Sajak tentang Seorang Anak Kali

Musa Rustam
Karya Musa Rustam Kategori Puisi
dipublikasikan 13 September 2016
Melukis Asa

Melukis Asa


seandainya ketika angin dan daun bisa menjawab, tak akan dibiarkannya nasib memudar dalam kegelapan. Dia akan pergi atau menempel dibayanganmu untuk meyakinkan, mana yang berhasil; hujan atau mimpimu.

Kategori Puisi

5.1 K Hak Cipta Terlindungi
Sajak tentang Seorang Anak Kali

Sajak tentang Seorang Anak Kali
 
Dari tahun ke tahun aku tumbuh dan berkembang sepanjang kelokan anak-anak kali, menjelajahi tanda-tanda arus kali yang terkadang naik turun meninggi, diantara himpitan pembangunan kota yang mulai gundah, sibuk berbenah diri, muram dengan kondisi penuh pertanyaan membanjiri wajah-wajah lugu yang belum mengerti.
...
Dari tahun ke tahun aku mulai belajar bersama arus tingginya urbanisasi, ikut menikmati euforia roda perekonomian dimulai pembangunan gedung-gedung tinggi, kali-kali yang sudah dihiasi beton-beton melapisi jarak ekosistem perubahan sanitasi dan Ruang Terbuka Hijau semakin terhimpit penuh sesak tapi tetap indah menghiasi.
...
Dari tahun ke tahun aku mencoba merenungi dibalik keindahan cahaya senja di sore hari, membentangkan cakrawala yang penuh teka-teki dan sarat misteri, wajah-wajah kali murka dengan memenuhi ruang-ruang yang barangkali sudah bukan tempat mereka mendiami debit-debit kali, dahulu rawa-rawa dibaluti barisan ilalang yang mengitari dipinggiran dan kini kali yang telah di operasi plastik wajahnya menjadi kampung-kampung yang padat, penuh sesak dan kumuh yang sebentar lagi diberi tambahan bonus demografi.
...
Aku lahir tepat dipinggiran bantaran kali, bukan aku tidak mau memilih untuk lahir di rumah sakit yang yang memadai, atau alergi dengan peralatan medis yang canggih ataupun bukan karena aku senang ditempat yang agak jorok dan sedikit bebauan dari sekeliling kali, aku satu contoh anak yang tidak seberuntung anak-anak lain, tidak ada satu manusia yang dapat memilih dari rahim mana ia keluar, mungkin memang takdir bunda untuk melahirkan dekat bantaran kali, bukan karena ia tidak cukup waktu untuk berlari ke rumah sakit ataupun menyambangi rumah ibu bidan yang letaknya tidak begitu jauh, tapi mungkin diskon harga dari dukun beranak yang cukup untuk biaya melahiri.
...
Akulah anak kali itu, yang ketika sore menjelang bermain-main dengan arus kali, menyeberangi dan mengikuti arus liar dari iringin air kali yang mengalir ke hilir, tawa canda dan senyum sumringah anak-anak kali mendiami warna-warni wajah setiap sore di sepanjang kali.
...
Dari kelahiran seorang anak kali, harapan itu terlihat dari senyummu
Tak ada kesulitan untuk mengenalimu.
Sebab dalam kelahiranku telah diukir namamu
yang bermusim-musim menyandera napasku,
walaupun sempat kalut dan kabut menyamarkan waktu.
...
Tak ada kesukaran untuk mengenali wajahmu.
Sebab dalam dadamu meregang tali pusarku
hingga menyatu tali pusarmu, menghanyutkan kita dalam
pusaran yang sama: masa perjuangan yang penuh derita.
...
Sementara kau masih berjuang menyemangatiku,
anak kali dalam diriku gelisah mengingat perjuanganmu
hari ketika kau tak lagi mengajak bermain atau sekedar menemaniku
ataupun sejenak meminta menyelesaikan pekerjaan rumahku.
...
Tanpa sepengetahuanmu, bertahun-tahun, kemarin, dan kini
kemudian setelah itu, anak kali itu telah berkelana
melalui permainan yang paling menyenangkan itu:
menunggu. Sebab ia tak perlu sosok lawan untuk
menang dan mengalahkan dirinya sendiri untuk mengejar mimpi.
 
Jakarta, April 2016
 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Menuangkan keindahan alam ke dalam puisi, gejolak batin ke dalam baris puitis sudah hal yang lumrah. Tetapi memilih topik perkotaan, urbanisasi, denyut jantung ibukota yang seolah berdetak 24 jam sebagai bahasan penulisan seni tentu bukanlah hal mudah. Musa Rustam membuktikan apa saja bisa menjadi indah. Pesan kritis berhasil ia balut secara apik. Kenangan masa lalu dan kegelisahan kota Jakarta saat ini dituangkan dalam puisi yang menyentuh, yang terkadang mengundang rasa iba tetapi miris seperti dalam ‘.. dahulu rawa-rawa dibaluti barisan ilalang yang mengitari di pinggiran kali dan kini kali yang telah dioperasi plastik wajahnya menjadi kampung-kampung yang padat, penuh sesak dan kumuh sebentar lagi diberi tambahan bonus demografi”. Sekali lagi, Rustam membuktikan puisi mempunyai ‘suara kencang’ tentang kegelisahan sosial yang sangat layak didengarkan!