Menjadi Dewasa

muji cahyo wijaya
Karya muji cahyo wijaya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 April 2018
Menjadi Dewasa

Tingkat kedewasaan dan kematangan pikiran seseorang yang dianggap sudah dewasa tidak hanya ditentukan dari usia. Kedewasaan biasanya didasari oleh oleh munculnya realita kehidupan yang tidak seterusnya indah dan penuh dengan kemenangan. Kita yang terbiasa mendapatkan kasih sayang dari orangtua sejak kecil akan berangsur berubah sebagai pelindung bagi mereka berdua, menjadi anak yang mandiri dan bisa diandalkan. Sekali lagi patokannya bukan hanya berdasarkan jumlah usia yang dimiliki, mungkin seseorang bisa menjadi mandiri lebih cepat karena diterpa keadaan tertentu, namun ada juga yang “terlambat” dewasa karena beberapa hal. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menghadapi kekalahan dan kemunduran dengan cara yang lebih elegan. Bukan hanya bersedih dan frustasi meratapi kejadian yang telah lalu.

Kebanyakan orang yang sudah dewasa, biasanya memiliki pikiran yang jauh kedepan dengan rencana-rencana yang sudah terstruktur dengan baik, tidak hanya sekedar berlari namun sudah bisa memperkirakan halauan yang sekiranya terjadi dalam perjalanan tersebut. Pengalaman menjadi kunci utama dalam sebuah perjalanan, bagaimana kita harus bersikap dan bertindak lebih fokus dari sebelumnya. Pengalaman dapat diambil dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya, atau bahkan dari cerita serta nasehat dari orang-orang yang lebih dahulu mengalaminya.

Menjadi dewasa juga berarti bisa menerima nasehat orang lain dengan bijak, tidak keras kepala, serta tidak keras hati demi mempertahankan argumen yang kita percayai. Yakin akan kemampuan diri sendiri mungkin bisa menjadi semangat untuk meraih apa yang kita impikan, namun masukan dari orang lain setidaknya bisa menjadi rambu-rambu dari apa yang akan kita kerjakan nanti. Cobalah untuk mengurangi emosimu, kendalikan emosimu dengan cara-cara yang seharusnya lebih kamu pahamai, bukankah yang paling mengerti kondisi kita saat ini adalah diri kita sendiri, disamping Allah yang selalu senantiasa menemani setiap langkah kita. Ketika kita sudah biasa mengatur emosi yang belum dan yang akan terjadi, maka tindakan yang akan kita lakukan akan lebih baik dari sebelumnya, dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi karena pada prinsipnya, orang yang sudah terbiasa bersikap dewasa tak akan membuat keputusan yang akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Hampir dipastikan tidak ada seseorang yang sedang menghadapi suatu permasalahan bisa mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang diambil saat emosi cenderung akan berpihak kepada diri sendiri, dimana sifat manusiawi seseorang akan selalu ingin menang sendiri. Maka dari itu ingatlah sebagaimana kata-kata dari Saidina Ali Bin Abi Talib :

“Jangan membuat keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji sewaktu sedang gembira”

Fase awal dari sebuah kedewasaan bisa berawal dari bentuk kesadaran yang lebih terhadap beberapa hal yang lebih luas dan menyelurh dalam beberapa kondisi kehidupan sekitar. Orang yang sudah dewasa akan selalu sadar dan memahami apa yang sudah diucapkan, dilakukan, dan apa yang sedang terjadi didalam dirinya. Orang yang dewasa harus melemahkan sifat keegoisannya, kita  juga harus memikirkan apa dampak yang akan terjadi dari langkah yang akan ia pilih. Pilihan mana yang akan lebih baik seolah menjadi aturan main dalam sebuah keputusan, dan sikap dewasa akan menjadikan pilihan tersebut menjadi lebih dapat diterima. Manusia memang tidak mutlak sadar dengan apa yang akan terjadi dengan rencana yang sudah dipilih, namun pribadi yang dewasa akan mempunyai tingkat kesadaran yang memiliki cakupan yang lebih luas daripada orang lain pada umumnya. Tidak hanya itu, memahami dengan baik apa saja yang perlu dituntaskan serta tidak semerta-merta menundanya juga menjadi salah satu bukti kita siap dengan segala tantangan yang akant terjadi. Saat masih kecil, mungkin beberapa orang akan bersedia untuk sejenak menunggu dan menemani langkah kita, namun ketika dewasa, jangan terlalu sering menunda keputusan karena sejatinya waktu tak menunggu untuk siapa pun.

Hidup diantara berbagai sudut pandang, kebenaran mutlak akan semakin sulit dicari apalagi ketika kita semakin jauh dari Allah. Tak selamanya kita akan selalu benar, jadi mengakui kesalahan dan berani minta maaf akan menjadi salah satu jalan untuk menjadi dewasa. Mengakui kesalahan mungkin menjadi salah satu pilihan yang sulit diambil, gengsi dan ego yang tinggi menjadi alasan utama untuk tidak mengakui kesalahan yang kita pernah lakukan. Padahal dengan mengakui kesalahan bukan berarti menunjukkan bahwa kita kalah, namun salah satu hikmahnya adalah kita bisa menunjukkan sikap tanggung jawab dari kesalahan yang terjadi.

Berani dan pintar memposisikan diri juga menjadi salah satu syarat menjadi dewasa. Kita harus sadar sedang berada dimana, bagaimana kontesksnya, dan paham batasan-batasan yang boleh kita lakukan. Jangan lagi pernah bertindak semaunya sendiri, menahan diri adalah salah satu hal yang paling bagus yang bisa dilakukan. Simpulkan suatu tindakan dengan bijak, sabar, berimbang dan proporsional. Selalu sediakan ruang untuk titik temu suatu keputusan, jangan biarkan suatu permasalan mengambang dan perlahan hilang, siapa yang mengerti jika suatu saat permasalahan tersebut akan muncul kembali dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Jadi bagaimana ?
Sudahkah kita menjadi dewasa mulai hari ini ?
 
 

  • view 95