Melukis Asa

Melukis Asa


seandainya ketika angin dan daun bisa menjawab, tak akan dibiarkannya nasib memudar dalam kegelapan. Dia akan pergi atau menempel dibayanganmu untuk meyakinkan, mana yang berhasil; hujan atau mimpimu.

Kategori Puisi

2.1 K Hak Cipta Terlindungi

Datang Sudah Hari Ini

Datang Sudah Hari Ini Datang Sudah Hari Ini

Datang Sudah Hari Ini

Datang sudah hari ini, dimana senyumnya tak terbit dari timur karena terhalang hujan yang melamun. Ia sendirian menjulang tinggi tanpa ditemani kawan yang setia menikmati kejamnya menyendiri.

Di atas gedung, ia hampir bergegas lompat tak berani menatap langit-langit mata orang yang berlalu-lalang. Ketakutan menghantui kemalangan nasib pada gedung yang menua. Mereka bersitegang tidak akan pernah memahami jiwa-jiwa yang hilang dari nasib kesengsaraan pada tumpukan sampah yang menggunung di bantar gebang: ia paling memahami untuk merasakan kesedihan yang kurasakan.

Aku terhenti di cawan gedung tepat di depan wajahmu. Menatap bisu di retakan kaca yang berkaca-kaca. Tidak ada orang yang berani berbicara. Kata-kata yang terkunci pada pemilik hati yang sudah tercuri mati di dalam peti.

Aku membisu kesendirian malam yang perlahan-lahan mengintai menunggu lengah waktu untuk membunuh sebagian tubuhku.

Aku ingin melawan kemacetan jalan-jalan ibukota. Tak kubiarkan semua orang menghantuiku dengan kesibukan waktu yang pura-pura bisu. Aku tidak ingin lampu-lampu jalan meredupkan sesaat membunuh keragu-raguanku dengan bermain teka-teki tak kunjung tepat waktu. Aku juga bisa menangis seperti anak kecil yang jatuh tersandung batu.

Tidak ada yang pernah menyangka, jika ada kesalahan dan kekalahan dalam bercinta. Tidak ada yang menyangka. Termasuk bangunan menjulang tinggi ditengah-tengah kota dan aku yang menjadi saksi bisu.

#literasi #kumpulanpuisi #Buku #puisi #SangPencuriHati #sastra #sajakcinta #DatangSudahHariIni #musarustam #75puisi

Musa Rustam

Datang Sudah Hari Ini

Karya Musa Rustam Kategori Project dipublikasikan 17 Februari 2017
Ringkasan
Datang sudah hari ini, dimana senyumnya tak terbit dari timur karena terhalang hujan yang melamun. Ia sendirian menjulang tinggi tanpa ditemani kawan yang setia menikmati kejamnya menyendiri.
Dilihat 25 Kali