Survei Membuktikan, Anies Baswedan Lebih Unggul di Media Sosial

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Politik
dipublikasikan 23 Maret 2017
Survei Membuktikan, Anies Baswedan Lebih Unggul di Media Sosial

Foto: pixabay.com

 

 

Ini masih soal pilkada DKI. Di putaran kedua yang kurang lebih sebulan lagi, tepatnya tanggal 19 April 2017 nanti, bisa dipastikan kalau Anies tidak kalah, berarti Ahok yang tidak menang. Tapi kalau Ahok menang, berarti Anies yang kalah.

Kalau Anies kalah, mestinya Anies kayak AHY menerima kekalahannya dengan legowo dan kesatria. Baru itu sikap politik yang elegan dan sangat terpuji.

Kalau Ahok menang, terus Anies mengakui kekalahannya. Dan Ahok pun tidak besar kepala. Hebat itu. Politik yang menenangkan dan bakal adem Jakarta.

Namun menjelang pilkada DKI Jakarta putaran kedua ini ada beberapa peristiwa yang tidak luput dari perhatian publik. Bahkan tambah memicu panasnya atmosfer pilkada ini dan sempat menjadi viral di media sosial.

Seperti massifnya spanduk di masjid-masjid di Jakarta yang bertuliskan boikot menyalatkan jenazah pendukung Ahok, berakibat munculnya kasus seorang nenek meninggal dunia bernama Hindun tidak disalatjenazahkan di musala karena ditenggarai memilih paslon Ahok-Djarot di putaran pertama pilkada DKI yang lalu. Seloroh "putaran pertama pakai ayat dan putaran kedua pakai mayat" mungkin ada benarnya.

Perhelatan haul almarhum Soeharto di masjid At-Tien TMII Jakarta Timur minggu yang lalu, tanggal 11 Maret 2017, yang dihadiri anak-anak mendiang Soeharto, fungsionaris partai Gerinda dan PKS dan tentu saja Anies Baswedan dan Sandiaga S. Uno yang layaknya sebagai pasangan calon pengantin malam itu.

Tapi ada kejadian yang tidak elok, adalah seorang Djarot Saiful Hidayat, seorang muslim yang kebetulan berpasangan dengan Ahok dalam pilkada DKI, bermaksud menghadiri acara itu tiba-tiba dihalang-halangi oleh jamaah saat akan masuk masjid. Beragama macam apa ini.

Yang paling anyar, rilis survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kemarin (22/03/2017), mengenai persepsi publik pengguna media sosial (facebook, twitter dan instagram) berkaitan dengan elektabilitas pasangan Ahok -Djarot vs Anies - Sandi di putaran kedua pilkada DKI Jakarta.

Dari pengguna ketiga media sosial tadi, baik pengguna aktif maupun tidak aktif, survei memperlihatkan bahwa Anies - Sandi lebih unggul ketimbang Ahok - Djarot.

Hanya pada pengguna aktif twitter, beruntung Ahok - Djarot lebih unggul ketimbang Anies - Sandi. Hal ini didasarkan pada faktor demografi pengguna media sosial itu sendiri.

Data menunjukkan mayoritas pengguna media sosial mereka yang berpendidikan tinggi. Semakin tinggi pendidikan pemilih, lebih berpeluang memiliki media sosial.

Di sampiing itu, faktor tingkat ekonomi. Semakin mapan tingkat ekonomi pemilih, maka bisa dipastikan memiliki dan aktif menggunakan media sosial.

Survei LSI Denny JA ini dilakukan pada tanggal 27 Pebruari - 03 Maret 2017 di Jakarta. Survei dilakukan secara tatap muka terhadap 440 responden.

Responden dipilih dengan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error survei ini plus minus 4,8%. Survei dibiayai dengan dana sendiri dan dilengkapi pula dengan kualitatif riset (FDG/focus group discussion, media anisis, dan indepth interview).

Yang menarik dari survei ini, selain alasan latar belakang demografi responden pengguna media sosial tersebut, adalah adanya tiga alasan berdasarkan isu yang menyebabkan Anies - Sandi unggul.

Isu-isu itu bertumpu pada keinginan publik punya gubernur baru, kasus Al-Maidah 51 yang membawa Ahok tersangka melakukan penistaan agama, dan ketidakrelaan publik dipimpin oleh gubernur berstatus tersangka.

Dalam survei ini, beruntung lagi bagi Ahok - Djarot sebagai petahana yang masih unggul karena tingkat kepuasan publik pengguna media sosial yang tinggi atas dasar kinerjanya dalam memimpin ibu kota Jakarta.

Mayoritas pengguna media sosial, sebesar 73,60% menyatakan sangat puas dengan kinerja Ahok sebagai gubernur. Hanya 26,40% saja yang menyatakan tidak puas.

Bahkan sebenarnya  Denny JA menyelipkan pengakuan, walau agak malu-malu dan tersamarkan oleh hasil survei yang memperlihatkan keunggulan Anies,  bahwa kalau saja Ahok tidak dijerat dengan soal sentimen agama atau politisasi agama yang membawa Ahok ke meja hijau sebagai tersangka melakukan penistaan agama, maka besar kemungkinan dan peluangnya untuk terpilih kembali menjadi gubernur DKI Jakarta karena kinerjanya. Baca disini, https://www.inspirasi.co/post/details/28435/siapa-unggul-di-media-sosial--ahok-versus-anies.

Denny JA pun meyakini bahwa dalam pilkada DKI Jakarta ini, apa pun bisa terjadi. Dalam waktu yang tinggal sebulan kurang lebih ke hari pencoblosan putaran kedua pilkada DKI Jakarta, dan bahkan di menit-menit terakhir, bisa saja terjadi kejutan yang akhirnya menghantarkan Ahok berhasil kembali menduduki singgasana kursi DKI 1 itu.

Keyakinan Denny JA ini sekaligus seolah-olah mengamini do'a dan harapan yang sama dengan warga DKI Jakarta yang menginginkan pasangan Ahok - Djarot untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta lima tahun ke depan. 

Pada saatnya publik tinggal menunggu momen penting dari Anies Baswedan yang didampingi Sandiaga S. Uno dan disertai tim suksesnya menyatakan dan menerima kekalahannya secara kesatria dan lapang dada seperti yang telah dilakukan AHY waktu itu, serta mengakui dan mengucapkan selamat atas kemenangan Ahok - Djarot kembali memimpin Jakarta. 

 

 

  • view 127