Takdir

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Agama
dipublikasikan 09 Februari 2017
Takdir

Foto: m.tempo.co
 

Bicara takdir tentu tidak bisa dipisahkan dengan keimanan kita kepada Tuhan. Dalam pengertian sederhana, iman pada Tuhan berarti mempercayai, meyakini dan mentaati ajaran-Nya.

Takdir juga sangat berkaitan dengan kebebasan manusia dan intervensi (campur tangan) Tuhan dalam menjalani hidup ini. Makanya, takdir, dalam teologi Islam, juga adalah salah satu dari enam rukun iman yang harus kita yakini.

Dalam kaitan ini, ada perbedaan pemahaman tentang keberadaan manusia dan takdirnya dalam menjalani hidup. Pemahaman bahwa manusia itu tak ubahnya sebuah wayang yang tidak memiliki kekuatan untuk bergerak, kecuali digerakkan oleh dalangnya. Dan Tuhan tak lain adalah dalangnya.

Secara psikologis, paham ini sangat berpengaruh pada ketenteraman hati ketika seseorang memperoleh musibah atau menemui jalan buntu dalam memahami dan menjalani hidup.

Pemahaman ini juga membawa sikap seseorang untuk menyerahkan hidupnya secara total pada Tuhan. Tidak boleh bersikap melawan, memberontak, merasa memiliki daya dan kekuatan, karena sesungguhnya semua yang terjadi, besar maupun kecil, suka maupun duka, semua itu telah digariskan oleh Pemilik dn Perancang hidup.

Manusia tinggal menjalaninya saja, bagaikan sebuah wayang yang bergerak semata-mata karena digerakkan oleh tangan sang dalang. Tidak lebih. Dalam teologi Islam, pemahaman ini dikenal dengan paham jabariyah.

Dalam pemahaman yang lain dinyatakan bahwa Tuhan memang Mahakuasa, namun Tuhan telah menganugerahkan dan meminjamkan sebagian kecil kekuasaan-Nya pada manusia, karya cipta-Nya yang paling dibanggakan.

Manusia, dalam hal ini, diposisikan pada puncak piramida ciptaan-Nya, sebagai titik pusat yang paling banyak diperhatikan dan disayang. Malaikat diciptakan untuk melayani dan mengawasi manusia. Bumi, air, udara, tumbuh-tumbuhan, hewan, matahari, langit, dan benda lain dicipta sebagai fasilitas hidup manusia.

Ringkasnya, setelah Tuhan, manusialah yang paling berkuasa di jagat semesta ini. Manusia, oleh karenanya, bisa bersujud dan bersyukur sedalam-dalamnya atas anugerah Tuhan.

Namun bisa juga sebaliknya. Manusia merasa otonom, bebas dan merdeka, merasa menjadi penguasa di muka bumi, sehingga tidak ada keharusan untuk bergantung pada Tuhan dalam menjalani hidupnya. Dalam teologi Islam, oleh karena itu, hal ini dapat dipilah kepada dua aliran atau pemahaman.

Pertama, disebut qadariyah, yang memandang hidup manusia bagaikan permainan catur. Kita boleh bergerak dan melangkah ke mana yang kita mau, namun terikat dengan aturan main yang tidak bisa diubah atau dilawan. Begitulah hidup kita. Kita bebas berbuat apa saja, tapi ada batasan dan kekuatan yang membatasi kita dan kita tidak bisa melawannya. Batasan itu bisa bersifat fisik atau bisa berupa hukum moral keagamaan.

Kedua, pemahaman yang meyakini bahwa Tuhan merupakan pencipta segala sesuatu, namun sebatas sebagai penyebab awal semua yang ada ini. Selanjutnya, bukan urusan Tuhan lagi. Tuhan, dalam pemahaman in, sering dianalogikan dengan pencipta jam otomatis yang super canggih. Setelah tercipta, tidak ada hubungannya lagi antara pencipta dan hasil ciptaannya.

Dalam pemahaman ini, manusia seakan-akan memiliki kebebasan yang luar biasa dan sama sekali tidak tergantung pada Tuhan, tapi pada kenyataannya tetap saja akan menghadapi tekanan dan keterbatasan sebagai manusia, baik itu secara lahiriah maupun ruhaniah, fisik maupun moral. (Lihat, Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutika, Mizan, 2011).

Berdasarkan pemahaman itu semua, manusia pada dasarnya, di satu sisi, sering tidak punya daya dan kebebasan dalam menentukan takdirnya seperti hubungan sebuah wayang dan dalangnya, tapi di sisi lain, seperti permainan catur, manusia juga memiliki kebebasan menentukan hidupnya sesuai usaha dan proses yang dilakukannya berdasarkan sistem dan aturan main yang sudah ada dan baku diciptakan oleh Tuhan atau sesuai sunatullah.

Bahkan lebih daripada itu, manusia juga memiliki kebebasan luar biasa menentukan takdirnya tanpa campur tangan Tuhan sama sekali, karena Tuhan sudah membekali perangkat dan kemampuan berupa akalnya untuk menentukan takdirnya sendiri.

Yang jelas, manusia tidak bisa dilepaskan dari takdir. Keberadaannya adalah takdir. Tulisan tentang takdir ini pun dan membacanya adalah bagian takdir juga. Dan bukankah percaya dan tidak percaya takdir adalah takdir itu sendiri? Wallahu a'lam.

  • view 70