Menanti Anak Bulan

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Juni 2017
Menanti Anak Bulan

pixabay.com

 

Sore ini, Sabtu (24/06/2017), seluruh umat Islam yang tengah berpuasa Ramadhan, bersama menanti anak bulan (hilal) menyeruak dari balik awan di kaki langit, dan mau menampakkan wajahnya, sebagai isyarat penghujung hari di bulan Ramadhan dan tibanya Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H.

Problemnya, suasana sore ini awan tebal tampak menggelayut di atas langit, mendung menyelimuti cakrawala, dan gerimis mulai menyapa bumi. Ini yang mengkhawatirkan anak bulan alias hilal seakan malu-malu untuk menampakkan wajahnya. Sehingga mata telanjang kita atau dengan dibantu teleskop akan mengalami kendala untuk meneropong anak bulan itu, karena pasti tertutup awan tebal.

Padahal secara teoritis anak bulan ini dimungkinkan untuk bisa dilihat (imkanur rukyat), karena sudah berada lebih dari 3 ° (derajat) di atas ufuk atau kaki langit. Tetapi jika kenyataannya anak bulan tidak bisa dilihat (dirukyat) dengan mata telanjang karena tertutup awan, maka Bulan Ramadhan harus disempurnakan atau digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Hal ini merujuk pada hadis Nabi, "Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)---Bulan Sya'ban atau Ramadhan---menjadi 30 hari".   (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Konsekuensinya, lebaran tidak akan berbarengan.

Sementara secara hisab (perhitungan kalender), sebenarnya awal bulan Syawal sebagai Hari Raya Idul Fitri 1438 H sudah bisa ditetapkan yaitu besok, Hari Minggu tanggal 25 Juni 2017. Sebagaimana Muhammadiyah misalnya, yang notabene menggunakan metode hisab, jauh-jauh hari telah menetapkan 1 Syawal 1438 H jatuh pada tanggal 25 Juni 2017, saat penetapan awal Ramadhan 1438 H diputuskan.

Kenyataan bahwa umat Islam Indonesia dan pemerintah (Kementerian Agama) dalam menetapkan penentuan awal bulan Hijriyah menggunakan kedua metode ini, hisab dan rukyat; adalah kesepakatan bersama sebagai sebuah proses ikhtiar dan ijtihad yang  sudah berjalan lama.

Hisab secara harfiah berarti perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Dalam Al-Qur'an surat Yunus (10) ayat 5 dikatakan bahwa Allah memang sengaja menjadikan matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Ar-Rahman (55) ayat 5 disebutkan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.

Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda langit (khususnya matahari dan bulan) maka sejak awal peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadap astronomi. Astronom muslim ternama yang telah mengembangkan metode hisab modern adalah Al Biruni (973-1048 M), Ibnu Tariq, Al Khawarizmi, Al Batani, dan Habash.

Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab seringkali digunakan sebelum rukyat dilakukan. Salah satu hasil hisab adalah penentuan kapan ijtimak terjadi, yaitu saat matahari, bulan, dan bumi berada dalam posisi sebidang atau disebut pula konjungsi geosentris. Konjungsi geosentris terjadi pada saat matahari dan bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari bumi. Ijtimak terjadi 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodik. 

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.

Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari. Selanjutnya, tentang Hisab dan Rukyat, bisa dibaca di sini. 

Inilah yang sering kali menimbulkan masalah krusial, apalagi ketika dihadapkan pada penentuan awal bulan Hijriyah ini dengan momen-momen tertentu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah atau ritual umat Islam, seperti puasa Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha. Karena beberapa kali terjadi perbedaan dalam menentukan awal bulan sehingga memengaruhi pelaksanaan ritual-ritual tersebut.

Yang pasti, kita tetap menanti apakah anak bulan ini mau menyeruak dan menampakkan wajahnya dari balik awan di kaki langit sore ini dan syukur-syukur ada yang bisa melihatnya sebagai referensi, sekaligus tentu kita juga tetap menanti ketetapan sidang isbat dari Kementerian Agama tentang penentuan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H ini.

Seiring dengan itu, dari lubuk hati, saya mohon maaf atas segala hal yang tidak berkenan selama ini. Ied Mubarak. Ja'alanallahu min al-aidin wa al-faizin kullu 'amm wa antum bi khairin.

 

28 Ramadhan 1438 H.

Muis Sunarya

  • view 166

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan ini sangat informatif dan kekinian tak hanya karena memuat pengetahuan tentang metode hisab dan rukyat yang sedang dinanti umat muslim jelang Idul Fitri kemarin tetapi juga mencantumkan referensi yang sangat lengkap, termasuk surat dalam Alquran.

    Tentunya tulisan Muis Sunarya ini terasa asyik dan enak dibaca sebab disajikan dalam gaya bahasa santai bukan seperti dalam berita.

    • Lihat 2 Respon