Surat Untuk Tuhan

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Lainnya
dipublikasikan 24 Maret 2017
Surat Untuk Tuhan

 

Bisakah surat yang dikirim dan ditujukan untuk Tuhan sampai ke tangan Tuhan? Sementara pada surat itu pasti tidak tertera dengan jelas alamat yang dituju. Itu problemnya. Bagi tukang pos, terutama. Ia pasti dibuat bingung.

Bagaimana surat itu dikirim ke Tuhan? Apakah surat itu sampai ke tangan Tuhan? Bagaimana pula ceritanya seseorang berkirim surat pada Tuhan? Tulisan sederhana ini bercerita tentang itu. Anda penasaran? Silakan lanjutkam membaca.

Dulu pernah viral di media daring yang konon seorang pigur imajiner bernama Mukidi. Ia digambarkan sebagai sosok yang jenaka, lucu dan polos. Sehingga saat itu banyak cerita tentang Mukidi yang lucu dan menghibur, atau sesekali menyentil realitas, yang dapat sedikit banyak mencairkan suasana, membuat tertawa atau sekadar tersenyum mesem.

Bagi anda yang kangen Mukidi dengan cerita-cerita lucu yang menghibur, mungkin di tengah suasana memanasnya atmosfer politik gegara pilkada DKI, atau sekadar menemani santai anda sembari menyeruput secangkir kopi atau teh hangat anda, ada baiknya anda lanjutkan membaca. Berikut salah satu cerita Mukidi itu.

*****

Hari itu Mukidi benar-benar merasa galau. Tatapan matanya kosong. Ia duduk sambil melamun bersandar ke dinding rumahnya. Mukidi bener-bener galau lantaran ia tidak punya uang sama sekali, padahal besok adalah hari saatnya ia harus melunasi tagihan listrik sebesar Rp 30.000. Kalau tidak, maka listriknya bakalan diputus oleh PLN.

Dalam kegalauannya itu, Mukidi tiba-tiba berpikir. Dalam pikirannya terlintas ide, ia bergumam, "kenapa tidak meminta saja langsung uang Rp 30.000 itu pada Tuhan." Karena selama ini ia meyakini bahwa Tuhan itu Maha Pemberi, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan penuh harap, Tuhan pasti bisa memberinya uang tersebut.

Akhirnya Mukidi beranjak dari duduknya, tangannya mengambil pulpen dan secarik kertas. Ia menulis surat yang akan dikirim dan ditujukan kepada Tuhan. Mukidi menulis surat itu, seperti ini :

"Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Memberi. Tuhan, saya benar-benar bingung. Saat ini saya tidak punya uang sepeser pun, sedangkan besok, saya harus membayar tagihan listrik sebesar Rp 30.000, dan kalau saya tidak bisa bayar, maka listrik saya akan diputus oleh PLN. Bagaimana ini Tuhan? Makanya saya memberanikan diri menulis surat ini. Memohon pada-Mu, Tuhan, please beri saya uang Rp 30.000 itu. Hormat saya, Mukidi".

Setelah selesai menulis surat itu, Mukidi memasukkannya ke amplop dan pergi bergegas ke kotak pos yang tidak jauh hanya sekitar 50 meter dari rumahnya. Dengan yakin ia masukan surat itu ke kotak pos.

Dan tidak lama berselang, muncullah tukang pos. Ia langsung membuka kotak pos, mengeluarkan dan membaca satu persatu surat kepada siapa dan ke mana ditujukan. Tiba-tiba, seperti tidak percaya, kaget, agak aneh dan sambil ketawa sendiri tukang pos itu, ketika matanya membaca satu surat yang ditujukan kepada Tuhan. Dalam pikirannya, ini orang bener-bener stres, masa Tuhan dikirimi surat. Ia lemparkan saja surat itu. Tukang pos pun berlalu.

Sebentar kemudian, muncul pak polisi lewat ke situ. Ia melihat surat itu dan mengambilnya. Tidak banyak pikir, ia langsung menyobek dan membaca surat itu. Sambil tersenyum sendiri, pak polisi itu langsung paham bahwa surat itu berasal dari Mukidi. Tangannya merogoh uang Rp 20.000 dan memasukkannya ke amplop surat itu. Lalu bergegas menuju ke rumah Mukidi. Sampai di rumah Mukidi, tidak lupa dia mengucap salam.

Pak polisi : "Assalamu'alaikum".
Mukidi : "Wa'alaikum salaam".
Pak polisi : "Ini saya mau menyampaikan surat dari Tuhan untuk pak Mukidi".
Mukidi : "Oh, surat dari Tuhan? Terima kasih, pak polisi".

Tidak sabar Mukidi langsung membuka amplop itu. Ia benar-benar senang melihat uang Rp 20.000 di dalamnya. Tuhan ternyata mengabulkan permintaannya. Hanya saja ia agak kecewa kenapa Tuhan menitipkan uang itu pada pak polisi.

Dalam hatinya ia bergumam, "Tuhan, nanti kalau bisa tidak usah dititip lagi pada pak polisi deh, tahu sendiri polisi. Ini aja mestinya saya dapat Rp 30.000, dia tilep yang Rp 10.000- nya". Polisi....polisi...!

  • view 240