Ramadan, Bulan (Mendadak) Religius

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Agama
dipublikasikan 27 Mei 2017
Ramadan, Bulan (Mendadak) Religius

 

Kembali kita kedatangan tamu agung, tamu yang selalu ditunggu dan disambut antusias oleh umat Islam di seluruh dunia, yaitu Bulan Suci Ramadan 1438 H.

Setiap kali datang Bulan Ramadan, yang utama, kita tidak pernah absen untuk berpuasa. Sehingga tampaknya kita merasakan bahwa berpuasa di Bulan Ramadan sekadar rutinitas tahunan saja. Karena selama ini kita berpuasa hanya sebatas menggugurkan kewajiban.

Tuhan memerintahkan kita berpuasa di Bulan Ramadan adalah kewajiban yang harus diterima dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Kita tidak perlu protes dan kritis mempertanyakannya.

Dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, kita mesti menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan seks, serta hal-hal yang membatalkan puasa.

Di bulan-bulan selain Ramadan ini, justru kita tidak dilarang untuk memenuhi tiga kebutuhan mendasar tadi (makan, minum dan hubungan seks) di siang hari. Lantas, apa makna dari semua ini?

Maknanya antara lain, diharapkan dengan berpuasa di Bulan Ramadan, kita dilatih untuk menahan dan mengendalikan tiga kebutuhan mendasar ini. Jangan sampai kita diperbudak dan dijajah oleh kebutuhan perut dan biologis ini. Karena tidak sedikit hancurnya seseorang, salah satunya disebabkan oleh kebutuhan ini yang menguasai kehidupannya, atau ia tidak bisa mengendalikan kebutuhan mendasar ini secara positif dan proposional.

Selain itu dengan menahan lapar dan haus, kita dilatih dan diajarkan agar rasa lapar dan haus ini mampu menyentuh sisi ruang batin kita untuk sepenuhnya menyadari, peduli sekaligus berempati pada orang lain yang merasakan kelaparan atau kekurangan secara ekonomi.

Selain berpuasa, ritual lain yang walaupun hukumnya tidak wajib, tapi sunnah muakadah (sangat dianjurkan), juga tidak absen dilakukan di Bulan Ramadan, yakni Salat Tarawih.

Salat Tarawih yang kita lakukan tiap malam di Bulan Ramadan ini juga tampaknya sama sekadar rutinitas, menggugurkan kewajiban dan ada perasaan tidak enak saja kalau dilihat oleh orang lain, kita tidak bertarawih. Salat Tarawih itu adanya setahun sekali. Di bulan-bulan yang lain tidak ada.

Tadarusan adalah juga ritual yang semarak di bulan suci ini. Tadarusan adalah membaca Alquran secara tartil  dan biasanya ada keinginan kuat untuk cepat khatam atau tamat 30 juz. Itu pun tampaknya sekadar kejar target. Tidak pernah paham apa yang dibaca. Masih mending ketimbang nggak.

Atau paling tidak karena di Bulan Ramadan inilah musimnya tadarusan. Semua orang mendadak religius dan agamis dengan semangat dan girah yang tinggi untuk membaca Alquran atau tadarusan ini. Kita pun seakan sebatas ikut-ikutan larut dalam ritual yang sudah mentradisi ini. Karena di bulan-bulan yang lain, tahu sendiri, kita jarang sekali menyentuh kitab suci Alquran itu, apalagi membacanya dan lebih lagi memahami arti dan tafsirnya. Boro-boro.

Dengan berpuasa di Bulan Ramadan ini mestinya membuat kita menyadari betul bahwa puasa yang kita lakukan itu hanya Tuhan yang tahu. Kita berpuasa atau tidak, bukan urusan orang lain. Ini urusan kita sendiri dengan Tuhan. Berpuasa adalah ritual yang sangat pribadi dan rahasia. Manusia tidak bisa ikut mengintervensi.

Makanya kita percaya bahwa Tuhan selalu mengawasi dan melihat setiap apa yang kita lakukan. Tapi apakah itu berpengaruh terhadap perilaku kita?

Sepertinya tidak berpengaruh apa-apa. Kita tetap saja berbuat zalim, mengadu domba, menghasut, memfitnah, menyebar ujaran yang tidak menyenangkan, penuh kebencian dan kebohongan, menipu orang lain, berbuat korup, dan seterusnya yang merupakan perbuatan keji dan tidak baik, jauh dari ajaran kesalehan. Mestinya, dengan berpuasa, kita mampu menahan diri dari semua perbuatan yang tidak baik.

Berkaitan dengan hal ini, ada kisah menarik bahwa suatu hari di Bulan Ramadan, Rasul saw lewat di suatu rumah dan mendengar dengan jelas seorang majikan sedang memarahi dan memaki-maki pembantunya. Rasul menghampiri majikan itu sambil membawa makanan dan menyuruhnya untuk berbuka.

Seorang majikan tersebut merasa heran dan bertanya-tanya, kenapa Rasul memperlakukannya seperti ini, padahal ia sedang berpuasa.

Kata Rasul, "Bagaimana mungkin anda berpuasa, sedangkan aku mendengar anda tadi memarahi dan memaki-maki pembantumu?" Makanya, "Begitu banyak orang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa (makna) dari puasanya, kecuali rasa lapar dan haus", Rasul menutup sabdanya.

Pertanyaan mendasar, apakah kita ini benar-benar sedang berpuasa Ramadan? Jangan-jangan kita berpuasa sekadar berpura-pura saja dan cuma mendadak menjadi religius, tanpa berpengaruh apa-apa terhadap kesalehan pribadi dan sosial kita. Atau jangan-jangan kita berpuasa, padahal tidak.

Alhasil, berpuasa sekadar rutinitas dan muspra. Puasa yang kehilangan makna. Berpuasa tapi hampa. Tidak berfaedah dan berpengaruh signifikan untuk kesalehan diri dan sosial sekaligus. Sangat disayangkan, tapi itulah kenyataan.

 

 

  • view 195