Menyetir Golkar

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Politik
dipublikasikan 12 Desember 2017
Menyetir Golkar

Sumber foto twitter @airlangga_hrt

Siapa yang laik "menyetir" Partai Golkar ke depan menggantikan Setya Novanto?

Akhir tahun 2017 ini, diprediksi sebagai momentum sejarah perkembangan politik yang amat penting, terutama untuk Partai Golkar. 

Partai yang berlambang pohon beringin ini, akan mengakhiri tahun 2017 dan mengawali tahun 2018, bahkan menyongsong tahun politik yang panas 2019 nanti dengan ketua umum yang baru melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), yang krencananya akan digelar tanggal 19 - 20 Desember 2017. 

Munaslub ini digelar gegara Setya Novanto, ketum Golkar yang terjerat kasus dugaan korupsi e-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Siapa yang laik "menyetir" Partai Golkar ke depan untuk menggantikan Setya Novanto itu? Adalah Airlangga Hartarto, pengurus DPP Partai Golkar dan Menteri Perindustrian Kabinet Kerja pemerintahan Presiden Jokowi ini adalah calon terkuat dan yang digadang-gadang akan menjadi ketua umum Partai Golkar menggantikam Setya Novanto.

Siapa Airlangga Hartarto? 

Ir. Airlangga Hartarto, MBA, MMT, (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 1 Oktober 1962; umur 55 tahun), sosok yang disebut-sebut menjadi calon kuat ketua umum Partai Golkar menjelang Munaslub pekan depan. 

Airlangga Hartarto memang menjadi salah satu nama yang digadang kuat menggantikan Setya Novanto menjadi ketua umum Golkar. Ia juga sempat bertarung di Munaslub Golkar tahun 2016 lalu melawan Setya Novanto dan Ade Komarudin. Sayang ia tidak terpilih. Dan Setya Novanto akhirnya yang terpilih menjadi Ketum Golkar

Di samping ia pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Emiten Indonesia periode 20011-2014. Airlangga juga adalah Ketua Komisi VII DPR RI (2006-2009) membidangi energi, lingkungan hidup dan ristek dari Fraksi Partai Golkar dan tercatat sebagai Wakil Bendahara dalam Pengurus DPP Partai Golkar periode 2004-2009 dikepengurusan periode 2009-2015 tercatat sebagai Ketua DPP Partai Golkar. 

Ia terpilih kembali menjadi anggota DPR periode 2009-2014 untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat V dan menjabat sebagai Ketua Komisi VI yang membidangi perindustrian, perdagangan, UKMK, Investasi, BUMN.

Airlangga Hartarto juga menjadi Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2006-2009, Ketua Dewan Insinyur PII 2009-2012. 

Airlangga adalah anggota Majelis Wali Amanah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sd tahun 2012 dan menjadi pemrakarsa Herman Johannes Award, suatu penghargaan bagi inovasi teknologi saat ia menjabat Ketua Keluarga Alumni Fakultas Teknik UGM (KATGAMA) pada tahun 2003..

Airlangga adalah pemilik sejumlah perusahaan, dan salah satunya ia menjadi Presiden Komisaris dari PT. Fajar Surya Wisesa Tbk. (PT. Fajar Paper), perusahan multinasional yang bergerak di bidang industri kertas.

Airlangga Hartarto menempuh pendidikan di SMA Kolese Kanisius Jakarta pada tahun 1981, dan Fakultas Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada tahun 1987. Airlangga Hartarto mendapatkan gelar MBA dari Monash University Australia tahun 1996 dan Master of Management Technology (MMT) dari University of Melbourne, Australia, tahun 1997. 

Semasa studi Airlangga sudah aktif menjadi Wakil Ketua OSIS SMA Kanisius dan kemudian tepilih menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM. Ia juga pernah menjadi Ketua Barisan Muda KOSGORO 1957.

Airlangga pernah mengungkapkan bahwa ia mengagumi ajaran Mahatma Gandhi menyangkut tujuh hal yang harus dihindari, yakni kaya tanpa bekerja, kesenangan tanpa kesadaran, pengetahuan tanpa karakter, bisnis tanpa moral, ilmu tanpa kemanusiaan, penghargaan tanpa pengorbanan, dan politik tanpa prinsip.

Airlangga Hartarto menulis buku Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia (terbitan Andi Offset, Yogyakarta, 2004). Airlangga adalah putra dari Ir. Hartarto yang pernah menjabat Menteri Perindustrian di era presiden Soeharto, yaitu pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) dan Kabinet Pembangunan V (1988-1993) dan Menteri Koordinator bidang Produksi dan Distribusi (Menko Prodis) pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998).

Beberapa alasan yang bisa diungkap bahwa Airlangga Hartato adalah calon terkuat dan layak menjadi ketum Partai Golkar pasca Setya Novanto, antara lain:

1) Airlangga Hartarto sudah mendapat restu Presiden Jokowi. Kenapa perlu restu Presiden? Karena ia adalah pembanru presiden, yang dalam hal ini, sebagai Menteri Perindustrian. Bukan berarti presiden mau ikut campur dan nimbrung dalam urusan intern rumah tangga Partai Golkar. Hanya saja, tujuannya agar nanti ia tidak dipermasalahkan jika merangkap jabatan sebagai menteri dan ketua umum partai.

2) Airlangga Hartarto memiliki kapabilitas dan integritas dalam memimpin partai Golkar ke depan.

3) Airlangga Hartarto adalah sosok yang bersih atau tidak pernah terkena kasus hukum yang berkaitan dengan korupsi.

4) Airlangga Hartarto adalah sosok yang bisa diterima oleh berbagai kalangan intern partai Golkar, termasuk generasi milineal, sekalipun.

5) Airlangga Hartarto adalah sosok yang bisa memulihkan muruah, mengangkat citra,  dan meningkatkan elektabilitas partai Golkar, mampu menyatukan berbagai kepentingan dan menjalin komunikasi dengan baik, baik itu intern maupun ekstern partai.

6) Last but not a least, Airlangga Hartarto adalah politisi sekaligus pengusaha yang sangat mengerti dunia industri. 

Atas alasan-alasan itu semua antara lain yang membuat Airlangga Hartarto laik membawa Partai Golkar ke depan untuk lebih baik dan melepaskan kemelut yang terjadi dalam Partai Golkar selama ini. Bravo, Airlangga Hartarto!

  • view 100