Kampung Pulo

Musa Rustam
Karya Musa Rustam Kategori Project
dipublikasikan 11 September 2016
Memoar Asa

Memoar Asa


Sampai ketika musibah itu hadir menjemputnya "Ketika doa Emak, perjuangan yang meneteskan air mata demi Asa. Ketika cinta Emak, menguatkan alang rintang pada Asa" Inilah Memoar Asa, kisah perjalanan hati, Asa dengan Emaknya.

Kategori Fiksi Remaja

793 Hak Cipta Terlindungi
Kampung Pulo

Aku lahir di Jatinegara bagian timur Jakarta, di sebuah

kampung yang berada dekat dengan tepian kali

Ciliwung. Kampung kami memiliki dua RW yang lumayan padat

penduduknya, di kampung kami sudah menjadi langganan setiap

tahunnya karena kampung kami terletak di dataran sangat rendah,

yang bentuk kampungnya bila dilihat dari atas, serupa tapal kuda

dikelilingi oleh kali Ciliwung sepanjang kampung.

Banjir menjadi sudah biasa, kampung yang berdampingan

dengan banjir yang sudah di anggap menjadi konsekuensi dari

musim hujan yang melanda, ketika di daerah puncak hujan lebat,

sekitar delapan sampai dengan sembilan jam kemudian banjir akan

menggenangi kampung kami, hingga mencapai kedalaman dua

sampai dengan tiga meter. Kami mencoba bertahan dengan banjir

menjadi potret setiap tahun musim penghujan di kampung kami.

Emak bercerita saat dia masih kecil, Kali Ciliwung bersih dan

jernih, airnya pun bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh

warga, selain itu ikannya beragam jenis dan juga banyak bebatuan

sehingga kita bocah-bocah kali Ciliwung senang sekali mandi dan

bermain di sana bersama teman-teman.

Aktivitas jual beli di Pasar Lama Jatinegara atau lebih dikenal

dengan Pasar Mester, merupakan pusat ekonomi bagi warga

Jatinegara. Pasar Lama Jatinegara mempunyai banyak deretan

bangunan dimana dulunya dikenal dengan bangunan Belanda. Di

sekitar pasar tersebut juga terdapat pedagang-pedagang kaki lima

yang menjajakan dagangannya, mulai dari pukul tujuh pagi hingga

pukul enam sore. Pasar ini sangat ramai pada tanggal-tanggal muda,

dimana orang-orang baru saja mendapatkan penghasilannya.

Rumahku berada dekat dengan Pasar Mester, dan di sekitarnya

ada taman bermain. Rumah tersebut adalah bangunan dua lantai

terbuat dari bangunan semi permanen yang dibangun oleh Engkong,

saat aku belum lahir. Baik Engkong dari pihak Bapak maupun Emak

sudah meninggal sehingga aku tidak memiliki bayangan mengenai

sosok mereka. Bapak hanya memiliki selembar foto Engkong ketika

Bapak bersama dengan monyet piaraan Engkong yang bernama Si

“Otong”di belakang rumah berfoto bersama setelah konvoi karnaval

17 Agustusan.

Di rumah tersebut tinggalah Emak, Bapak, Aku, Enyak, dan

Encang Uding, Kakak dari Bapak beserta dua anaknya yaitu ; Mila

dan Yadin. Setelah Engkong meninggal sehingga beberapa ruangan

rumah disekat dan diberi kamar mandi untuk dikontrakkan

sebagai rumah kontrakan pada beberapa pasangan muda yang baru

menikah atau mahasiswa yang mengadakan penelitian tentang

kampung kami. Para mahasiswa itu baik sekali kepadaku. Mereka

sering membelikan kembang gula berwarna merah muda dan kerak

telor kesukaanku.

Emak mengandung aku setahun setelah dia datang ke

rumah ini. Tahun 1982, Emak berumur 19 tahun sedangkan

Bapak berumur 2 tahun lebih tua, yang baru ingin menginjak 21

tahun. Bapak yang kelahiran asli Jatinegara bersekolah di STM

Listrik Boedi Oetomo, tapi sudah di duga Bapak memang pintar,

Bapak adalah anak termuda dari lima bersaudara yang memiliki

pendidikan paling tinggi dibandingkan dengan kakak-kakaknya.

