Kisah tanpa Judul, 2017

muji cahyo wijaya
Karya muji cahyo wijaya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Januari 2018
Kisah tanpa Judul, 2017

Tahun 2017 sudah berlalu begitu cepat, padahal aku masih ingat betul tanggal 1 Januari 2017 kemarin aku masih mengunjungi saudaraku yang tiap tahun berjualan terompet. Hingar bingar perayaan tahun baru masih benar-benar aku ingat, cepat sekali tahun ini berganti.

 “ le , kapan nikah ? “

Ini bukan pertanyaan baru, itu pertanyaan lama tahun lalu. Saat itu bukan jadi masalah buatku untuk sekedar memberi jawaban. 

  1. nanti kalau udah siap
  2. masih belum ada calon
  3. nanti aja aku kabari

Jawaban yang seolah memang sudah aku siapkan untuk setidaknya memberikan respon atas pertanyaan yang mereka berikan. Tapi, perjalanan tahun 2017 ternyata sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang aku alami. Sangat banyak kejadian yang tidak terduga muncul di tahun kemarin. Ada banyak cita-cita yang terwujud bahkan ada ujian yang terasa begitu berat untuk dijalani. Mungkin itu yang sering dipahami sebagai proses pendewasaan diri.

Ternyata menjadi dewasa juga cukup menyebalkan, dimana kita harus lebih bijak dalam menanggapi sebuah masalah. Sikap acuh dan merasa akan selalu benar seolah menjadi ujian yang dikembalikan kepadaku. Terlalu terbiasa dengan dunia sampai lupa siapa yang memberikan segala kebaikan kepada diriku. Allah benar-benar menutupi kesalahanku selama proses ini.

Bulan Februari 2017, sempat ada niatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sebuah proses yang muncul dari hati yang dalam tapi tidak terlalu dalam untuk menguatkan niat tersebut. Hampir sama seperti sebelumnya tapi tahun kemarin sedikit lebih baik.

 Saat semua perjalanan terasa begitu mudah dan seolah tanpa rintangan. Allah memberikan ujian yang membuat pikiran dan tubuh ini sangat tidak berdaya, tidak ada upaya yang bisa aku perbuat selain berdoa. Jujur, aku sangat malu meminta kepada-Nya. Disaat semua terasa mudah, aku benar-benar lupa caranya bagaimana harus bersyukur.Aku terlalu sombong dengan kemampuan yang sebenarnya bukan milikku.

Laa Haula Wala Quwata Illa Billaah

Aku tidak ingin menyalahkan keadaan atas ujian yang sudah aku peroleh, Hambamu yang kotor ini benar-benar ingin lari dari kenyataan. Ingin kembali mengulang atas kesempatan yang sudah diberikan oleh-Nya. Semua penyesalan menjadi satu dan membuat hati ini penuh dengan kesedihan. Teringat betul wajah kedua orang tuaku yang ikut merasakan kesedihan yang sedang aku alami, Ibu terlihat tersenyum tapi dengan mata yang menahan jatuhnya air mata dan Bapak berusaha memberikan banyak nasehat, padahal aku kenal betul beliau tidak pernah sebanyak itu dalam merangkai kata untuk sekedar memberikan perasaan tenang kepada anaknya. Dosa-Dosa yang lalu, seolah bekerja sama untuk kembali kedalam ingatan, Otak ini penuh dengan dosa yang sudah aku lakukan. Berdampingan dengan ingatan bagaimana dulu Bapak harus mengejar bus demi memberikan sedikit tambahan uang saku dan Ibu yang selalu memberikan 2 bungkus nasi bekal dimana aku hanya meminta satu bungkus saja.

 Berdoa dan pasrah,

Dua hal yang menjadi langkahku, kenapa tidak ada usaha ? karena jalan kuputus asaan sudah sangat terlihat di depan mata, bayang-bayang kegagalan sudah 99% siap mendatangiku. Motivasi dari kedua orang tua menjadi pengingatku untuk siap menerima apapun yang terjadi. Saat hati ini mulai payah, ada saja situasi bahagia yang sempat Allah berikan, entah itu dari Ibu yang malam-malam menghubungi via telfon untuk membahas hal-hal sederhana yang beliau lakukan hari itu atau dari orang-orang tedekat yang berubah menjadi lebih ramah. Tapi ketika semua itu berhenti, pikiran ini kembali kosong dan ingatan tentang masalah itu belum selesai.

