My Memory

Musa Rustam
Karya Musa Rustam Kategori Project
dipublikasikan 11 September 2016
Memoar Asa

Memoar Asa


Sampai ketika musibah itu hadir menjemputnya "Ketika doa Emak, perjuangan yang meneteskan air mata demi Asa. Ketika cinta Emak, menguatkan alang rintang pada Asa" Inilah Memoar Asa, kisah perjalanan hati, Asa dengan Emaknya.

Kategori Fiksi Remaja

660 Hak Cipta Terlindungi
My Memory

Ia sangat tinggi menjulang, tepat di jantung ibukota negara.

Di tengah-tengah kota Jakarta. Ditengah-tengah peradaban

dan kebudayaan Indonesia. Di tengah-tengah kekaguman dari

berbagai pelosok nusantara dari Sabang sampai Merauke. Seperti

permainan kemudi putar yang berputar di pasar malam, membuat

tertawa riang anak-anak yang menaikinya, segala yang berada di

atasnya pun ikut berputar. Kami pun ikut berkemudi putar. Kami

tiba di kota ini layaknya lebah yang mendatangi bunga-bunga yang

memiliki madu di taman. Terpesona akan cantik dan keindahannya

yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Tubuh dan jiwa kami

bergerak bersama alunan kereta api listrik yang membawa kami

keluar dari kampung terbiasa dengan banjir pada musim penghujan.

Kami semua di tarik ke dalam sebuah bejana yang tak berujung,

dengan membawa takdir masing-masing yang tak pernah kami

pahami dan mengerti. Pada bulan Agustus 1993, Emak berkata.

Tepat 34 tahun keberadaannya.

“Melihatnya seperti itu, tampaknya Ia seperti kesepian dan

sendiri. Berdiri tegak menghiasi kota pada siang dan mencoba

menyinari pada malam, Ia begitu tampak murung”

Monas atau Monumen Nasional merupakan icon kebanggaan

kota Jakarta. Yang letaknya di pusat kota Jakarta, Ia menjadi

saksi perubahan central perjalanan kehidupan kota metropolitan,

sekaligus menjadi tempat wisata dan pusat pendidikan yang

menarik bagi masyarakat Indonesia.

Monas didirikan pada tahun 1959 dan diresmikan setelah

dua tahun kemudian pada tahun 1961. Monas selalu saja ramai

dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai pelosok nusantara

maupun mancanegara, kita dapat melihat keindahan kota Jakarta

dari puncak Monas, dengan berkunjung ke Monas, kita dapat

menambah wawasan perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang

disajikan dalam bentuk ruang diorama. Selain itu juga dapat

menikmati segarnya hutan kota seluas kira-kira 80 hektar ditengahtengah

kota Jakarta.

Karena itulah, Ia begitu sangat dikagumi semua orang. Di

ibukota yang terasa hampa ini, saat orang-orang memandang ke

atas dan melihat ada bongkahan yang berkilau seperti emas dengan

melihatnya berdiri tegak bersinar dengan penuh kehormatan,

mereka akan merasakan adanya kekuatan luar biasa, kekuatan penuh

perjuangan sejarah bangsa dan memiliki daya tarik keindahan bagi

siapa saja yang melihatnya.

“Wahai anakku, Emak sudah mengalami manis dan getirnya

kehidupan, perebutan paksa, pengkhianatan persaudaraan yang

tak berujung, ketidakberdayaan dari keadilan yang tidak berjalan,

kekerasan dari kekejaman, merasakan kekaguman pada keindahan

di dalam kesendirian dan keterpurukan itu”. Kami tidak dapat

menahan air mata yang jatuh dari pelipis mata, kesedihan yang

mendalam, namun kami harus tetap berputar mengikuti waktu

dalam jam, sesuai dengan putaran porosnya, berputar membuat

kami harus kuat dan menjalaninya dengan penuh kesabaran. Semua

orang berdatangan ke tempat ini. Mereka meninggalkan kampung

halaman demi sebuah mimpi dan harapan agar dapat berdiri

tegak membangun mimpi mereka, dengan penuh pengharapan

mengubah nasib yang lebih baik di Jakarta ini.

Inilah kisah masa kecilku, bertiga dengan Bapak dan Emak di

Jakarta, berjuang bersama mereka yang memiliki persamaan dengan

jutaan orang-orang pemimpi yang datang dari kampung halaman.

