Anak Saya Takut Filsafat

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Filsafat
dipublikasikan 10 April 2017
Anak Saya Takut Filsafat

Foto: pixabay.com

 

Bagi para peserta didik kelas XII Sekolah Menengah Atas (SMA) dan yang sederajat (Madrasah Aliyah, STM, SMEA, dan lain-lain), hari-hari ini disibukkan dengan ujian-ujian akhir, Ujian Sekolah (US), Ujian Sekolah Bersatndar Nasional (USBN) dan Ujian Nasional (UN). Ternyata banyak amat ujiannya sekarang!

Saat seperti ini tentu bagi mereka sedikit banyak adalah hari yang sangat menegangkan, karena dengan begitu mereka dibebani pikiran apakah mereka akan lulus, atau paling tidak mereka akan belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai yang bagus seperti yang dicita-citakannya.

Selain itu tentu mereka bersiap-siap, terutama yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk perguruan tinggi, memilih fakultas dan jurusan apa yang akan diambil.

Soal memilih fakultas dan jurusan, ini juga bagi mereka sangat membutuhkan pikiran dan pertimbangan yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi diri, kecenderungan, minat dan prospek, peluang kelulusan dan daya tampung---khusus yang ingin kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN)---untuk bisa lolos di jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SNMPTN).

Tak terkecuali anak sulung saya yang juga saat ini duduk di kelas XII SMA, merasakan kondisi seperti itu. Ia merasakan kondisi untuk memilih dan menentukan jurusan atau studi apa yang akan diambil untuk kuliah di PTN itu, misalnya. Ia dihadapkan pada beragam pilihan yang menjadi minat dan kecenderungannya.

Sekali waktu, tiba-tiba ia bertanya pada saya tentang minat dan pilihannya pada jurusan atau studi filsafat. Saya jelaskan baik-baik sekilas seluk-beluk berkaitan dengan studi filsafat laiknya menyampaikan pengantar studi filsafat. Terus terang saya mendukung dan senang kalau anak saya itu memilih studi filsafat. Bagi saya tidak ada masalah.

Pertanyaan anak saya ternyata beralasan. Karena sejauh ini anak saya termyata sudah sedikit banyak mendapatkan informasi dan pemikiran yang agak negatif, entah dari siapa dan dari mana, tentang studi filsafat dan dampaknya, terutama berkaitan dengan sebuah keyakinan agama dan perilaku keagamaan. Sehingga tampak sekali rasa kekhawatiran dan ketakutannya apabila ia memilih studi filsafat.

Kekhawatiran dan ketakuatan itu misalnya, bertumpu pada pemikiran, bahwa nanti kalau belajar filsafat, khawatir menjadi kafir, sesat, dan memengaruhi sikap dan paham keagamaan, seperti tidak salat lagi dan lain-lainnya, yang berkaitan dengan pemikiran yang bersifat negatif terhadap dampak studi filsafat.

Bagaimana saya menyikapi ini? Itu pertanyaan yang ada di benak saya saat ini. Karena bagi saya yang saat kuliah dulu banyak bergelut dengan studi dan pemikiran filsafat ini, saya pikir tidak ada masalah. Baik-baik saja.

Bahkan saya sangat menikmati dan merasa nyaman dengan studi dan pemikiran filsafat ini. Asyik-asyik saja, begitu. Ibarat menikmati hidangan, saya sangat lahap mengkonsumsi beragam pemikiran filosofis dari berbagai tokoh filsuf. Misalnya, dari filsafat Yunani, filsafat barat sampai pada filsafat Islam. Atau ibarat petualangan, saya sangat menikmati petualangan di dunia filsafat ini.

Walaupun, misalnya, ada ekses negatif dari belajar filsafat, itu adalah oknum dan semacam kecelakaan intelektual saja, atau gagal paham dan sesat pikir dalam mempelajari filsafat.

Dari sini kemudian filsafat menjadi semacam korban dan "anak durhaka" yang mendapat kutukan dan sumpah serapah, sehingga pada gilirannya menjadi momok dan ketakutan luar biasa bagi sebagian orang untuk studi filsafat. Filsafat diklaim sebagai biang keladi untuk membuat orang sesat dan menyesatkan. Sehingga ada sikap antipati, membenci dan harus dijauhi filsafat itu. Bahkan sampai ada yang mengharamkan belajar filsafat. Filsafat...filsafat, kasihan amat kau!

Padahal seperti juga agama, filsafat itu sangat penting. Agama dan filsafat mestinya menjadi pasangan yang serasi. Keduanya harus didudukkan dan berada pada posisi yang sama-sama punya hak hidup dan peran dalam berkontribusi untuk kehidupan dan kemanusiaan (kemaslahatan).

Keduanya mestinya saling mengisi dan saling menggenapi, terkait erat dan terjalin berkelindan, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dan saling melengkapi.

Makanya, wajar jika dikatakan bahwa belajar filsafat tidak jauh berbeda dengan belajar agama. Bahkan agama membutuhkan percikan filsafat, dan sebaliknya, filsafat juga memerlukan cahaya agama. Nabi saw juga bersabda, "tidaklah beragama bagi siapa yang tidak berfilsafat/berakal".

Juga tampaknya tidak berlebihan, jika dinyatakan bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan.

Apalagi ketika filsafat disebut sebgai merode dan cara berpikir, maka manusia sangat bergantung dan tidak dilepaskan dari filsafat. Adalah beralasan kalau seorang filsuf Barat, Rene Descarets, menyatakan, "Cogito ergo sum" (Aku berpikir, maka aku ada). Artinya, manusia berada karena ia berpikir.

Demikianlah, kembali ke anak saya. Yang jelas,  wish him luck! Do'akan anak saya lulus di PTN tahun ini, sesuai PTN pilihannya dan pilihan studinya, salah satunya menjatuhkan pilihannya pada studi filsafat.

Kelulusanmu adalah keberhasilanmu, anakku. Itu adalah hadiah ulang tahunmu di tahun ini pada tanggal 8 April 2017, kemarin. Good luck and God bless you, always!

  • view 100