Antara Belitong dan Jakarta

Musa Rustam
Karya Musa Rustam Kategori Puisi
dipublikasikan 22 September 2016
Melukis Asa

Melukis Asa


seandainya ketika angin dan daun bisa menjawab, tak akan dibiarkannya nasib memudar dalam kegelapan. Dia akan pergi atau menempel dibayanganmu untuk meyakinkan, mana yang berhasil; hujan atau mimpimu.

Kategori Puisi

4.7 K Hak Cipta Terlindungi
Antara Belitong dan Jakarta

Antara Belitong dan Jakarta
Melewati jalan-jalan ibukota, masuk ke bandara terbang menggapai angkasa merayapi pemandangan kolam-kolam timah raksasa.

Rindu membasuh lembut belaian di atas kepala, menenangkan, jauh tapi mempesona, sejak waktu itu diantara barisan gedung-gedung tua kota Jakarta. Bait-bait puisi bersama aura senyum laskar pelangi yang menuntun Asa, tentang puisi kegelapan dan Redupnya senja ibukota mulai sirna karena ada lelehan gletser gunung es di puncak himalaya yang bermuara dari titik-titik senyum keramahan pada cinta.

Aku adalah bayangan senja yang mengabur
Yang rabun bersama para penambang timah, para nelayan yang kehilangan arah, dan petani sahang yang gundah dihinggapi cuaca yang marah. Sejak itu, ingatanku ditumbuhi senyum mekar menghapus riwayat pulau malang dan keterbelakangan pada cinta.

Ketika kuputuskan untuk terbang, bergelayut kecemasan akan jatuh, memendar perlahan beriringan dengan matahari yang terbit di danau kaolin melukis bayang-bayang harapan wajahmu yang menghalangi masa lalu yang biru.

#kumpulanpuisi #buku #puisi #MelukisAsa #literasi #sastra #musarustam
 

  • view 148