Bahagia Itu Di Sini

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Juli 2017
Bahagia Itu Di Sini

 

Bahagia itu bicara tentang perasaan. Perasaan itu letaknya di sini (sambil menunjuk ke dada), di hati. Mana mungkin seseorang mengungkapkan kebahagiaan dengan menunjuk ke kepala atau ke anatomi tubuh yang lain selain hati. Artinya bahwa kita bahagia atau tidak, karena hatilah yang merasakannya.                                        

Bahagia Saat Membuat Orang Lain Bahagia                                                                   

Bicara tentang bahagia, tentu wajar jika setiap orang berbeda persepsi. Bahagia itu sangat subyektif dan kondisional. Yang pasti, sekali lagi, bahagia itu bicara tentang perasaan.

Ekspresi bahagia ditandai dengan rasa senang di hati, air muka berseri, tersenyum-senyum, bahkan kadang tertawa terbahak-bahak. Tapi kadang bahagia juga diekspresikan dengan gerimis air mata, terharu saking bahagianya sebagai luapan rasa senang dan gembira. Air mata bahagia, namanya.

Hanya saja jangan salah, tidak semua tersenyum, tertawa, atau juga menangis adalah ekspresi bahagia. Tapi malah sebaliknya, justru merupakan ekspresi menderita, kecewa dan bersedih. Karena orang yang terganggu akalnya juga sering senyum-senyum sendiri atau tertawa-tawa sendiri.

Lantas apa bahagia itu bagi saya? Tidak sedikit bahagia yang saya rasakan dari sejak kanak-kanak sampai usia saya yang tak lagi muda saat ini. Dari sekian bahagia yang saya rasakan, salah satunya adalah membuat semua orang di sekitar saya bahagia.

Saya sangat berbahagia ketika saya bisa menghadirkan dan membuat kebahagiaan untuk orang lain di sekitar saya. Mereka itu bisa jadi orang-orang terdekat saya, bisa anak-anak dan istri saya, keluarga saya, tetangga rumah, sahabat, teman kerja, atau siapa pun dan di mana pun saya berada dan hadir. Karena, bukankah bahagia itu ketika kita bisa membuat orang lain bahagia?

Bahagia Saat Mendapat Apresiasi

Ketika hasil kerja kita, atau karya kita mendapat apresiasi dari orang lain, di situ kita merasakan kebahagiaan. Bahagia karena diapresiasi. Bahagia karena kerja kita atau karya kita mendapat penghargaan, perhatian, pujian, empati, respons positif dan apresiasi.

Rasanya nyaris tidak ada seorang pun yang tidak senang dipuji dan diapresiasi. Hampir semua orang, senang pujian dan butuh apresiasi. Maka jangan sungkan untuk selalu memuji dan mengapresiasi orang lain. Tentu memuji dan mengapresiasinya proposional, pada tempatnya, dan tidak dibuat-buat. Wajar dan alami. Tidak sampai berlebihan, atau lebay.

Selain itu, jangan sampai memuji dan mengapresiasi (apalagi berlebihan) diri sendiri, mentang-mentang tidak ada yang memuji dan mengapresiasi. Gede Rasa (GR), atau baperan itunamanya. Laut itu sudah asin, tidak perlu Anda garami lagi. Tapi juga hati-hati dengan pujian, jangan-jangan malah berarti sebaliknya. Pujian adalah ujian. Apresiasi adalah motivasi dan sugesti. Jangan GR dulu, apalagi terlena.

Salah satu contoh pujian dan apresiasi yang benar dan wajar, tidak dibuat-buat adalah saat kita dikirimi buku sebagai hadiah oleh Redaksi inspirasi.co, karena tulisan kita, misalnya. Itu misalnya (maaf, bukan ngarep.com. tapi kalau dikasih, terima saja, terima kasih hehe...).

Karena saya pernah dikirimi buku sebagai hadiah oleh Redaksi inspirasi.co , atau barangkali sekadar dibaca saja dan direspons oleh orang, sebagai bentuk apresiasi terhadap tulisan saya, maka saya bahagia, senang tentu saja, sebab tulisan saya diapresiasi.

Apresiasi sebagai bentuk penghargaan, perhatian, pujian, kebaikan, empati dan respons positif dari orang lain adalah sebuah kebahagiaan tersendiri yang bisa kita rasakan. Dari itu, tidak ada salahnya, kita saling mengapresiasi dan diapresiasi sebagai naluri kebaikan dari kemanusiaan kita.

Bahagia Saat Memperoleh Apa yang Diinginkan

Setiap orang masih disebut sebagai benar-benar orang, atau manusia yang sebenarnya, salah satunya, jika ia masih memiliki keinginan dan harapan. Sedetik saja tidak punya harapan dan keinginan, maka harus dipertanyakan "kemanusiaannya".

Pantas ada yang menyebutkan (entah, saya juga tidak tahu, ini kata-kata siapa), "A man can live: 4 days without food, 3 days without water, 8 mins without air. But not a second without hope. So always remain optimistic!". Kalau diterjemahkan, kurang lebih, "Orang itu bisa hidup: 4 hari tanpa makanan, 3 hari tanpa air (minum), 8 menit tanpa udara. Tapi tidak (tidak bisa hidup) sedetik saja tanpa harapan. Maka tetaplah selalu optimis!".

Artinya, orang yang kehilangan harapan dan keinginan, hidupnya itu ibarat mati sebelum mati. Hidup segan mati tak mau. La yahya wa la yamut. Ironis memang. Maka selagi orang masih punya harapan dan keinginan, itu masih mending ketimbang yang tidak.  Artinya masih bisa diharapkan dan tetap optimis.

Adalah bahagia ketika kita punya harapan dan keinginan tercapai. Misalnya, lulus ujian di sekolah, diwisuda menjadi sarjana, diterima kerja, lepas dari menjomlo dan menikah, lalu punya anak, dan seterusnya, adalah contoh serangkaian harapan dan keinginan, maka ketika itu tercapai dan diperoleh, berbahagialah kita.

#BahagiaItuMudah dan sederhana, tidak perlu dipikirkan terlalu rumit. Bahagia itu ada di sini, di hati. Rasakan dan nikmati saja, tidak perlu dirasionalkan: Kenapa saya bahagia?

 

Bekasi, 30 Juli 2017

 

MUIS SUNARYA

  • view 120