Ayat (Untuk) Kursi

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Puisi
dipublikasikan 24 April 2017
Ayat (Untuk) Kursi

Tuhan, maafkan aku
tentang yang kemarin itu
kupinjam ayat-ayatMu
sekarang kukembalikan lagi padaMu.

Aku tak bermaksud memakai
ayat-ayatMu, lalu kugadai
Tidak sama sekali
tapi sekadar meminjam sesekali
Entah nanti
Demi kursi kekuasaan yang kuingini.

Dan hari ini,
itu semua sudah kugapai
Kugenggam erat dalam jemari
dalam waktu berbilang hari
Kini kursi itu pasti kududuki.

Ingin kulunasi janji-janji
Tapi bagaimana nanti
Izinkan dulu aku menikmati
Untukku dan mereka dengan suka
hati
Yang sudah terlibat berkeringat
menyertai dalam proses suksesi
Menembus malam dan hari-hari
sampai Oktober nanti
dengan pesta pora kemenangan
dalam kompetisi
Bersama menari-nari, ketawa-ketiwi,
berhaha-hihi
atas suksesnya demonstrasi
dan aksi-aksi berjilid berisi caci maki
dan intimidasi
mencatut nama Sang Ilahi
pakai ayat-ayatNya yang suci
demi kursi yang kunanti
yang menjadikan mimpi membukti.

Tolong-tolonglah jangan iri
Untuk mereka yang meratapi
sedih dan luka di hati
Karena petahana tidak sampai
kembali menduduki kursi
yang konon terbukti melayani
terima-terimalah saja dengan
lapang hati
sabar-sabarlah, tak perlu
menggerutui lagi merecoki
dengan menagih janji
dilantik saja belum ini.

Tuhan, maafkan aku
Aku pun menyadari firmanMu
Yang populer dengan sebutan
Ayat Kursi itu,

Allah, tidak ada tuhan selain Dia.
Yang Mahahidup, Yang terus
menerus mengurus (makhlukNya),
tidak mengantuk dan tidak tidur.
MilikNya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Tidak ada yang dapat memberi
syafaat di sisiNya tanpa izinNya.
Dia mengetahui apa yang
di hadapan mereka
dan apa yang di belakang mereka,
dan mereka tidak mengetahui
sesuatu apa pun tentang ilmuNya
melainkan apa yang Dia kehendaki.
KursiNya meliputi langit dan bumi.
Dan Dia tidak merasa berat
memelihara keduanya,
dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.
(QS. 2 : 255)

Tapi, Tuhan, aku panik
bagaimana mungkin aku bisa
mengalahkan pejawat yang sangat menarik dan heroik
Pendukungnya yang banyak nan
fanatik
Itulah mengapa aku pinjam
ayat-ayatMu untuk memantik
Menuduh mereka yang
mendukungnya sebagai munafik
massifkan spanduk untuk menampik
menyalatkan jenazah mereka yang fasik.

Buat elektabilitasku terus menaik
terbukti aku menang walau tanpa karangan bunga simpatik
tak peduli buruk atau baik
yang penting asik walau mengusik
tenun kebangsaan dan kebhinnekaan
yang selama ini aku cita-citakan
asalkan kursi kekuasaan sudah di genggaman.

Tuhan, sekali lagi, maafkan
ayat-ayatMu kukembalikan
Bukan aku tak membutuhkan
Tapi karena telah usai permainan
aku, yang sudah hilang kesabaran
bersama kerumunan preman bersorban
yang mabuk kemenangan
yang nafsu kursi kekuasaan.

Yang kepalang tanggung lakukan penghianatan
atas nilai-nilai integritas dan
keyakinan perjuangan para pahlawan
yang menjadi teladan
yang sudah merajut kebangsaan
dengan darah dan air mata
kesengsaraan
merebut kemerdekaan
dari cengkeraman penjajahan
untuk negeri yang berketuhanan
meretas bangsa yang berperadaban
terwujud kemakmuran dan
kesejahteraan
Indonesia dengan keragaman
suku, agama, ras, dan antar
golongan
hidup bersama dalam keindahan
simponi kerukunan dan keharmonisan
Indonesia dengan kebhinnekaan.

Saatnya bergandeng tangan
menepis ujaran kebencian dan tidak menyenangkan
tumbuhkan persatuan dan kesatuan
untuk bangsa yang berkemajuan
dalam payung lindungan Tuhan
Pemilik semua kekuasaan.
Maafkan aku, Tuhan.

  • view 117