Kala Larasati Lara (Bag. I)

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Mei 2018
Kala Larasati Lara (Bag. I)

Lukisan Gus Mus berjudul "Capek" / Instagram @s.kakung


Empat tahun sudah, perempuan itu pergi entah ke mana. Raib tanpa jejak. Menghilang di lorong waktu. Ditelan relativitas ruang dan waktu.

Ia pergi dengan segala kenangan, manis dan pahit. Ia pergi merenungi takdir dan meratapi nasib. Tertunduk lesu, berjalan sempoyongan, dan menutupi raut wajahnya yang tampak capek dan penuh goresan luka dengan ujung kerudungnya.

Ia dirundung lara dan membawa luka yang dalam di hati. Menganga entah sampai kapan sembuhnya. Ibarat layang-layang putus, tak ada sandaran dan arah ke mana ia harus pergi. Miris tentu saja.

Apa yang membuatnya sampai akhirnya perempuan ini dirundung lara? Silakan teroka kisah perempuan yang memilukan ini.

***

Perempuan paruh baya itu bernama Larasati. Kini ia berusia 46 tahun. Berarti empat tahun lalu, ia berusia 42 tahun. Dikaruniai dua orang anak laki-laki. Yang pertama bersekolah menengah atas, dan yang terakhir masih sekolah dasar.

Larasati bekerja di perusahaan swasta pada manajemen marketing. Dari wajahnya terlihat masih menarik--tidak bilang cantik, tapi ada aura memesona yang berbinar dari sosoknya yang ramah--sebagai perempuan yang sudah paruh baya.

Karena mungkin ia rajin merawat diri lewat salon kecantikan, sanggar kebugaran, atau konon bisa juga lewat laku spiritual semacam yoga dan merafal wirid-wirid yang biasa dan tak pernah absen ia kerjakan agar terlihat tetap memancarkan kecantikan dari dalam (inner beauty) dan awet muda (apa iya?).

Itu tampak dari raut wajahnya yang mampu menyamarkan garis-garis keriput. Tidak seperti perempuan desa kebanyakan, teman-temannya dulu yang sebaya dengannya di desa. Ia memang sudah menjelma menjadi perempuan urban yang dapat survive melewati perjuangan hidup di kota metropolitan.

Jatuh bangun hidup di kota Jakarta sudah ia jalani. Lebih dari satu dua pekerjaan sudah ia lakoni. Kerasnya hidup di sini betul-betul sudah ia rasakan. Itu terbukti ia mampu menaklukkannya.

Ragam pengalaman hidup di Jakarta sudah ia lewati. Dari nakalnya godaan laki-laki buaya dan hidung belang sudah biasa ia rasakan. Kehidupan malam, minuman keras dan pil ekstasi pernah ia cicipi.

Sampai suatu ketika Larasati pernah mabuk efek psikotropika yang ia konsumsi seakan membuatnya terbang melayang-layang tak sadarkan diri. Dan saat kembali sadar, sontak ia sudah berada di kamar kontrakannya, tertidur dalam pelukan seorang laki-laki, yang di kemudian hari menjadi suaminya dan ayah dari kedua anaknya itu.

Efek pemakaian psikotropika memang luar biasa. Psikotropika adalah suatu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Zat atau obat psikotropika ini dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan saraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya.

Pemakaian psikotropika yang berlangsung lama tanpa pengawasan dan pembatasan pejabat kesehatan dapat menimbulkan dampak yang lebih buruk, tidak saja menyebabkan ketergantungan bahkan juga menimbulkan berbagai macam penyakit serta kelainan fisik maupun psikis si pemakai, tidak jarang bahkan menimbulkan kematian.

Sejak peristiwa kecelakaan antara disengaja atau tidak, itu terjadi, jalinan cinta Larasati dan laki-laki itu pun terus berlanjut, dan berakhir di akad nikah. Dari sini drama lara Larasati ini berawal.

Menikah, bagi Larasati, lebih utama adalah soal perasaan. Soal-soal lain tentu saja bukan tidak penting. Itu penting juga. Karena menikah itu berawal dari rasa mencintai. Tidak mungkin menikah, kalau tidak ada rasa. Apalagi baginya, menikah kali ini bukan kali pertama. Ia pernah menikah tetapi tidak lebih hanya seumur jagung. Tidak sampai hitungan tahun. Beberapa bulan saja. Kandas di tengah jalan.

Maka ketika mau menikah lagi, ada rasa gamang di hati. Tapi mau tidak mau, ia harus menikah dengan laki-laki ini. Apakah ini sebuah keterpaksaan, keharusan atau memang tidak ada pilihan lagi untuk mengelak? Iya tampaknya itu semua menjadi awal pertimbanganannya dan alasan baginya untuk menikah kali ini.

Menjanda juga adalah kondisi yang kadang-kadang membuatnya gamang dan problem. Menjanda, bukan aib sebenarnya, tapi sering dianggap aib juga. Tidak sedikit mendapat perisakan dan cibiran dari orang sekitar bagi yang menjanda. Maka, menikah, paling tidak, adalah salah satu solusi mengatasi masalah yang berkaitan dengan kondisi menjanda.

Itulah, kenapa Larasati, selain hal-hal tadi di awal untuk menjadi alasan, mau menikah lagi kali ini. Walaupun, belum tentu juga, seperti slogan pegadaian "mengatasi masalah tanpa masalah". Tidak sedikit realitas ketika menjanda dan menikah lagi, tidak ada masalah. Alih-alih malah melahirkan dan menyisakan masalah baru. Dan inilah pula yang dialami Larasati di kemudian hari. []

  • view 32