, Al-Qur?an memberikan tuntunan yang tegas bahwa semua manusia, tanpa membedakan jenis kelamin, gender, suku, warna kulit, bahasa, dan bahkan agama diciptakan untuk mengembang visi penciptaan yang amat penting sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi). Sebagai pemimpin, manusia diharapkan mampu menata dan mengelola kehidupan di bumi ini dengan sebaik-baiknya untuk kemashlahatan semua manusia, dan hal itu harus dimulai dari kemashlahatan diri sendiri.

Adapun misi utama penciptaan manusia adalah amar ma?ruf nahy mungkar, yakni melakukan upaya-upaya transformasi dan humanisasi demi kesejahteraan dan kemashlahatan manusia yang tentunya dimulai dari diri sendiri dan keluarga inti, lalu kemudian masyarakat luas.

Upaya transformasi adalah sebuah komitmen mentransformasikan diri dan masyarakat ke arah yang lebih baik, positif dan konstruktif. Di antaranya, melakukan aksi-aksi nyata untuk perbaikan dan peningkatan mutu sumber daya manusia, termasuk di dalamnya birokrasi pemerintahan agar dapat melakukan tugasnya melayani kepentingan seluruh masyarakat, terutama kelompok rentan dan marjinal.

Upaya transformasi juga mencakup rekonstruksi budaya agar terbangun budaya yang lebih memanusiakan manusia. ?Selain itu, upaya revisi sejumlah kebijakan publik dan peraturan perundang-undangan yang masih mengandung unsur diskriminatif terhadap kelompok minoritas karena alasan gender, agama, dan etnis harus masuk dalam kerja-kerja transformasi.

Upaya humanisasi mencakup semua kegiatan edukasi, komunikasi, advokasi dan publikasi untuk menghindari kejahatan dan kemungkaran demi kemashlahatan seluruh manusia. Khususnya berupa perbaikan kualitas pendidikan di semua tingkatan sehingga mewujudkan masyarakat terdidik yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Itulah makna perintah amar ma?ruf nahy munkar bagi semua manusia tanpa kecuali. Karena itu, semua manusia tanpa ada sekat sedikit pun diharapkan mampu bekerjasama secara tulus dan dengan penuh kasih sayang, bahu-membahu, bergotong-royong mewujudkan masyarakat yang damai, bahagia dan sejahtera (baldatun thayyibah wa rabbun ghafur), seperti diilustrasikan Al-Qur?an dalam surah Saba?.

Bagi umat Islam, mengkaji Al-Quran untuk memahami dan mengimplementasikan pesan-pesan moral dan spiritual yang terkandung di dalamnya adalah suatu keharusan. Agaknya, kita umat Islam bukan hanya membutuhkan interpretasi baru yang lebih humanis, tetapi juga metodologi baru dalam memahami Al-Quran.

Problem paling mengemuka dari umat beragama, termasuk umat Islam adalah mereka tidak menganggap keberagamaan (religiosity) sebagai bagian esensial dari kemanusiaan. Tidak heran jika dewasa ini kita menjumpai orang-orang yang mengklaim diri sebagai ?beriman, namun sangat tidak manusiawi.

Dalam Islam contohnya, dijumpai orang-orang yang rajin ibadah, tapi tidak peduli pada ketidakadilan yang terjadi di masyarakatnya, tidak peduli pada sampah yang menumpuk di sekelilingnya, tidak peduli pada kelaparan tetangganya, tidak peduli pada kekerasan yang dialami keluarganya, demikian seterusnya.

Agama seperti tidak mampu menjawab pelbagai masalah kemanusiaan yang krusial seperti ketidakadilan, kemiskinan, kelaparan, konsumerisme, hedonisme, kekerasan, korupsi dan beragam penyakit sosial lainnya. Agama pun tidak mampu mengikis stigma, prejudice dan perilaku diskriminatif, khususnya terhadap kelompok marjinal, minoritas, dan tertindas. Ajaran tentang keadilan, kejujuran, solidaritas, kepeduliaan, dan kasih sayang hanya terukir indah dalam Kitab Suci, tapi sangat sulit dijumpai dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Semua agama dan kepercayaan seharusnya fokus membawa umat mereka kepada peningkatan kualitas spiritualitas diri yang terefleksi dalam aktivitas dan kerja-kerja konkret yang membebaskan manusia dari semua bentuk penyakit sosial tersebut.

