Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 3 April 2018   14:04 WIB
Media Sosial yang Tak Lagi Sosial

“Media lama” adalah sebuah terminologi yang digunakan untuk merujuk pada suatu bentuk media massa yang tidak banyak mengandalkan teknologi internet dalam aktivitasnya sehari-hari. Media lama yang beberapa di antaranya adalah televisi, radio, surat kabar dan lain sebagainya merupakan salah satu jenis media yang paling banyak diakses dan dimiliki oleh orang di dunia atau di Indonesia secara khusus. Media lama, apabila dibandingkan dengan perkembangan media baru menurut beberapa pihak merupakan fase yang tidak menarik. Akan tetapi media lama tidak dapat ditinggalkan begitu saja secara harfiah.

 “Media baru” adalah suatu terminologi yang digunakan untuk menyebutkan suatu jenis media yang berbeda dengan media sebelumnya, dengan ciri khas utama adalah mengandalkan pada jaringan internet sebagai media distribusi utama pesan-pesan yang ada dalam media tersebut.

 

Antara media sosial dan jejaring sosial memiliki perbedaan tertentu, terutama pada media yang digunakan. Media sosial merupakan media interaksi online sepert blog, forum, aplikasi chatting sampai dengan social network. Contoh dari media sosial meliputi e-mail, chat, dan lain sebagainya. Sementara jejaring sosial atau social network merupakan bagian dari media sosial yang merupakan sebuah jejaring online yang memuat interaksi dan relasi interpersonal yang berupa aplikasi atau situs web yang memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi dengan cara betukar informasi, berkomentar, mengirim pesan personal, mengirim gambar, video, dan lain sebagainya. Oleh karena inilah mungkin kamu akan memiliki pemahaman yang agak mirip dengan komunikasi multimedia. 

Dari 132 juta pengguna internet di Indonesia, 40% merupakan penggila media sosial. Direktur Pelayanan Informasi Internasional  Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) , Selamatta Sembiring mengatakan,  situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India.

Teknologi membuat jarak tak lagi jadi masalah dalam berkomunikasi. Internet tentu saja menjadi salah satu medianya. Sekarang ini banyak orang yang tidak bisa lepas dengan internet, internet sudah menjadi candu bagi generasi modern seperti kita. Media sosial bisa menjadi tempat mengekspresikan diri seseorang, mencari informasi, media belajar, serta menambah jumlah pertemanan. Bahkan, semakin berkembangnya media sosial sekarang bisa digunakan sebagai tempat menghasilkan uang dengan memanfaatkan aspek promosi yang ada di media sosial.

Tapi coba mari kita bahas fenomena yang terjadi dewasa ini, media sosial menjadi arena “pertarungan” antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Media sosial bisa menjadi tempat yang paling menyeramkan bagi kelompok atau pribadi tertentu karena bullying atau tindakan berupa penindasan, ancaman, ataupun kekerasan fisik maupun verbal sudah masuk kedalam media sosial. Media sosial memang bisa menjadi tempat berbagi pendapat, bukan saling melempar fitnah satu sama lain dengan menjatuhkan privasi seseorang. Orang yang melakukan tindakan memaki, menghina, sembari menikmati kebebasan internet ini disebut sebagai trolls: monster yang bersembunyi di kegelapan dan mengancam orang lain yang dianggapnya lebih rendah. Mengapa? Sesederhana karena ia ingin merasa superior atau mendapati bahwa menghina orang memberinya kepuasan. Beberapa menganggap kekerasan verbal atau tulisan daring (online) sebagai candaan atau sesuatu yang dianggap wajar. Padahal kekerasan tersebut tidak sekedar kekerasan online atau kekerasan dunia maya atau siber, melainkan merupakan perpanjangan dari kekerasan yang sudah ada.

Media sosial juga secara tidak langsung membatasi pergaulan di dunia nyata, ketika beberapa orang berkumpul hampir dipastikan semuanya akan membuka handphone untuk melihat notifikasi media sosialnya, bukankah bertemu langsung juga merupakan hal yang penting ? bahkan ada istilah media sosial akan mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat.

Media Sosial banyak dipakai oleh para remaja khususnya, perkembangan media sosial bisa menjadi sangat pesat juga karena semua orang bisa membuat dan memiliki medianya sendiri. Informasi yang tersebar melalui media sosial disimak secara rutin mengarah kedalam pembentukan opini dikalangan remaja. Salah satu contohnya, sebuah official account hanya mengutip halaman yang isinya hanya membahas mengenai manisnya hubungan pacaran, gambaran seorang pacar yang ideal, dan lainnya. Rutinnya account itu memposting pesan-pesan seperti itu, secara tidak langsung hanya mengarahkan fokus perhatian remaja yang hanya mengarah kepada pacaran bukannya tentang sekolah. Media sosial membuat seseorang hanya mementingkan diri sendiri. Mereka menjadi tidak sadar dengan lingkungan mereka, karena mereka banyak menghabiskan waktu di internet.

Media sosial tidak akan terlepas dari pengaruh positif maupun negatifnya, dampak itu tergantung dari sipenggunanya sendiri. Walaupun masa remaja merupakan masa yang dapat dikatakan sangat kritis karena memasuki masa pencarian transisi pencarian jati diri. Namun remaja juga bisa membatasi diri sendiri dengan norma dan moral yang baik. Pembentukan karakter sejak dini termasuk saat remaja sangatlah penting bagi masa depan diri remaja itu sendiri dan lebih luas lagi bagi masa depan bangsa. Remaja sebagai penerus bangsa yang memiliki karakter yang baik, kuat, dan tangguh tentunya akan bisa membuat Negara ini maju.

Karya : muji cahyo wijaya