Do'a untuk Palestina: Empati dan Solidaritas Kita

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Budaya
dipublikasikan 25 Agustus 2017
Do'a untuk Palestina: Empati dan Solidaritas Kita

Acara bertajuk "Do'a untuk Palestina" berupa pembacaan puisi-puisi karya penyair Palestina digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Kamis malam (24/08/2017).

Acara ini digagas oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri (kerap disapa Gus Mus) dan dihadiri sejumlah tokoh nasional, budayawan, penyair dan seniman.

Hadir antara lain, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Prof. Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, Butet Kertaredjasa, Prof. Quraish Shihab, Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif, Prof. Mahfudh MD, Taufiq Ismail, Mendikbud Muhadjir Effendy, Ketua KPK Agus Rahardjo, Joko Pinurbo, Sutardji Calzoum Bachri, Slamet Rahardjo, Renny Djajoesman, Ebit G. Ade, Habib Anis Sholeh Ba'asyin, Djamal D. Rahman, Ulil Abshar-Abdalla, Inayah Wahid, dan tokoh-tokoh lainnya.

Dalam sambutannya, Gus Mus  menyatakan bahwa do'a bersama ini adalah bentuk kemanusiaan, rasa empati dan solidaritas kita kepada saudara-saudara kita di Palestina.

Apalagi menurut Gus Mus, saat ini Indonesia sedang merayakan HUT RI ke-72. Namun rakyat Palestina masih memperjuangkan kemerdekaan. Padahal preambule atau pembukaan UUD 1945 menyatakan setiap negara berhak mendapatkan kemerdekaan dan penjajahan harus dihapuskan.

"Kita sedang merayakan kegembiraan hari kemerdekaan Indonesia 72 tahun. Sementara saudara kita di Palestina masih dijajah", ujar Gus Mus.

Dalam pembukaan UUD 1945 jelas dinyatakan bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Maka oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

"Saudara kita tidak kunjung merdeka, bahkan ketika kita merayakan kemerdekaan, Palestina mengucapkan selamat. Mereka yang masih terjajah mengucapkan selamat", sambungnya.

Apalagi saat Presiden RI Sukarno dan Wakil Presiden M Hatta membacakan proklamasi, Palestina negara pertama kali yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Ini menunjukkan bahwa sejarah hubungan antara Indonesia dan Palestina adalah hubungan yang sudah sangat erat dan akrab selama ini.

Indonesia menolak untuk mengakui negara Israel hingga kesepakatan damai tercapai antara Israel dan Palestina.

Indonesia sangat membela hak-hak dan kebebasan rakyat Palestina dan mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Sejak awal, Indonesia bersikap sangat bermusuhan terhadap Israel dan menolak menjalin hubungan dengan Israel.

Presiden Indonesia Soekarno mengutuk keras agresi Israel terhadap negara-negara Arab dan mendukung negara-negara Arab dalam perjuangan mereka melawan Israel.

Bahkan setelah jatuhnya Soekarno dan naiknya kekuasaan Jenderal Soeharto, Indonesia sangat mendukung perjuangan rakyat Palestina. Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat telah mengunjungi Indonesia pada tahun 1984 dan pada tahun 1993.

Dengan jatuhnya Orde Baru, Abdurrahman Wahid berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan Israel namun ia dilengserkan dari jabatannya pada bulan Agustus 2001 dan tidak ada upaya yang dipertahankan untuk meningkatkan hubungan antara Indonesia dan Israel.

Indonesia menyambut baik Deklarasi Kemerdekaan Palestina oleh Dewan Nasional Palestina di Aljir, Aljazair dan telah mengakui Negara Palestina pada 16 November 1988.

Setahun kemudian Indonesia dan Palestina menandatangani Kesepakatan Bersama pada Dimulainya Hubungan Diplomatik Indonesia-Palestina di tingkat kedutaan besar, pada 19 Oktober 1989.

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Ali Alatas, dan pejabat PLO, Farouk Kaddoumi. Setelah upacara penandatanganan, Menteri Luar Negeri Palestina menugaskan Kedutaan Besar Negara Palestina di Jakarta.

Ketika kunjungannya ke Yordania pada bulan Mei 2006, Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kembali dukungan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina termasuk melalui dimulainya kembali perundingan damai, serta mengungkapkan keprihatinan Indonesia atas kondisi Palestina, termasuk dalam hal keuangan, di tengah-tengah sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh Israel.

Sama halnya dengan Presiden Jokowi, terakhir saat kondisi memanas kembali antara Israel dan Palestina, ia pun sangat mengutuk perlakuan tentara Israel yang membatasi kebebasan umat Islam Palestina mengunjungi dan beribadah di Masjid Al-Aqsa, yang terjadi bulan Juli 2017 yang lalu.

Ini kembali dinyatakan oleh Presiden Jokowi saat menyampaikan pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI beberapa waktu yang lalu (16/08/2017).

Sesama bangsa yang pernah dijajah, tentu Indonesia merasakan betul penderitaan dan kesengsaraan yang dirasakan rakyat Palestina sekarang ini. Sebagian lirik (terjemahan) lagu Michael Heart, "We Will Not Go Down (Gaza Tonight)" ini melukiskan penderitaan rakyat Palestina itu:

"...
Kami tak kan menyerah
Di malam hari tanpa perlawanan
Kau bisa hancurkan masjid,
rumah dan
sekolah kami
Namun semangat kami tak kan
pernah mati
Kami tak kan menyerah
Di Gaza malam ini
Wanita dan anak-anak sama saja,
dibunuh dan dibantai tiap malam
..."

Acara "Do'a untuk Palestina" ini, paling tidak, adalah pernyataan sikap dan penegasan bahwa kita tidak tinggal diam menyaksikan penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara di Palestina.

Inilah rasa empati dan solidaritas kita, Bangsa Indonesia, yang dalam hal ini diwakili oleh tokoh-tokoh nasional, budayawan, penyair dan seniman yang hadir tadi malam, kepada rakyat Palestina.

Kita sangat menentang segala bentuk penjajahan yang tidak sesuai dengan rasa kemanusiaan dan keadilan terhadap rakyat Palestina yang dilakukan Israel.

  • view 66