Tameng Hati

mutya
Karya mutya  Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 Juni 2016
Tameng Hati

Sejauh mata memandang, dia memang sosok yang baik dan juga pemerhati. Tingkahnya yang konyol dan membuat geli membuat rasa humorku tergugah. Pertemuan saat itu adalah awalnya. Aku tak akan berandai diawal jika akhir dari khayalanku kala itu adalah bahagia. Kita berteman sudah lama namun bersua baru saja. Waktu sekolah sama sekali aku tak pernah menoleh kepadanya hanya saat akhir kelas hampir kelulusan tiba aku mulai memendam rasa, iya cinta monyet katanya. Namun rasa itu tidak bertahan lama.

Lamanya waktu membuat kita semakin mungkin dekat dengan percakapan yang banyak yang tidak penting. Anak perempuan sepertiku pastinya akan bercerita kepada Ibu mengenai seorang lelaki yang disukai. Aku memberanikan diri tanpa malu untuk berkisah karena alasanku yakin dengannya saat itu. Walaupun ceritaku jarang namun banyak Ibu tetap antusias. Mungkin Ibu tau aku memiliki rasa terhadapnya dengan melihat caraku bercerita.  Namun ada hal yang tetap di nasehatkan Ibu padaku setelah cerita sudah selesai. Nasehat Ibu hanya terus berdoalah diberikan jodoh yang terbaik. Aku mengiyakan semua nasehatnya.

-

Secepat ini bulan ke 10 ku hadapi dari september lalu. Ekspektasi-ekspektasi yang ku karang dalam otak dan cerita yang ku tumpahkan kertas dalam diary seketika ingin ku hapus dan ku buang saja. Yakinku terlalu yakin kepadanya. Yakinku tak berlandaskan penjelasan darinya, aku yakin karena menerka-nerka semua tingkahnya, candaannya dan perkataanya padaku adalah sebuah rasa yang sama. Sebelum mengetahui semuanya, aku melihat ada yang berbeda dari foto yang dipajangnya. Anggapan itu seketika muncul "apa itu kekasih barunya?". Entah apa yang bisa ku lakukan sekarang, tidak mungkin ku utarakan semua semauanya yang ada di dalam hati. Hanya ada rintik tangis di mata.

Penjelasan itu akhirnya terungkap setelah percakapan basa-basi itu ku mulai terlebih dahulu. Ternyata benar-benar kekasihnya. Ironis bukan?. Perasaan mulai runtuh berkeping dan tidak bisa menerima keadaan yang sedang terjadi. Lalu arti dari percakapan kita selama ini apa?. Ibu, bagaimana bisa aku menangkal hal yang sekiranya tanpa sadar merebut paksa logika menjadikan perasaan bertahta disana?. Seutuhnya aku ingin menjadi manusia baik bagi cinta, Ibu.

Setelah hari itu, termangu menunduk pilu menjadi kebiasaan baruku. Namun hidup bukan hanya memikirkan mengenai dia agar bisa membalas perasaan ini. Jujur memang hal yang menyakitkan bila sesuatu yang sudah lama ingin dimiliki ternyata memilih termiliki oleh orang lain. Di sisi lain hati juga perlu hak damai untuk bahagia dengan cara yang berbeda. Memperlihatkan betapa nestapanya hati juga tidak akan dilihat oleh dia yang sedang dimabuk kepayang. Berusaha bangkit dan menerima adalah kunciku sekarang. Aku teringat nasehat Ibu untuk mengembalikan semuanya pada Tuhan, jodoh Tuhan lah yang mengatur dan aku hanya terus berdoa. Dan teruntuk logika yang kalah dengan perasaan, bertahanlah, berjuanglah, menanglah jangan lagi perasaan menimbulkan kerugian batin yang berkepanjangan. Cinta bekerja juga dengan logika.

 

06/08/2016

  • view 105