Tradisi Menutup Kepala Dalam Berbagai Agama

Musdah Mulia III
Karya Musdah Mulia III Kategori Agama
dipublikasikan 25 Februari 2016
Tradisi Menutup Kepala Dalam Berbagai Agama

Sangat menyenangkan hadir dalam Internasional Congress on Listening to Asia di Universitas Urbaniana, Roma. Presentasi saya berjudul Questioning The Book in the World of to Day, Faith and Hermeunetics: the Contemporary Islamic Thought. Pertemuan berlangsung di Universitas Urbaniana, Roma, Italia yang dikenal sebagai sekolah para suster dan pastor.

Kesimpulan dari presentasi tersebut adalah penting bagi semua umat beragama untuk mengkaji kembali pesan-pesan moral dalam kitab suci sehingga mereka dapat hidup bersama dalam keberagaman dengan penuh damai dan harmoni.

Pertemuan akbar ini dihadiri peserta dari berbagai bangsa, agama dan kepercayaan, warna kulit dan model pakaian. Pluralitas manusia sungguh suatu fakta yang tidak dapat disangkal. Pluralitas itulah yang abadi. Semua upaya untuk menyeragamkan manusia pasti berakhir sia-sia.

Saya duduk di tengah-tengah biarawati yang menggunakan tutup kepala. Warnanya ada yang putih, coklat, krem, hitam, abu-abu, dan lain-lain. Bentuk tutup kepala pun beragam ada yang sedikit terbuka sehingga rambut di kepala bagian depan kelihatan, ada pula yang tertutup rapat. Ada yang hanya satu lapis, lalu ada juga yang berlapis-lapis sehingga terkesan berat di kepala.

Para biarawati itu berasal dari berbagai belahan dunia. Dari Eropa, Afrika, Australia, Amerika, dan tidak sedikit dari bangsa-bangsa di Asia, seperti China, India, Melayu, bahkan beberapa dari Indonesia. Saya memerhatikan mereka dapat hidup bersama dalam damai, melampaui perbedaan etnik, bangsa, warna kulit, dan tradisi.

Gereja ternyata mampu menjadikan perbedaan dan keanekaragaman tersebut menjadi landasan untuk hidup bersama dalam pelayanan manusia. Mestinya, hal serupa dapat pula diciptakan di luar gereja. Hanya dengan cara itu, masa depan kemanusiaan yang penuh damai dapat terwujud.

Realitas sosial di seluruh dunia mengungkapkan, perempuan yang menutup kepala dijumpai dalam berbagai komunitas agama: Islam, Khatolik, Kristen Orthodox, Kristen Koptik, Jana, Jahudi Orthodox. Karena itu, mengklaim tradisi tutup kepala sebagai monopoli suatu komunitas adalah keliru besar.

Yang penting adalah membiarkan seseorang memilih secara kritis dan cerdas apakah akan memakai tutup kepala atau tidak. Sebab keimanan dan kesalihan seseorang hanya diukur dari sejauh mana dia sebagai manusia berguna dan memberikan manfaat bagi sesama serta peduli pada alam sekitar, bukan dari ukuran dan model tutup kepala.

Sudah waktunya mengajak masyarakat beragama secara esensial, tidak terpaku pada hal-hal yang artifisial dan simbolik sehingga mereka dapat saling mengenal untuk kemudian mengapresiasi dan saling belajar satu sama lain. Agama harus dapat membimbing manusia menjadi lebih manusiawi.[]


  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Intinya ahlak..

  • Ari Pasaman
    Ari Pasaman
    1 tahun yang lalu.
    Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, ?Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !? Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan All?h adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahz?b/33:59]

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    tutup kepala berbeda dengan tutup aurat, tante )