Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 15 Februari 2018   11:36 WIB
Ketika usahamu tidak dihargai, disitulah kita belajar tentang sebuah ketulusan

Pernahkan ketika kamu melakukan sebuah usaha ata pekerjaan yang sudah dilakukan dengan sebaik-baiknya, bahkan telah mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya, namun ada saja segelintir orang yang tidak menghargai usahamu tersebut ?  jika YA , berarti kamu tidak sendirian. 

Pada dasarnya, menurutku pribadi jika ada orang yang seperti itu maka umumya mereka menganggap kita sebagai sebuah ancaman, karena mereka membenci diri mereka sendiri, atau bahkan karena mereka ingin menjadi baik sepertimu. Sulit memang menentukan bagaimana sikap kita terhadap perilaku yang seperti itu. Ada orang bijak berkata, 

Ketika kerja kerasmu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar ketulusan. Ketika usahamu belum membuahkan hasil, maka saat itu kau sedang belajar keikhlasan. Ketika hatimu sangat terluka, maka saat itu kau sedang belajar mema'afkan. Kesedihan itu kepastian, sementara bahagia adalah pilihan. Tetaplah semangat, tetaplah bersabar, tetaplah tersenyum, dan teruslah berkarya. 

Kembalikan niat awalmu melakukan sebuah pekerjaan, apakah sudah benar-benar tulus ? untuk mencari perhatian manusia ? atau mencari kedudukan ? atau ada alasan lainnya . Bukankah aktifitas yang kita lakukan secara tulus bernilai ibadah ? jadi kita tidak perlu risau jika ada banyak orang yang tidak menghargai hasil dari pekerjaan yang kita lakukan. Tapi jangan sampai kita merasa paling benar sendiri di dunia ini, jangan pernah takut untuk mempelajari kritik yang membangun. Jika tujuan awal kita adalah hanya untuk mencari perhatian atau penghargaan dari manusia, maka yang kita dapatkan adalah perasaan kecewa yang berlebih. Coba kita tata niat awal terlebih dahulu, aku percaya jika kita punya niat yang baik maka Allah akan selalu memberikan jalan. Niat itu jika kita analogikan seperti halnya sebuah alamat pada sebuah surat, jika salah tulis alamatnya maka sudah dipastikan akan salah tempat tujuan pengirimannya. 

Dalam sebuah usaha, rasa lelah pasti secara bertubi-tubi muncul dari segala hal yang kamu upayakan mengalami krisis yang tak terelakan. Kekhawatiran akan kegagalan mau tak mau pun mulai berkelebat senaknya. Belum lagi, saat kamu mengingat perjalanan teman-temanmu menuju pencapaian seperti terlihat lancar dan baik-baik saja. Rasa-rasanya kamu ingin berhenti dengan segala hal yang sedang kamu upayakan. 

Akan ada banyak komentar dari setiap aktifitasmu, baik menurutmu belum tentu baik menutu orang lain, jadi jangan langsung menyimpulkan semua komentar negatif adalah musuh yang tidak perlu kamu dengarkan. Dari situ juga kita bisa melatih kekuatan mental dan semangat yang kita punya. Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik dan jangan sekali-kali membalas perbuatan buruk dengan hal yang sama buruknya karena tidak ada manfaatnya bagi kita. 

Kamu pernah tersandung, terpeleset bahkan terguling hingga dirimu babak belur. Dan saat ini, ada hal kecil yang kembali menamparmu di tengah perjalanan. Sakit sudah pasti, tapi bukankah sakit itu akan hilang sendirinya bersama perjalanan. Bukankah rasa sakit itu juga yang membuat kamu belajar lebih berhati-hati, agar tak merasakan sakit yang sama untuk kedua kali. Coba tengok diluar sana ada banyak orang yang lebih tidak dihargai dari posisimu sekarang, masa iya kita kita harus menjadi seorang pecundang dan berhenti di tengah jalan ?

Maka jangan pernah ragu untuk terus berjalan selama kita dijalan yang benar, banyak-banyaklah introspeksi diri. Sudah baikkah kita selama ini ?

Jika kita sakit hati terhadap ucapan dan perilaku seseorang yang tidak menghargai kita, maka disaat yang sama Allah sedang mengajarkan kita untuk menjaga perasaan orang lain. Apalagi saat usaha dan kerja kerasnmu tidak dihargai oleh manusia maka kita juga diajarkan bahwa bukan pandangan dan pujian manusia saja yang kita harapkan, namun ridho Allah semata yang harus kita kejar.

Karya : muji cahyo wijaya