Kampung Banjir

Musa Rustam
Karya Musa Rustam Kategori Puisi
dipublikasikan 13 September 2016
Kampung Banjir

Kampung Banjir

Aku mencatat perjuanganmu yang biru
Debit air yang selalu meninggi pada musim hujan yang lalu

Dari lorong-lorong dan saluran yang menembus di sela-sela rumah
Ibukota yang memperanakan tiga belas anak-anak kalinya;
Ciliwung adalah anak yang paling bungsu

Banjir kiriman berjuta-juta meter kubik dikirim dari hulu
Meratakan airnya dengan sejengkal tangan anak kecil sampai ke atap rumah

Sesaat aku bertanya pada ibu:
“Kenapa hari ini, air bisa sebanyak itu ibu?”

Sore menjelang, senja mulai menampakkan wajahnya yang kelabu
loloskah dari salah asuhan yang dibuat keserakahan
menyisakan wajah muram pada musim penghujan di bantaran ibu

seketika hujan pada bulan Januari
membisu dengan suara lirih yang malu-malu:
“air akan mengalir dengan tenang, tak mengganggu jika tak diganggu”

Hidup itu seperti air, bebas mengalir.

sekali lagi aku bertanya pada ibu:
“apakah kita mau dikekang seperti air yang bebas mengalir?”


#sastra #kumpulanpuisi #MelukisAsa #buku #antologi #musarustam

  • view 165