Air Matamu: Banjir Ibukota

Musa Rustam
Karya Musa Rustam Kategori Puisi
dipublikasikan 09 November 2016
Melukis Asa

Melukis Asa


seandainya ketika angin dan daun bisa menjawab, tak akan dibiarkannya nasib memudar dalam kegelapan. Dia akan pergi atau menempel dibayanganmu untuk meyakinkan, mana yang berhasil; hujan atau mimpimu.

Kategori Puisi

6.1 K Hak Cipta Terlindungi
Air Matamu: Banjir Ibukota

Air Matamu: Banjir Ibukota

Air Matamu: Banjir Ibukota
Di setiap tetesannya adalah kesedihan yang pilu
Wahai engkau pemilik hati yang lembut,
mengapa engkau biarkan hati ini runtuh dengan puing-puing yang menimpa di ujung waktu,
Wahai engkau yang telah meneteskan embun pada dahaga yang menyesatkan dalam sumur
mengapa engkau biarkan jiwa ini kehausan dengan air surga Firdaus,
yang hanya sekejap mata hingga membanjiri di seluruh kota yang menetes deras di pelipis mata

Mengapa hadirmu dengan ketiadaan yang membelenggu kota
Tetesan air mata luka dalam ketidakmengertiaan kata
Keputusan yang meruntuhkan pada jiwa
Namun aku terus mencoba bertahan ditengah-tengah kota
Mencintaimu dengan kebodohan dan tanda tanya
Aku tak tahu, mengapa?

Mengapa engkau biarkan gelap gulita yang mencekam dan mencabik-cabik tanpa alasan
Mengapa engkau biarkan aku tersasar sendiri oleh kekosongan kerlap-kerlip malam
Mengapa engkau biarkan aku mati tak berdaya dengan melumpuhkan satu sayap saja hingga aku tak bisa terbang dan membusuk dalam sangkar yang muram
Mengapa engkau biarkan aku hanyut terbawa arus banjir ibukota dalam kesunyian dan kesendirian yang menggigil

Sehingga tubuhku serupa mayat yang mengambang ditengah-tengah peradaban
yang memuncak dari seorang pengemis cinta
Begitulah air matamu serupa banjir Ibukota

(2013)


#sastra #literasi #buku #kumpulanpuisi #MelukisAsa #musarustam

  • view 188