Budaya Pesisir, Tedhak Sinten dan Permainan Tradisional

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Budaya
dipublikasikan 29 Maret 2017
Budaya Pesisir, Tedhak Sinten dan Permainan Tradisional

Foto : www.brilio.net

 

Kali ini saya seperti ingin piknik atau bertamasya, tapi ke masa lalu, dulu. Menulis tentang masa lalu saya ketika masih kanak-kanak. Menembus lorong ruang dan waktu yang panjang memutar berbalik ke belakang.

Seperti berjalan, berarti saya harus berjalan ke belakang. Agak sulit sebenarnya, karena harus mengumpulkan serpihan-serpihan cerita yang sudah lama saya lalui, mengingat kembali dan menuangkannya dalam tulisan ini.

Seperti memutar rekaman, saya harus memutar ulang rekaman lama yang ada pada pikiran dan ingatan saya. Maka rekaman itu bisa jadi terlihat jelas, atau tampak samar-samar. Informasi bersumber dari orang-orang sekitar saya adalah tambahan informasi yang tidak bisa dielakkan dan sangat membantu saya melakukan tamasya ke masa lalu saya itu.

Saya tidak mungkin menuangkan semua ingatan saya atau memutar ulang semua rekaman tentang masa lalu saya. Saya akan memilah cerita yang kira-kira menurut saya perlu.

Perlu atau tidak perlu, penting atau tidak penting. Yang penting, tidak perlu membatasi keinginan saya untuk menuliskannya. Berfaedah atau tidak, urusan lain.

Kenapa saya ingin menuangkan dan berbagi ini semua dalam sebuah tulisan? Karena bagi saya, sekali lagi, khusus bagi saya, ada beberapa cerita yang menarik tentang perjalanan saya ke belakang disebabkan bersinggungan dengan beberapa sisi kehidupan, yang boleh dibilang, merupakan ranah agama, budaya dan kreativitas.

Corak Budaya Pesisir

Saya adalah anak sulung dari lima bersaudara -- sekarang hanya tinggal bertiga, karena dua saudara saya lebih dulu dipanggil Tuhan -- yang lahir dari keluarga sederhana di sebuah kampung yang tidak jauh letaknya dengan kawasan pantai Anyer, Banten.

Wajar apabila corak kehidupan keluarga saya lebih inklusif, penuh toleransi dan pluralistik sebagaimana layaknya corak budaya masyarakat pesisir. Dan itu sangat berpengaruh pada perkembangan karakter dan sikap saya di kemudian hari sampai saat ini.

Artinya, wajar juga kalau kemudian karakter dan sikap saya sekarang cenderung lebih pada sikap insklusif, toleran dan pluralis, karena memang potensi itu tertanam sejak dulu kala, semenjak saya masih kanak-kanak.

Laiknya hidup di pedesaan, untuk mengusir kejenuhan berdiam diri di rumah dan menciptakan kesibukan sehari-hari, ayah dan ibu saya cenderung lebih menyukai bercocok tanam di ladang ataupun di sawah. Walaupun ayah saya sebenarnya juga adalah seorang pegawai negeri.

Ayah yang alumnus pesantren Al-Khairiyah Citangkil Banten, adalah wajar menjadi tokoh agama dan ustaz di kampung, yang sedikit banyak menjadi tumpuan dan tempat bertanya masyarakat dalam hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial, keberagamaan dan spiritual.

Pengajian di masjid dan majlis taklim adalah wahana bagi ayah untuk mengelaborasi keilmuannya yang pernah ia pelajari di pesantren dulu.

Walaupun begitu, ayah tidak bisa berbuat apa-apa atau menentang kebiasaan dan tradisi yang masih berbau tradisi lokal yang animistik dan dinamistik yang masih dianut oleh masyarakat.

Tedhak Sinten dan Sinkretisme

Salah satunya dari tradisi lokal itu, yang yang menarik ketika saya masih balita, menurut cerita ibu, adalah pengalaman saya berupa prosesi upacara turun taneuh (sunda) atau tedhak sinten (jawa), yaitu upacara menginjak tanah atau bumi untuk pertama kalinya bagi sang anak. Karena ini manifestasi dari sinkretisme agama dan akulturasi budaya.

Budaya atau tradisi ini adalah salah satu pengaruh dari budaya atau tradisi yang bersifat animistik dan dinamistik. Pengaruh budaya ini, saat itu masih kental dan kuat melekat pada masyarakat lingkungan saya.