Hingga Bapak yang terlupakan dari hingar-bingar dan terhempas

dari putaran kemudi putar, aku datang dengan bertahan memiliki

tujuan yang sama, namun bingung aku tak bisa berjuang melihat

segala keadaan yang terjadi, tapi aku tak dapat pergi kemana-mana.

Sedangkan Emak dengan super-kesabarannya, mencoba bertahan

yang akhirnya harus berjuang hingga tertidur letih di bantaran kali

Ciliwung.

Pagi itu, di dalam sebuah kamar yang mungil dengan

pemandangan langsung ke bantaran kali Ciliwung, kami bertiga

tidur berdampingan dengan lelap. Banyak orang berkata bahwa

mereka tidak terlalu mengingat hal-hal yang terjadi ketika mereka

masih kanak-kanak. Namun, berbeda denganku, aku masih sangat

ingat dan jelas. Aku seakan masih dapat mencium aroma udara

yang menghinggapi sekeliling, bebauan yang khas dari bantaran

kali Ciliwung serta membayangkan hal-hal yang terjadi pada saat

itu. Mungkin karena aku hanya memiliki sedikit saja memory yang

harus kuingat dan kualami, apabila di bandingkan dengan orang

lain.

Ingatan hingga usiaku menginjak umur tiga tahun, tentang

aku, Emak dan Bapak serta seorang adik perempuanku. Ingatan

ketika kami harus kehilangan seorang Engkong yang kami cintai,

Ia telah meninggal dunia tanpa harus aku mengerti, mengapa

beliau pergi meninggalkan kami, sehingga dalam ingatanku hanya

tersisa sekeping episode tersebut, saat kami masih memiliki senyum

kebahagiaan dan keindahan dalam keluarga yang utuh.

Gubrakkk!! Jeger!! bunyi pintu didobrak membangunkan

tidurku yang lelap. Emak yang tidur di sampingku di atas ranjang

besi berwarna biru juga langsung terbangun dan terduduk,

termenung kaget. Sudah tengah malam, tak hanya anak-anak, orang

dewasa pun tengah terbuai dalam mimpinya yang indah. Bapak

pun masih terjaga dengan ketermenungannya yang tak berujung

di dekat jendela.

Dari arah pintu terdengar teriakkan seorang laki-laki

memanggil nama Emak. Emak langsung berlari menuju depan

pintu yang terdapat seorang laki-laki, tetapi Emak segera kembali

masuk ke kamar dengan wajah ketakutan dan pucat.

Emak langsung mendekapku sangat erat, seperti induk kucing

betina yang memeluk anaknya karena terancam gangguan dari

pengganggu. Dia membawaku dengan setengah berlari ke balik

almari. Encang, kakak dari Bapakku, tanpa mengucapkan salam

ataupun dengan mengetuk pintu, dia malah menendangnya. Pintu

yang terbuat dari beberapa lembar potongan kayu tripleks dan kayu

kaso direkatkan dengan paku ukuran dua puluh milimeter. Rusak

dan ambruk daun engsel yang menyatukannya. Tanpa melepas

sandal, Encang bergegas mengejar Bapak yang berlari menghindar,

diselingi teriakan Enyak. Seperti pasukan khusus anti teror yang

ingin menyergap teroris. Dan hal seperti ini sering terjadi. Entah

mengapa, aku tak mengerti mengapa Bapak menjadi sasaran

Encang. Aku tak pernah habis berpikir.

Encang menarik paksa Bapak dari lamunannya yang penuh

dengan kekosongan. Aku hanya bisa ketakutan di balik almari

dalam dekapan Emak. Bapak sudah terpojok di sudut ruangan,

kemudian menarik bungkusan dari plastik yang berwarna hitam,

isinya ternyata seekor pecel Lele goreng yang baru saja digoreng,

Encang kemudian menjejalkan begitu saja ke mulut Bapak.

Rupanya Encang ingin memberi oleh-oleh seekor pecel Lele

goreng untuk adiknya yaitu Bapakku. Seumur hidup itulah yang

pertama, aku melihat Bapak diperlakukan seperti itu, di suapi

dengan paksa oleh Encang untuk makan. Encang pemabuk berat.

