Resensi Novel Memoar Asa

Musa Rustam
Karya Musa Rustam Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2016
Resensi Novel Memoar Asa

Judul buku        : Memoar Asa
Penulis              : Musa Rustam
Penerbit            : Writerprenuer Club
ISBN                  : 9789790561533
Tanggal Terbit   : 22 April 2016
Tebal                 : 108 Halaman
Ukuran              : 13,5 cm x 20 cm
Kategori           : Remaja
Genre               : Drama & Sastra

=============================================================================


Ini adalah sebuah buku memoar perjalanan hati yang berkisah tentang kelahiran seorang anak yang merupakan salah satu karunia yang diberikan Allah kepada orang tua. Yang mana orang tua bertanggung jawab pada diri si anak untuk membesarkannya, sebagai renungan dalam buku ini bahwa tidak hanya orang tua yang selalu bertanggung jawab pada anaknya, tapi juga anak harus bertanggung jawab kepada orang tua dan keluarganya. Buku yang menceritakan sebuah keluarga yang selalu mendapatkan keprihatinan dan musibah dari keadaan yang menyiksa. Dalam hal ini si anak yang bernama Asa.

Asa lahir di Bantaran Kali Ciliwung yang berasal dari kaum marjinal asli kota Jakarta. Masa kecilnya yang selalu dirundung berbagai masalah dan cobaan. Akan tetapi Asa tidak pernah putus asa, dikarenakan dia memiliki Emak yang sangat luar biasa, yang selalu memberikan semangat dan kehangatan untuk bangkit dari berbagai sekelumit cobaan di dalam menjalani hidup.

Tiba-tiba saja penyakit aneh menyerang Asa sedari dia kanak-kanak, Asa tak pernah tahu penyakit apa yang selama ini mengganggu tubuhnya yang mungil. Asa mencoba untuk bertahan dan melawan kondisi yang dibantu oleh Emak.

Emak selalu memberikan dorongan dan motivasi untuk selalu bersabar, jangan pernah menyerah dengan segala himpitan ekonomi yang merajai, sesungguhnya kita punya Allah yang dapat memberikan segala upaya dan jalan dari berbagai kesulitan. Kehidupan yang keras kota Jakarta, lahir serba minim tak pernah mengecilkan asanya untuk menggapai asa karena kekuatan Doa Emak yang menghilangkan siksa.

Asa kecil tak pernah jauh dari Emak yang mengasuhnya dengan penuh kasih sayang dan cinta seorang diri. Namun, saat beranjak dewasa, karena tuntutan keadaan yang mengharuskan Asa untuk berjuang pergi meninggalkan Emak untuk belajar dan hidup berdikari di negeri Ginseng, Korea Selatan.

Bagaimana perjalanan Asa menuju Korea ini dimulai? Siapakah yang memberikan semangatnya untuk meraih mimpinya ke Korea? Siapa penyelamat nyawanya dari kematian? Mengapa Asa bisa menjadi “keturunan delapan”? Siapa Princess of Village yang Asa sukai? Kenapa Asa harus berjuang bersama dengan Enam Prajurit Ciliwung? Mengapa Bapak hanya bagaikan balon tiup baginya? Bagaimana bisa sampai Doraemon akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari Asa. Inilah Memoar Asa adalah buku pertama dari sebuah pengalaman yang dituliskan dari pengalaman kekuatan mimpi dan doa dari seorang ibu.

Musa begitu piawai menceritakan perjalanan hidup Asa sejak dia lahir, berkembang menjadi anak yang cerdas, sabar dan tegar hingga akhirnya ia harus berjuang melawan penyakit yang menjakitinya. ”Ya Allah pemilik segala zat, hanya Engkau yang maha mengetahui, anakku sedang berjuang untuk melawan penyakitnya, tak ada yang mengizinkan sehelai rambut pun tumbuh hitam indah di kepalanya, termasuk penyakit yang tumbuh pada anakku, kalau boleh meminta pindahkan saja penyakitnya ke tubuhku, aku ikhlas dan ridho. Tukar saja usus anak hamba dengan usus hamba Ya Rabb” (Hal. 7).

Begitu banyak kalimat-kalimat menyentak terkadang melankolis dan megharukan dirangkai Musa. Termasuk tatkala Emak mendeskripsikan tentang bagaimana perjuangan Asa yang diejek oleh temannya ”Percayalah, Nak. Sebuah kesuksesan itu kelak akan kamu raih dengan kerja keras serta doa. Dan ketika kamu tersenyum, senyummu akan bermanfaat untuk mereka, jadikanlah masa-masa sulit ini menjadi pembelajaran yang terus kamu ingat. Di saat kamu sukses kelak, kamu tidak akan pernah sombong, karena kesombongan kamu itu justru akan menghancurkan diri kamu sendiri” (Hal 25)


Kisah yang menginspirasi tentang tanggung jawab, kewajiban seorang anak dan ibu. Dan kisah keluarga yang mencoba bangkit untuk menggapai asa. Buku ini bisa dijadikan sebagai renungan pada setiap anak, dan sikap seorang ibu pada anaknya. Semua orang pasti pernah menjadi seorang anak-dan mungkin kelak akan menjadi orangtua. Itu sebabnya buku ini akan menjadi wacana yang sangat dekat dengan siapapun yang membacanya.

Memoar Asa - Kisah Perjalanan Hati

“Ketika doa Emak, perjuangan yang meneteskan air mata demi Asa,
Ketika cinta Emak, menguatkan alang rintang pada Asa”

"Musa berhasil mengaduk berbagai peristiwa melalui narasi yang penuh makna. Buku ini sangat inspiratif. Sebagai ibu, saya bangga pada semua ibu. Yang berjuang dengan cinta tanpa batas untuk mengubah hidup. kekuatan cinta ibu lebih dari apapun, Kisah Perjalanan Hati ini membuktikannya, Musa sebagai seorang anak yang mempersembahkan buku ini sebagai bakti pada ibunya. Dan tentunya pada semua ibu di dunia"
Deka Amalia. Writer, Writing Trainer & Book Publishing Consultant.

"Hati saya dikejutkan dengan serentetan kenangan duka yang justru mengagumkan. Tentang perempuan "Emak" yang seluruh tubuh dan jiwanya berlapis cinta luar biasa. A MUST READ! sepanjang hayat, buku ini saya yakini sebagai ladang manfaat"
Risma EL Jundi. Writer "Wanita Pendamba Surga"

"Buku ini menyadarkan kita akan peran luar biasa seorang ibu yang tetap berjuang dalam segala keterbatasan demi masa depan buah hati tercinta. Bukan harta berlimpah yang membuat seorang anak tegak berdiri, melainkan bahasa cinta dan kasih sayang yang mampu membuat jiwa anak manusia setegar batu karang hingga mampu bertumbuh menjadi sosok yang membanggakan orangtua. Selamat kepada Musa Rustam atas bukunya Memoar Asa yang patut diacungkan jempol atas segala harapan disertai perjuangan sampai mewujud"
Sintha Rosse. Penulis buku "Sajakku berkisah"

  • view 317