Karangan Bunga, Sebuah Apresiasi

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 April 2017
Karangan Bunga, Sebuah Apresiasi

Fenomena kiriman beratus karangan bunga yang membanjiri balai kota DKI Jakarta dari para simpatisan dan pendukung Ahok, #SetelahAhok kalah, adalah fenomena baru dari realitas perpolitikan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah terjadi, bentuk simpati dan apresiasi bagi yang kalah dalam perhelatan kompetisi politik. 

Ini adalah realitas terbalik. Mestinya yang menang biasanya yang mendapat apresiasi seperti ini, sebagai ucapan selamat dan harapan, mensyukuri dan merayakan kemenangan.

Terlepas kemudian ada sikap nyinyir dan pandangan negatif dari sebagian orang, terutama pendukung Anies, bahwa beratus-ratus, konon menurut data dari pihak balai kota pemda DKI Jakarta, lebih dari 400 buah karangan bunga, adalah refleksi sikap para pendukung Ahok yang belum bisa move on, bahkan diklaim ada rekayasa dari sebuah pencitraan.

Sudahlah itu nggak usah diperdebatkan. Bukankah kenyataannya memang dari awal yang ada hanyalah "Ahoker", tidak ada yang namanya "Anieser"?

Lagi pula, apa maksudnya dibalik kata-kata para "Anieser" [?] buat para Ahoker untuk segera move on? Ke siapa, ke Anies? Bukankah Ahok sampai hari ini masih gubernur DKI Jakarta sampai Oktober nanti?

Atau apakah itu sekadar untuk membungkam para simpatisan dan pendukung Ahok, agar tidak banyak berkomentar dan menagih janji-janji Anies - Sandi saat kampanye, yang utama misalnya soal rumah dengan dp 0 % atau Rp 0, KJP Plus, atau menyoal menangnya gegara aksi berjilid, bermain isu SARA, politisasi agama, masjid, mayat dan lain-lain itu?

Terus kalau fenomena karangan bunga tersebut dikaitkan rekayasa, memang ada buktinya? Dikaitkan pencitraan, vested interest dan kepentingan, untuk apa dan bukankah Ahok sudah kalah dan menerima dengan lapang dada?

Agak ribet memang kalau segala sesuatu dilihat pakai kaca mata politik. Semuanya serba politis. Menjadi abu-abu dan samar. Sebuah ketulusan bisa dipandang sebagai ketidaktulusan, atau ada rekayasa politik, pencitraan, memihak, vested interest dan ada kepentingan.

Pilkada DKI Jakarta kemarin, memang sejak awal sudah diprediksi oleh pengamat politik cenderung memiliki efek luar biasa terhadap kehidupan berbangsa secara nasional.

Ada kecenderungan membelah warga bangsa, memecah dan mengoyak kesatuan dan persatuan bangsa. Ada konflik dan ketegangan luar biasa antar warga bangsa.

Maka #SetelahAhok kalah dalam pilkada DKI Jakarta ini, diperlukan rujuk nasional dan bergandengan tangan kembali dalam menenun kebangsaan dan merajut kebhinnekaan kita yang sempat terkoyak gegara pilkada yang mencekam ini.

Karena kalau tidak, efek pilkada DKI Jakarta kemarin yang sangat memengaruhi kondisi kita dalam berbangsa yang nyaris berada di pinggir jurang kehancuran dan perpecahan, bisa-bisa benar terpeleset dan jatuh ke jurang itu. Sungguh tidak diharapkan. Na'uzu billah. Kita berlindung kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dari segala kuasa.

Karangan bunga tetaplah karangan bunga. Ia pasti tidak bersalah. Betul memang ia adalah simbol dari ketulusan, keindahan, simpati dan apresiasi, cinta dan kasih sayang dari mereka yang mengarang bunga untuk seseorang yang dituju dan dianggap sangat istimewa, begitu memesona dan berjasa, yang kebetulan dalam hal ini adalah seorang Ahok.

Tapi kenapa justru mereka yang note bene "Anieser" [?] yang mestinya santun dan penuh lemah lembut seperti Anies, junjungannya yang dikenal selama ini, menjadi begitu beringas laiknya preman, nyinyir dan melampiaskan kemarahan dan kekesalannya pada karangan bunga dengan membakarnya ramai-ramai? Apalā ya'qilūn? 

Atau jangan-jangan memang dari awal dan sejak dari sononya, mereka sudah kehilangan akal sehat?

  • view 120