Di bawah pengaruh alkohol dia selalu mengamuk tak beraturan,

tak peduli dengan keadaan sekitarnya, siapapun bisa terkena bogem

mentah darinya.

Pintu rumah kami yang rusak di perbaiki oleh Emak beberapa

hari kemudian. Dari pintu yang utuh dan rapih, kini di bagian

kanan tertutup bahan tripleks yang berbeda dari yang aslinya,

seperti membentuk tambalan pintu layaknya ban bocor yang

ditambal, sehingga pintu rumah kami tampak aneh. Aku sering

sekali menangis, dan ketika aku menangis lama sekali, Bapak hanya

bisa melihat dan tersenyum ketika aku menangis dengan terkadang

ikut meneteskan air mata juga. Emak selalu mendekapku dengan

penuh kehangatan, Emak melarangku menangis, Emak tak ingin

aku menjadi anak yang cengeng, walaupun aku masih berumur tiga

tahun.

Pada suatu pagi, saat aku bermain di ruang tamu, memainkan

puzzle bongkar pasang yang terbuat dari kertas karton bergambar

ondel-ondel, Bapak duduk di kursi tak jauh dariku dengan masih

dalam lamunannya yang kosong, tak memiliki makna apa-apa

akan tetapi menyiratkan beban pikirannya yang sangat dalam,

dia terkadang meledek aku yang sedang kebingungan tak dapat

menyusun puzzle itu. Sesaat aku menangis kaget, karena aku

menjatuhkan secangkir teh manis yang ada di meja, praang!! Suara

cangkir yang jatuh ke lantai. Tiba-tiba Encang dari kamar sebelah

membentak-bentak dan mengangkat-angkat tubuhku yang mungil,

lalu melemparku ke ruang yang berlantai dengan tikar hambal

berwarna hijau.

Aku dibuatnya melayang, tubuhku yang mungil terlempar

masuk lorong rumah dengan tikar hambal berwarna hijau. Enyak

yang menyaksikan kejadian itu berusaha menangkap tubuhku

seperti bocah-bocah menangkap bola pada permainan kasti di

lapangan. Emak menceritakan kejadian ini kepadaku di kemudian

hari. Mungkin saat itu aku mengalami seperti apa yang di rasakan

oleh penerjun parasut yang melompat dari pesawat. Mereka tak

akan pernah ingat apapun, apabila suatu ketika parasut yang

diterbangkan tidak berfungsi dengan baik, mereka akan terhempas

jatuh ke bawah, sehingga menghancurkan tubuh mereka hingga tak

berkeping. Seandainya saja Enyak gagal menangkapku, mungkin

aku akan jatuh dengan terlebih dahulu kepala yang membentur

lantai, dan aku akan mengalami depresi yang mendalam. Aku

juga mempunyai masalah dalam tubuhku. Saat aku mengalami

gangguan dalam usus di pencernaanku, Emak membawaku ke

Dokter Puskesmas dekat rumah. Di Puskesmas tersebut ada

seorang dokter perempuan berkerudung, dan Emak berkali-kali

mengatakan bahwa “Dokter itu udah cantik, betul-betul dokter

yang bagus, Emak tak tahu kalau dia tak ada, kamu pasti sudah

mati”. Setiap kali aku ke sana, dokter itu pasti menyuntik pantatku

dengan sabar. Walaupun selalu dihibur agar aku tidak menangis.

Demi menyenangkan mereka, aku menahan dalam hati, tidak

menangis dan berpura-pura tidak apa-apa.

Suatu ketika aku menderita usus buntu dan kondisiku

sepertinya cukup parah, beberapa dokter ahli penyakit dalam

berkumpul dan memasuki ruang operasi. Menggunakan seragam

serba hijau, dengan tutup kepala berwarna hijau tak luput juga

sarung tangan warna kulit dan masker berwarna hijau. Meskipun

aku tidak mengetahui prosedurnya secara men-detail, pertamatama

di lakukan operasi injection cairan semacam enema listrik

yang dimasukkan melalui anus oleh dokter yang berkacamata.

Bahkan bagi orang dewasa pun, langkah ini cukup berat untuk di

jalani seorang pasien dewasa.

Sebelum operasi, Emak mendapat penjelasan dari dokter

bahwa jika ususku dipotong, tak tertutup kemungkinan aku akan

mengalami beberapa kesulitan dalam menjalani kehidupan seharihari.