Adalah kakek saya yang masih percaya pada tradisi seperti ini. Dan kakek saya inilah yang punya inisiatif dan hajat untuk melakukan upacara tradisi turun taneuh atau tedhak sinten ini untuk saya, cucunya.

Kalau yang pernah nonton film "Sunan Kalijaga", pasti akan tahu bagaimana tradisi prosesi turun taneuh atau tedhak sinten ini dilaksanakan.

Yang menjadi penasaran dan selalu ditunggu orang-orang yang hadir pada upacara ini dilakukan adalah saat saya dimasukkan ke kurungan ayam, barang apa yang saya ambil ketika prosesi turun taneuh atau tedhak sinten ini?

Cerita ibu, saat itu saya mengambil alat tulis dan cermin. Kepercayaan masyarakat saat itu, berarti saya kelak akan menjadi orang terpelajar atau sekolah sampai ke jenjang pendidikan tinggi (alat tulis) dan semacam model atau suka ngaca (cermin). Apa iya? Entahlah, itu sekadar kepercayaan saja, saya pikir.

Jejak tradisi ini yang masih membekas dalam ingatan saya ketika masih balita sebelum saya masuk TK, adalah ketika saya menyadari ada yang berbeda pada diri saya dengan teman-teman (laki-laki) yang lain.

Realitas bahwa telinga kiri saya bertindik atau beranting emas. Karena merasa malu sebagai anak laki-laki, anting itu akhirnya saya lepas sendiri.

Sampai sekarang jejak itu tetap ada dan tak terhapus pada diri saya yaitu berupa bekas tindik di telinga kiri saya. Sesekali teman-teman saya bahkan mengira saya pernah menjadi anak nakal, karena bekas tindik itu hingga kini masih tampak jelas di telinga kiri saya. Saya tidak pernah ambil peduli.

Tentang tradisi turun taneuh atau tedhak sinten ini, silakan baca di sini. 

Permainan Tradisional dan Kreativitas

Masa kanak-kanak selalu identik dengan masa bermain. Bermain adalah perilaku yang melekat dengan perilaku kita saat masih kanak-kanak. Lihatlah, anak-anak kita, mereka begitu betah dan larut dengan mainan mereka, atau paling tidak, tidak mau diganggu jika sudah bermain dengan teman-temannya.

Dulu, saya terus terang jarang mengenal mainan buatan pabrik atau mainan elektronik yang kita gampang menemukannya sekarang, apalagi permainan (game) daring.

Yang saya kenal dan mainkan sendiri atau bersama-sama teman sebaya adalah mainan buatan tangan sendiri (hand made) atau mainan bersifat tradisional, seperti mainan mobil-mobilan, tembak-tembakan (perang-perangan), kelereng, layangan, petak umpet, dan lain-lain.

Saya ingat betul bagaimana saya ingin bermain mobil-mobilan, harus lebih dulu berusaha membuat sendiri mobil-mobilan itu dari gabus yang berasal dari batang (pelepah) daun sagu, atau bermain layangan, harus membuat sendiri dari sebilah bambu, meraut sendiri dan menimbangnya dengan benang, kertas minyak dan lem berasal dari cairan batang (pelepah) daun sagu, atau bermain tembakan dari pelepah daun pisang, dan banyak lagi.

Mainan buatan tangan sendiri dan permainan tradisional, bagi saya, tentu sangat berpengaruh positif pada kreativitas seseorang. Ia akan merasakan pentingnya sebuah proses dan kebersamaan. Di dalamnya ada usaha dan rasa bangga luar biasa dengan hasil karyanya, keakraban dan kebersamaan dalam sebuah komunitas dan sosialisasi.

Pengalaman masa kecil kita, tentu sedikit banyak sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadian dan kreativitas kita selanjutnya.

Kearifan lokal, toleransi pada perbedaan, terbuka pada paham yang beragam, menghormati dan menghargai kemajemukan, menyadari terhadap proses usaha dan kreatif, mengapresiasi karya, proses sosialisasi dan aktualisasi diri adalah sikap yang lahir dari lingkungan di mana kita berada dan itu tumbuh seiring dengan perkembangan kemampuan atau kecerdasan kita, baik intelektual, emosional maupun spiritual kita.

Dan saya mengalami itu semua sebagai sebuah proses dan takdir dalam hidup saya, alhamdulillah. Makanya, saya yang hari ini adalah saya yang kemarin dan tentu juga esok. "Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa", tulis WS. Rendra.

 

  • view 113