Di Ujung Kota

Musa Rustam
Karya Musa Rustam Kategori Puisi
dipublikasikan 09 November 2016
Melukis Asa

Melukis Asa


seandainya ketika angin dan daun bisa menjawab, tak akan dibiarkannya nasib memudar dalam kegelapan. Dia akan pergi atau menempel dibayanganmu untuk meyakinkan, mana yang berhasil; hujan atau mimpimu.

Kategori Puisi

8.1 K Hak Cipta Terlindungi
Di Ujung Kota

Di Ujung Kota

Jalan-jalan utama dipenuhi sesak dan kegelisahan yang menyekap

Disepanjang jalan, tak ada marka jalan bisa menyeruak untuk mengungkap


“Jangankan kemacetan, menunggu senja terakhir di ujung bandara kulalui”


Angan-angan dan mimpi manusia berterbangan seperti asap dan udara polusi di ibukota

Tak ada yang bisa menolong, memotong waktu hingga dipercepat rindu untuk bertemu


“Percuma kau bilang rindu,” katamu dengan nada ketus.

Siapa yang berani melawan rindu walaupun kemacetan menghadang?


Aku hanya bisa tersenyum kecil sambil mengerutkan dahi, melihat kanan-kiri termenung diam, bulir-bulir keringat yang jatuh dari penumpang bis kota, ataupun kepanikan tak sudah-sudah melihat seorang laki-laki tua yang semakin terjerat oleh waktu.


Dan waktu, bis kota tua yang terpatri merambat kemacetan

Aku pun tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan antara penyesalan atau kerinduan?

Kau membuatku kian jauh, menjauh antara jarak di ujung kota

ketika nasib tak kunjung mendekat, semoga nasib baik mau berbagi kerinduan dengan kita

#buku #kumpulanpuisi
#literasi #sastra #MelukisAsa #musarustam

  • view 216