Di Bawah Naungan Pohon Waru.

Musa Rustam
Karya Musa Rustam Kategori Puisi
dipublikasikan 09 November 2016
Melukis Asa

Melukis Asa


seandainya ketika angin dan daun bisa menjawab, tak akan dibiarkannya nasib memudar dalam kegelapan. Dia akan pergi atau menempel dibayanganmu untuk meyakinkan, mana yang berhasil; hujan atau mimpimu.

Kategori Puisi

6.7 K Hak Cipta Terlindungi
Di Bawah Naungan Pohon Waru.

Di Bawah Naungan Pohon Waru.

Ketika senja mulai menyapa pada dedaunan yang berubah senja, dengan menguning dan daun-daunnya telah menggunung dekat lapangan di bantaran kali Ciliwung.
Aku duduk tepat di bawah pohon waru dan melihat-lihat kelokan kali yang enggan berbelok, karena terhambat kenangan masa lalu yang biru.
Aku ingin pergi, minggat dari kesedihan dan luka yang datang bulan lalu. Dan berlari-lari kencang sambil memarahi hujan yang mendung kelabu, sehingga banjir menyayat-nyayat wajah kampung.

Saat itu, aku yakin pohon waru yang paling baik padaku. Ia rela batangnya kugerogoti dengan harapan dan mimpi untuk sampai ke seberang. Dan daun-daunnya kujadikan pupuk kompos agar aku punya semangat dan vitamin tambahan untuk belajar mengejar mimpi ataupun tangkainya yang besar kujadikan ayunan agar dapat menjadi penghibur di saat kumuram.

Mengapa masih ada kesedihan dan trauma yang menyelimuti dedaunan yang terbang?

Selama ini ia tak mengganggu, diam, sendiri, dengan ketermenungan yang panjang, senyum yang terkadang senyap dibawa cuaca yang mendung, rumput ilalang dan kehadiran rutinitas senja yang memudar bersama telapak kaki kecil yang menapak waktu. Goresan berkambium dari batang waru berubah warna getahnya putih kehitaman seperti wajah anak trauma yang disekap dan terpenjara.

Mengapa trauma itu tidak hilang dan pergi, seperti senja yang datang setiap sore yang menghampiri?

Sesungguhnya ia melawan dan berontak dari keadaan yang merajai, bersama akar-akar dan batang-batang yang kokoh menuntut keadilan pada angin dan hujan, tak lupa matahari yang menguatkan dan meneduhkan pada siang, serta pada tanah yang menyuburkan seperti manusia yang selalu haus dan kelaparan.

Apakah pohon waru akan terus berdiri kokoh setelah diterpa banjir dan hujan yang deras menghujani seperti manusia yang dikhianati cinta dan dihujani dendam?

Begitulah cinta dan dendam seperti angin dan hujan yang menerpa pohon waru terjerat dalam satu lingkaran waktu.

#buku #puisi #KumpulanPuisi
#sastra #MelukisAsa #literasi  #musarustam

  • view 239