Engkong mengira dengan memasukkan Bapak ke STM akan

membentuk Bapak menjadi karakter yang mandiri dan siap bekerja

kelak. Tetapi, Engkong mungkin tak sadar bahwa itu bisa berubah

dan menjadi fatal “Karena salah bergaul”.

Setelah masuk STM, Bapak karena kurang pengawasan

melakukan berbagai perbuatan buruk dan kekeliruan dalam belajar.

Karena sering membolos, tawuran antar pelajar dan berbagai

aktivitas negatif yang mungkin terpengaruh temannya di sekolah.

Bapak sesungguhnya anak yang cerdas dan berbakat dengan

kepandaian dalam mereparasi barang-barang elektronik di rumah,

seperti : televisi, kipas angin, mesin pompa air, dan setrika yang

rusak, sehingga dapat menambah uang jajannya dari mereparasi

barang-barang elektronik milik tetangga.

~~~***~~~

Bapak menikah dengan Emak ketika baru lulus, dia belum

bekerja hanya berjualan meneruskan usaha Engkong. Bapak

menikah dengan Emak berawal dari perjodohan kedua orangtua

mereka, akhirnya pernikahan itu dijalani juga dengan rasa penuh

cinta dan kasih sayang. Emak lahir di Cipayung, sebuah kampung

pinggiran Jakarta. Emak adalah bontot dari sembilan bersaudara,

dari keluarga pembuat Pengrajin Tahu. Emak tidak memiliki

pendidikan yang tinggi, dia hanya bersekolah sampai kelas dua SD,

tak banyak aku mengetahui masa lalu sebelum Bapak dan Emak

menikah. Yang aku tahu setelah menikah, Bapak dan Emak tinggal

bersama dengan Engkong dan yang lainnya di Jatinegara.

Emak tipe orang yang periang, suka tertawa walaupun tersipu

malu serta menyenangkan. Dia selalu memperhatikan orang-orang

di sekitarnya dan menyukai pekerjaan rumah tangga. Itu terlihat

rumah yang rapih dan bersahaja. Tak lupa juga Emak pandai

mengaji, setiap hari ba’da Maghrib selalu membaca Al-Quran tak

pernah absen, suaranya sangat indah ketika Emak melantunkan

ayat surat dari Al-Quran, dia pun tak lupa juga mengajarkan aku

mengaji dirumah.

Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Bapak.

Cenderung pendiam, tidak pernah memulai pembicaraan apabila

bukan lawan bicaranya yang memulai. Bapak bukan tipe yang

senang bercanda, sehingga terlalu kaku apabila tertawa. Dia suka

melakukan hal-hal di luar orang awam, senang menyendiri dan

hanyut dalam dunianya sendiri.

Emak melahirkan adik perempuan saat usiaku empat tahun.

Beban Emak makin besar. Kami tinggal dalam satu kamar, rumah

yang kami tempati memang tidak besar, kami berada di lantai dua

dengan ruangan hanya tiga kali empat meter. Ruangan itu cukup

bersih walaupun kecil, Bapak hanya diam mengawasi aktivitas kami

bertiga. Sesekali adik perempuanku menangis karena buang air

kecil ataupun karena haus minta disusui oleh Emak.

Ketika adik perempuanku tertidur lelap, Emak selalu

mendongeng dan menceritakan kisah-kisah yang inspiratif setiap

malam, salah satunya dialah sosok pemimpin Islam yang menjadi

Khalifah kedua, yaitu Umar bin Khattab R.A.

“Nah, itulah kisah pemimpin teladan kita, sahabat Rasulullah

SAW, Khalifah Umat Islam yang kedua, Umar bin Khattab.

Pelajaran berharga ini harus kamu perhatikan ya, nak. Ketika

kamu dewasa dan menjadi seorang pemimpin, jangan pernah

lupa dengan kondisi orang-orang sekitarmu, kita masih

bersyukur Alhamdulillah masih dapat makan tiga kali sehari

dengan menu tempe dan tahu, kelak nanti kamu akan menjadi

orang besar”

~~~***~~~~

  • view 150