Ketika Dua Nani Menikah Hari Ini

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 April 2017
Ketika Dua Nani Menikah Hari Ini

 
Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fi khair (Semoga Allah selalu memberkahimu dan menyatukanmu berdua dalam kebaikan).

 

Ada yang menarik di hari ini, 16 April 2017, tentang prosesi pernikahan dua perempuan yang bernama Nani. Dua Nani ini tidak ada hubungan apa-apa dan tidak saling mengenal. Entah ini hanya kebetulan atau sudah menjadi takdir bagi mereka berdua melepas kesendiriannya dari sama-sama menjanda dan memutuskan untuk menikah, hari ini. 

Nani yang pertama bernama lengkap Nani Wijaya, seorang artis berusia 73 tahun. Menjanda selama tujuh tahun. Dan hari ini, ia memutuskan untuk melepas status jandanya, menikah dengan seorang pria yang juga usianya sudah senja dan tidak terlalu jauh selisih usianya, berusia 79 tahun, seorang sastrawan kenamaan, yaitu Ajip Rosidi. Akad nikahnya dilangsungkan di Masjid Agung Kasepuhan Cirebon.

Nani yang kedua, bernama lengkap Nani Nurhayati, kelahiran tahun 1973 (usia 44 tahun). Seorang perempuan yang menjanda lebih lama dari yang pertama, yaitu selama 20 tahun. Rentang waktu yang hampir separo dari usianya.

Ia pun memutuskan melepas status jandanya, menikah dengan seorang pria berstatus lajang alias jejaka ting-ting berusia 51 tahun (1966), bernama Ir. Bachtiar Koenrad. Akad nikahnya dilangsungkan di kediaman keluarga Nani, di Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur.

Saya tidak mengenal baik dengan kedua Nani ini. Saya tahu Nani Wijaya lewat aktingnya di beberapa sinetron yang tayang di televisi, sedangkan Nani Nurhayati, saya baru mengenal orangnya saat akad nikah dilangsungkan. Saya hadir untuk memandu prosesi akad nikahnya pada pagi hari ini.

Beberapa hal yang menarik untuk disoroti dari peristiwa pernikahan kedua Nani ini adalah soal yang berkaitan dengan status menjanda, mencintai, move on dan keluarga sakinah mawadah wa rahmah (samara).

Menjanda

Kehidupan dalam kondisi kesendirian dan status menjanda adalah kondisi dan status yang tidak pernah diinginkan oleh seorang perempuan.

Kesendirian setelah menikah dan berstatus menjanda berbeda dengan kesendirian dan menjomblonya seorang perempuan yang belum menikah. Berbeda tantangan, ujian dan persepsi publik memandangnya.

Status janda itu sensitif dan kerap kali dipandang kurang baik atau bahkan negatif dalam persepsi masyarakat kita. Perempuan yang menjanda, baik itu akibat perceraian ataupun ditinggal mati suaminya, sama saja sering menjadi korban pelecehan, perisakan dan gunjingan , baik oleh kaum Adam ataupun sesama kaum Hawa itu sendiri.

Menjanda adalah situasi yang dilematik dan tidak nyaman bagi yang bersangkutan. Menjanda itu sebenarnya bukan pilihan yang tepat dan tidak untuk dipilih. Rasanya hampir tidak ada seorang pun perempuan di dunia ini yang bercita-cita menjadi seorang janda. Menjanda adalah keterpaksaan keadaan dan alternatif dari situasi yang tidak ada pilihan lagi. Mentok dan merupakan jalan buntu.

Menjanda akibat perceraian, terutama. Alasannya selalu begitu, bertumpu pada : Untuk apa pernikahan atau rumah tangga yang sudah tidak ada kecocokan lagi dan sering cekcok dipertahankan? Bukankah lebih baik diselesaikan saja dan bercerai adalah solusi yang baik daripada hidup berumah tangga serasa hidup seperti di neraka?

Itulah barangkali yang terjadi pada pasangan suami istri yang kehidupan rumah tangganya kandas di tengah jalan dan berakhir dengan perceraian di pengadilan. Sulit dipertahankan dan tidak ada pilihan lagi, kecuali perceraian.

Menjanda itu tidak seperti motto pegadaian "mengatasi masalah tanpa masalah", tetapi menjanda adalah mengatasi masalah menyisakan masalah. Apalagi kalau sudah ada anak-anak. Mereka ikut menjadi korban.