Sekitar bulan September 2017, aku belum sempat mencari tepatnya kapan. Aku diperlihatkan sesuatu yang mungkin dijadikan perantara Allah untuk menemaniku dalam perjalanan di tahun 2017.

Perempuan itu berbeda, Aku suka tapi tidak berani ( kalimat ini perlu aku pikirkan  beberapa menit sebelum aku menulisnya disini, untuk saling menjaga perasaan tentunya )  

Susah untuk medeskripsikannya,
Lalu aku harus memulai dari mana,  bingung.

 ( 20 menit berlalu , senyum didepan monitor seperti orang gila ) astagfirullah

Berharap itu boleh ?
Boleh ji, tapi harus ada usaha ... siapkan dulu surgamu, karena bidadari tidak tinggal di neraka, Kalau kamu benar-benar punya niat ayo usaha dulu, kamu kelak jadi kepala keluargaku . masa haru s aku yang membimbing ke surga ?

 ( percakapan diatas merupakan percakapan khayalan antara muji 1 dan muji 2 ) hehe, ntar muji 3 biasanya ikut-ikutan.

Ealah ji, kamu itu ya sadar diri. Kamu itu siapa ? Ibadahmu itu masih berantakan mau sok-sok an hijrah, hidup belum bener mau ngajakin anak orang nikah. Mimpi kok dibawa kenyataan, sana tidur lagi aja.

 What ????

Aku tidak mau setengah-setengah kali ini, bukan karena dia aku mau berubah. Paling tidak niatanku untuk menjadi orang yang baik dalam agama dan dunia demi mendapatkan tempat yang terbaik disisi-Nya nanti, meskipun berat tapi yang dijanjikan-Nya adalah surga . Berat juga relatif, toh yang dilawan bukan persaingan dengan orang lain tetapi dengan diri sendiri. Aku mengenal diriku sendiri sudah sejak lama, paling tidak aku tahu kelemahanku dimana. Jadi itu sudah menjadi modal penting untuk berubah. Paling tidak aku ingin memperjuangkanmu dengan cara yang baik, agar ketika nanti saat aku mulai mengetuk pintu hatimu, aku sudah menjadi laki-laki yang bukan sekedar dipercaya oleh dirimu, bukan pula sekedar dipercaya oleh orang tuamu, Tapi aku juga harus dipercaya oleh Alah, dipercaya untuk nanti menuju Ridha-Nya. Jadi InsyaAllah bersabarlah dulu, jika ada sudah ada yang lebih sholeh dariku jangan pernah menungguku lagi.

Orang-orang harusnya paham, bahwa mencintai bukan hanya tentang waktu, keberanian, atau kesempatan saja, tapi cinta juga tentang keimanan dan ketakwaan. Membaca beberapa ayat Al-Quran menurutku lebih baik daripada membaca Al-Quran tiap hari satu juz tanpa mengerti apa isinya, jadi proses juga butuh waktu. Banyak sekali yang mendukungku untuk menjalani satu langkah lebih baik lagi dengan sedikit berlari tentunya, tapi ada saja oknum yang ingin menjatuhkan dikala perjalanan ini.

Aku berharap, rasa ini tak melebih cintaku pada-Nya nanti. Aku mengakui bahwa aku belum tahu apa yang benar-benar menjadi yang terbaik untukku nanti. Tujuanku sekarang adalah tenggelam dalam harapan, karena aku percaya bahwa tujuan yang sama akan selalu dipertemukan dalam perjalanan yang sama nantinya. Aamiin

Alhamdulillah ini sudah tahun 2018, semoga segala sesuatunya dilancarkan. Oiya masalahku sudah selesai , Allah benar-benar membantuku lewat 1%nya. Semoga tahun ini menjadi awal untuk cita-cita yang baik. aaminn

menikah ? kita tunggu saja apakah Aku, kedua orang tuaku diberikan jalan yang terbaik oleh Allah, 
mudah-mudahan ini pilihanku

 

  • view 141