Ojo Nganti Pasamu Gabuk!

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Agama
dipublikasikan 04 Juni 2017
Ojo Nganti Pasamu Gabuk!

pixabay.com

 

Nabi Muhammad saw selalu mewanti-wanti pada umatnya yang berpuasa Ramadan dengan sabdanya, "Betapa banyak yang berpuasa, tapi muspra, karena sekadar menahan lapar dan haus".

Terkait dengan sabda Nabi ini, ada kisah menarik bahwa suatu hari di Bulan Ramadan, Rasul saw lewat di suatu rumah dan mendengar dengan jelas seorang majikan sedang memarahi dan memaki-maki pembantunya. Rasul menghampiri majikan itu sambil membawa makanan dan menyuruhnya untuk berbuka.

Seorang majikan tersebut merasa heran dan bertanya-tanya, kenapa Rasul memperlakukannya seperti ini, padahal ia sedang berpuasa.

Kata Rasul, "Bagaimana mungkin anda berpuasa, sedangkan aku mendengar anda tadi memarahi dan memaki-maki pembantumu?" Makanya, "Begitu banyak orang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa (makna) dari puasanya, kecuali rasa lapar dan haus", Rasul menutup sabdanya. Baca juga artikel saya terdahulu di sini. 

Berpuasa itu mestinya tidak berhenti pada kondisi yang sekadar menahan diri untuk tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seks beserta hal-hal yang membatalkan puasa di siang hari, tapi lebih daripada itu, mestinya sampai pada kondisi menahan diri, mengendalikan hawa nafsu dan menghindari perbuatan yang keji dan tidak terpuji.

Bahkan, berpuasa itu mestinya lebih bersifat esoterik dan metafisik, yakni hanya berorientasi dan memfokuskan diri pada keridhaan Allah semata. Artinya, terbebaskan dari kebutuhan dan kecenderungan perilaku yang bersifat eksoterik dan duniawi yang dapat merendahkan muruah (martabat dan derajat) kemanusiaan dan hamba-Nya yang paling mulia.

Ramadan hanyalah momentum dan madrasah selama sebulan. Tapi, dalam sebulan ini, mampukah kita memanfaatkannya semaksimal mungkin sehingga memiliki efek positif pada sebelas bulan berikutnya?

Tradisi baik di Bulan Ramadan yang kita lakukan, ibarat menenun kain, jangan sampai kain yang sudah utuh dan kuat itu terurai menjadi utasan benang kembali (Q.S. An Nahl ayat 92).  Sungguh kerja yang sia-sia. Artinya, semangat keberagamaan yang menggebu dan cahaya spiritual yang berpendar selama sebulan penuh di Bulan Ramadan, jangan sampai melemah dan meredup kembali di bulan-bulan di luar Ramadan.

Tradisi tadarusan, qiyamul lail, bersedekah, dan amalan-amalan baik lainnya selama Ramadan, harus terus dirawat pada bulan-bulan di luar Ramadan. Jangan sampai berhenti pada Ramadan ini saja. Makanya, diharapkan di Bulan Ramadan ini, kita berpuasa selain harus benar tapi juga beuneur.

Benar artinya sesuai dengan yang disyariatkan. Memenuhi syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan puasa secara fiqih. Sedangkan, yang namanya beuneur (Sunda) artinya berisi. Lawannya adalah hapa (Sunda) atau gabuk (Jawa) artinya hampa, kosong, tak berisi.

Berkaitan dengan ini, dalam literatur kitab klasik, misalnya, Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali (wafat tahun 505 H) memilah ritual puasa kepada tiga kategori : Shaum al-'umum (puasa umum), shaum al-khusus (puasa khusus) dan shaum khusus al-khusus (puasa super khusus).

Shaum al-'umum, yaitu berpuasa dengan menjaga perut dan alat kelamin dari perbuatan syahwat. Seperti yang sudah diuraikan di atas, berpuasa sekadar menahan diri dari tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seks sepanjang hari di bulan Ramadan. Puasa seperti ini dikategorikan sebagai puasanya kebanyakan orang, atau (kerap disebut) sebagai puasanya orang awam.

Shaum al-khusus, yaitu berpuasa tidak sekadar menahan diri dari tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seks, sebagaimana katagori pertama, shaum al-'umum; tapi lebih daripada itu, adalah berpuasa dengan menjaga seluruh organ tubuh, baik itu pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, maupun kaki dari perbuatan keji dan dosa. Puasa seperti ini adalah puasanya orang-orang salih.

Adapun shaum khusus al-khusus, adalah puasa kalbu dengan menjaganya dari pengaruh negatif atau merendahkan martabat kemanusiaan dan pikiran-pikiran yang bersifat duniawi. Puasa seperti ini hanya berorientasi dan memfokuskan diri kepada Allah. Kalbu hanya mengharap keridhaan Allah semata. Berpuasa yang lebih bersifat esoterik dan metafisik. Terbebaskan dari kebutuhan dan kecenderungan duniawi dan bersifat eksoterik. Puasa ini maqamnya para Nabi dan para sufi. (Lihat, Al-Imam Abi Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 1, Daar El-Hadis, Kairo, h. 307).

Makanya, dalam bahasa Jawa, ada ungkapan, "Ojo nganti pasamu gabuk", jangan sampai puasamu hampa, kosong, tak berisi. Ibarat menanam padi, ketika panen raya, kita menghasilkan bulir-bulir padi yang berisi (beuneur), Bulir-bulir padi yang berbobot dan bernas.

Untuk itu, dengan berpuasa, kita sebenarnya kembali menyemai, menanam, memupuk, menyirami, merawat kesadaran kita untuk senantiasa mendekatkan diri (muqarabah) dengan Tuhan, sehingga kita merasakan Tuhan begitu dekat dengan kita. Pada gilirannya, kita pun merasakan bahwa Tuhan selalu mengawasi (muraqabah) segala tindak tanduk kita setiap saat. Itulah antara lain, buah dari berpuasa.

Kalau kita terus merawat dengan baik kesadaran ini saja sepanjang hidup kita, maka takwa kepada Tuhan, menjaga muruah (martabat) sebagai manusia dan hamba-Nya yang paling mulia, yang nota bene merupakan tujuan berpuasa sudah kita petik.

Sekali lagi, kita berpuasa, mestinya tidak saja benar, tetapi juga (dituntut) beuneur, berisi dan bernas. Ojo nganti pasamu gabuk. Jangan sampai puasa kita kosong, hampa, tak berisi. Semoga.

  • view 151