Solusi dari kondisi menjanda, pilihannya tidak lain : menikah lagi atau tetap menjanda.

Menikah lagi, artinya kembali menerima dan hidup bersama sang mantan, merajut kembali cinta kasih yang pernah terkoyak, rujuk atau memperbarui (mengulang) akad nikahnya. Karena sudah habis masa iddah (masa tunggu) bagi janda, akibat perceraian.

Kalau tidak, mau tidak mau, mesti membuka diri, menyediakan, dan mengisi sisi ruang batinnya untuk mencintai pria lain. Bersedia melupakan kenangan dan cinta masa lalunya. Mau berkompromi dengan keadaan. Berpindah ke lain hati, move on. Berhijrah dari satu takdir ke takdir yang lain.

Tetap menjanda, artinya bersedia hidup dalam kesendirian dan menjomlo, mandiri dan melepaskan diri dari bayang-bayang laki-laki sebagai suami dan pasangan hidupnya, menjadi orang tua tunggal (single parent) bagi yang sudah dianugerahi buah hati dari pernikahannya yang lampau, menerima dengan lapang dada, tabah dan tawakal dengan status menjanda, apa pun konsekuensinya.

Mencintai dan Move On

"Cinta itu bicara halusnya perasaan. Ia hadir tanpa diundang dan dipaksakan", tulis Meliana Cessy Goeslaw (Melly Goeslaw) dalam lagu "Memang Kenapa Bila Aku Perempuan?". Cinta itu adalah anugerah Tuhan Yang Maha Cinta. Ia akan datang tepat dan indah pada waktunya. Cinta ditandai adanya getaran perasaan yang unik di hati. Ia dapat membuat hati berbunga-bunga. Ia juga melahirkan perjuangan dan pengorbanan

Bagi yang menjanda, seperti Nani Wijaya dan Nani Nurhayati, mencintai seperti mendapatkan barang mewah. Begitu istimewa. Karena berbagai perasaan harus dilewatinya untuk sampai pada keputusan mencintai pria yang lain dan baru menggantikan rasa cintanya pada mantan suaminya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk move on dan pindah ke lain hati.

Samara

Perkawinan menurut hukun Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. (Kompilasi Hukum Islam, Pasal 2 dan 3).

Bentuk kehidupan rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah, seperti bentuk piramida. Puncaknya adalah sakinah, tangganya adalah mawaddah dan rahmah. Jangan berharap sampai ke puncaknya, jika tidak menaiki dan melalui lebih dulu tangganya itu.

Makanya disebut "rumah tangga", karena bagaimana mungkin seseorang merasakan "merumah" atau "at home" (kenyamanan, ketenangan, kedekatan, kebersamaan, kemesraan, keharmonisan), jika tidak mengalami lebih dulu proses awal yaitu menjalani dan menaiki "tangga" menuju kepada kondisi "merumah" atau "at home" itu.

Sakinah artinya ketenangan. Dengan menikah diharapkan tercipta rasa ketenangan bagi pasangan suami istri. Ketenangan dalam kehidupan berumah tangga.

Ketenangan itu lahir dari rasa saling mencintai (mawaddah) dan saling menyayangi (rahmah). Mencintai dalam arti mawadah adalah mencintai yang masih bersifat lahiriyah (fisik) dan material.

Sedang mencintai dalam arti rahmah adalah mencintai yang lebih bersifat spiritual dan immateri. Tidak lagi memandang hal yang bersifat lahiriyah dan fisik.

Kondisi mencintai dalam pengertian rahmah, secara sederhana terlihat pada proses saling mencintai pasangan suami istri yang sudah kakek-kakek dan nenek-nenek, seperti yang terjadi pada pasangan Nani Wijaya dan Ajip Rosidi, menjalin cinta dan menikah sama-sama di usia senja, apa yang mau dilihat dan diharapkan secara fisik atau lahiriyah.

Mencintai dalam kondisi ini tentu saja tidak lagi sebatas fisik, tapi lebih pada non-fisik, spiritual dan ruhaniyah. Inilah sebenarnya maqam mencintai yang paling tinggi.

Mabruk! Selamat berbahagia untuk dua Nani : Nani Wijaya dan Nani Nurhayati yang sudah menikah hari ini. Semoga Allah selalu memberi keberkahan dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

  • view 174