Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 18 Desember 2017   15:46 WIB
Aksi Bela Palestina, Kok Soraki Menteri Agama?

Pengakuan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai ibukota Israel, akhirnya mengundang banyak protes dan aksi unjuk rasa dari berbagai negara di belahan bumi, tak terkecuali Indonesia.

Presiden Jokowi pun secara tegas turut serta menyatakan protes dan kecaman terhadap keputusan sepihak Presiden Negeri Paman Sam itu.

Aksi unjuk rasa bela Palestina di Monas Jakarta kemarin (17/12/2017), yang diinisiasi oleh MUI Pusat adalah bukti dari pernyataan sikap bangsa Indonesia yang  sangat mengecam dan protes terhadap pengakuan Donald Trump tersebut.

Kecaman dan protes itu bertumpu pada prinsip bahwa pengakuan sepihak Amerika Serikat itu jelas bertentangan dengan hak azasi manusia dan resolusi PBB tentang kemerdekaan suatu bangsa.

Artinya, bahwa kemerdekaan adalah hak azasi bagi suatu bangsa dan penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena bertolak belakang dengan kemanusiaan dan keadilan.

Aksi bela Palestina seperti ini tentu saja amat penting, paling tidak, untuk mendorong Amerika Serikat agar membatalkan keputusan dan pengakuan yang nyeleneh itu.

Selain itu, ajakan boikot produk-produk Amerika Serikat adalah salah satu pesan yang disuarakan pada aksi bela Palestina ini. Walaupun agak diragukan apakah akan diikuti oleh publik, bisa efektif memengaruhi, atau bakal berhasil tidaknya. Itu urusan lain. Yang penting sudah ada upaya menyuarakan aspirasi. Dan itu sah-sah saja dalam demokrasi, karena dijamin oleh undang-undang.

Karena nyatanya, setelah usai aksi, adalah ironis dan miris, saat pesan boikot produk Amerika itu sendiri disampaikan secara massif melalui media-media sosial yang notabene juga adalah produk Amerika, seperti WhatsApp, facebook, twitter, instagram, dan lain-lain.

Belum lagi menyangkut produk-produk lainnya dari segi fesyen, makanan siap saji, elekronik, gadget, kosmetik, dan seterusnya, semuanya sudah kadung membanjiri, mengepung dan menguasai  realitas pasar Indonesia. Maka bisa dibilang, sulit atau kalau tidak, tampaknya sia-sia saja, untuk bisa merealisasikan pesan boikot produk Amerika begitu saja. Tentu tidak semudah membalik telapak tangan.

Apresiasi terhadap aksi bela Palestina yang berjalan tertib, aman dan damai ini berdatangan dari berbagai pihak, termasuk Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang juga hadir dan bergabung bersama masyarakat dalam aksi ini.

Hanya saja ada peristiwa kecil yang tidak sedap dipandang mata, dan sangat disayangkan, ketika Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan orasi di depan peserta aksi tersebut, sontak ia disoraki, diteriaki dan dicaci maki oleh segelintir peserta aksi.

Menteri Agama diteriaki sebagai pendukung Barat, diklaim pendukung LGBT dan tidak pro terhadap kepentingan umat Islam. Makanya, "usir Menteri Agama dari sini", adalah teriakan yang keluar dari mulut mereka, peserta aksi. KH. Ma'ruf Amin, Ketua Umum MUI bahkan sempat turun tangan untuk menenangkan massa.

Di media sosial tidak sedikit netizen menyayangkan aksi bela Palestina ini dengan disertai aksi soraki dan caci maki terhadap Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. 

Prof. Nadirsyah Hosen, misalnya. Ia menulis dalam tuitnya, "Diteriaki saat orasi, mas menteri Lukman Saifuddin tentu tidak butuh support kita. Beliau penuh komitmen melayani umat atas dasar persaudaraan Islam, kebangsaan dan kemanusiaan. Beliau maklum, malah mendoakan secuil umat yang teriak-teriak itu. Terhadap mereka yang tidak sopan, beliau tetap santun". 

Cuitan Gus Nadir ini direspons oleh Prof. Muhammadiyah Amin, Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, dengan kata-kata penuh keakraban seperti ini, "Menteriku orang ikhlas dinda. Yang teriak secuil orang dibanding sebanyak orang yang menyayangi dan menghormati beliau. Salam kangen dinda Nadirsyah...".

Siapa yang "tidak sopan" alias "songong" yang nyinyir dan meneriakkan ujaran kebencian dan tidak menyenangkan terhadap Menteri Agama yang selalu santun ini? Yang jelas gampang dibaca, siapa mereka itu.

Mereka bisa jadi adalah segelintir orang yang selama ini tidak senang dan membenci pemerintahan Jokowi, kemudian menemukan momentum untuk mengeluarkan unek-unek dan meluapkan kekesalannya kepada Menteri Agama. Karena mungkin kepentingannya atau keberadaannya tidak diakomodasi oleh pemerintah. Apakah kejadian ini spontan, sudah direncanakan sebelumnya atau tidak? Entah. Wallahu a'lam.

Menteri Agama sendiri tidak mempermasalahkan, bahkan meresponsnya dengan senyuman, memakluminya dengan adanya segelintir orang yang melakukan sikap yang tidak elok di aksi bela Palestina, kemarin. 

Lukman Hakim Saifuddin mengganggap apa yang dilakukan mereka adalah kesalahpahaman saja terhadap dirinya. Ini adalah sikap yang bijak dan elegan dari seorang pejabat publik. Kalau begitu, ya sudah, abaikan saja, Pak Menteri! Anggap saja angin lalu. 

Karya : Muis Sunarya