Dari balik kaca jendela di depan pintu operasi, Emak berdoa

agar cairan enema listrik itu tak terhenti.

“Ya Allah pemilik segala zat, hanya Engkau yang maha

mengetahui, anakku sedang berjuang untuk melawan

penyakitnya, tak ada yang mengizinkan sehelai rambut pun

tumbuh hitam indah di kepalanya, termasuk penyakit yang

tumbuh pada anakku, kalau boleh meminta pindahkan saja

penyakitnya ke tubuhku, aku ikhlas dan ridho. Tukar saja usus

anak hamba dengan usus hamba Ya Rabb”.

Sedangkan Bapak, sama halnya ketika saat aku dilahirkan,

hanya diam dan termenung di dekat jendela rumah, tidak ada

satu pun yang dapat dia perbuat karena pengaruh tekanan mental

yang dihadapi. Aku lahir di sebuah kamar dengan ukuran dua kali

tiga meter persegi dengan bantuan dukun beranak yang bernama

Emak Okih. Sebuah proses sangat luar biasa, proses persalinan

dengan perjuangan seorang ibu antara hidup dan mati dalam

melahirkan anak manusia. Tidak ada teknologi yang luar biasa,

tanpa jarum suntik, tanpa peralatan medik yang canggih, maupun

tenaga bidan ataupun dokter, hanya beberapa peralatan sederhana

seadanya dengan semangat dan keyakinan yang kuat dari seorang

dukun beranak yang sudah lama digeluti secara turun temurun

dari orangtuanya terdahulu, begitulah sebuah proses persalinanku.

Emakku di dalam hatinya selalu berzikir sambil memanjatkan

doa-doa di dalam perjuangannya.

“Ya Allah, peliharalah anakku selama di dalam kandunganku dan

sembuhkanlah ia. Sesunggguhnya Engkau Maha Penyembuh,

tiada sembuhan melainkan penawarMu, sembuh yang tiada

meninggalkan kesan yang buruk. Ya Allah, lahirkanlah ia dari

kandunganku dengan kelahiran yang mudah dan selamat.

Ya Allah, jadikanlah ia sehat sempurna, cerdik, berakal dan

berilmu serta beramal saleh. Ya Allah, elokkanlah akhlak atau

perangainya, fasihkanlah lidahnya dan perelokkanlah suaranya

untuk membaca Al-quran dan Hadis dengan berkat Nabi

Muhammad SAW ketika kelak ia dewasa”

Tepat pukul 00.45 WIB Kamis dini hari, lahir dengan sehat ke

dunia, anak yang sangat lucu dan manis, dengan suaranya sangat

kencang menangis menandakan kehadirannya. Didekati seorang

laki-laki yang sudah mulai putih rambutnya oleh Emak Okih, lalu

didekatkan telinga sang bayi itu untuk diadzankan.

Suara adzan itu terdengar berkumandang sangat indah,

perasaan haru dan bercampur bahagia tercermin di mata Yusuf

sambil menggendong bayi mungil itu, Bapak dari Rustam, karena

Rustam masih kebingungan dan panik melihat Rinah yang sedang

lemas dan letih pasca persalinan. Proses persalinan yang panjang

ditandai dengan banyaknya berbagai kejadian-kejadian yang sangat

memprihatinkan, dikarenakan masih minimnya pengetahuan

hingga memperlambat proses persalinan. Bayi dengan berat kirakira

dua koma sembilan kilogram dengan panjang empat puluh

delapan sentimeter, lahir dengan selamat dan di beri nama “Asa”

tanpa nama panjang ataupun embel-embel yang lain. Nama

pemberian dari Sang Engkong.

Dengan mengucapkan Hamdallah Kepada Allah dan dengan

tetesan airmata yang membasahi pipinya, Emak merendahkan

badannya sambil meletakkan kedua telapaknya di lantai seraya

mengucap sujud syukur atas perkembangan kesehatanku.

Inilah hal-hal yang masih tersimpan dengan baik di dalam

memoryku. Mungkin ada hal-hal yang terhapus. Namun ingatan ini

saat aku, Emak dan Bapak masih ada sebagai keluarga yang utuh.

Hanya ini yang terkenang dan tidak ada yang lain.

~~~***~~~

  • view 120