Agama harus mampu mengubah umatnya menjadi lebih peka pada persoalan-persoalan kemanusiaan dan lebih professional dalam memberikan pelayanan kemanusiaan, khususnya terhadap kelompok rentan dan tertindas yang dalam Al-Qur?an disebut? kelompok mustadh?afin.

Demikian pesan-pesan moral dalam Internasional Congress on Listening to Asia di Universitas Urbaniana, Roma. Presentasi saya berjudul Questioning The Book in the World of to Day, Faith and Hermeunetics: the Contemporary Islamic Thought. Kesimpulan dari presentasi tersebut adalah penting bagi semua umat beragama untuk mengkaji kembali pesan-pesan moral dalam Kitab Suci.

Bagi saya, Al-Qur?an memberikan tuntunan yang tegas bahwa semua manusia, tanpa membedakan jenis kelamin, gender, suku, warna kulit, bahasa, dan bahkan agama diciptakan untuk mengembang visi penciptaan yang amat penting sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi). Sebagai pemimpin, manusia diharapkan mampu menata dan mengelola kehidupan di bumi ini dengan sebaik-baiknya untuk kemashlahatan semua manusia, dan hal itu harus dimulai dari kemashlahatan diri sendiri.

Adapun misi utama penciptaan manusia adalah amar ma?ruf nahy mungkar, yakni melakukan upaya-upaya transformasi dan humanisasi demi kesejahteraan dan kemashlahatan manusia yang tentunya dimulai dari diri sendiri dan keluarga inti, lalu kemudian masyarakat luas.

Upaya transformasi adalah sebuah komitmen mentransformasikan diri dan masyarakat ke arah yang lebih baik, positif dan konstruktif. Di antaranya, melakukan aksi-aksi nyata untuk perbaikan dan peningkatan mutu sumber daya manusia, termasuk di dalamnya birokrasi pemerintahan agar dapat melakukan tugasnya melayani kepentingan seluruh masyarakat, terutama kelompok rentan dan marjinal.

Upaya transformasi juga mencakup rekonstruksi budaya agar terbangun budaya yang lebih memanusiakan manusia. ?Selain itu, upaya revisi sejumlah kebijakan publik dan peraturan perundang-undangan yang masih mengandung unsur diskriminatif terhadap kelompok minoritas karena alasan gender, agama, dan etnis harus masuk dalam kerja-kerja transformasi.

Upaya humanisasi mencakup semua kegiatan edukasi, komunikasi, advokasi dan publikasi untuk menghindari kejahatan dan kemungkaran demi kemashlahatan seluruh manusia. Khususnya berupa perbaikan kualitas pendidikan di semua tingkatan sehingga mewujudkan masyarakat terdidik yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Itulah makna perintah amar ma?ruf nahy munkar bagi semua manusia tanpa kecuali. Karena itu, semua manusia tanpa ada sekat sedikit pun diharapkan mampu bekerjasama secara tulus dan dengan penuh kasih sayang, bahu-membahu, bergotong-royong mewujudkan masyarakat yang damai, bahagia dan sejahtera (baldatun thayyibah wa rabbun ghafur), seperti diilustrasikan Al-Qur?an dalam surah Saba?.

Bagi umat Islam, mengkaji Al-Quran untuk memahami dan mengimplementasikan pesan-pesan moral dan spiritual yang terkandung di dalamnya adalah suatu keharusan. Agaknya, kita umat Islam bukan hanya membutuhkan interpretasi baru yang lebih humanis, tetapi juga metodologi baru dalam memahami Al-Quran.