Buah Bibir dari Monash Tentang Buih di Monas

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Agama
dipublikasikan 10 Desember 2016
Buah Bibir dari Monash Tentang Buih di Monas

Foto: http:// Pixabay.com

 

Setelah aksi 212 yang notebene super damai itu, tidak sedikit orang merespons dan memberi penilaian. Ada yang berujar "subhanallah" sebagai rasa takjub dan bangga. Ada yang histeris "Allahu Akbar" sebagai luapan emosi, dukungan luar biasa dan girah keagamaan.

Ada juga yang biasa-biasa saja dan bahkan melontarkan kritik bahwa fenomena itu adalah hal biasa dan wajar, karena dorongan emosional atas dasar motif agama, kemudian terjadi kerumunan umat Islam dan itu seperti buih, sekadar merefleksikan kuantitas, bukan kualitas, dan ini pakai rujukan hadis Nabi.

Kritik yang terakhir dan akhir-akhir ini menjadi perbincangan dan buah bibir di media sosial, yang menyatakan bahwa kerumunan umat Islam di aksi 212 itu layaknya buih, sekadar menunjukkan kuantitas dan bukan kualitas adalah sangat menarik.

Kritik itu berasal dari Prof. Nadirsyah Hosen, Ph. D (biasa disapa Gus Nadir), dosen senior Monash University Australia ketika menulis cuitan di akun Twitter-nya. Sontak membuat ramai media daring, terutama yang keberatan kalau aksi 212 di Monas itu dianggap seperti buih. Sampai-sampai Rais Syuriah PCI NU Australia-New Zealand ini harus menulis klarifikasi terhadap maksud cuitannya itu.

Secara lengkap bunyi cuitan Gus Nadir dan klarifikasinya, sebagai berikut :

"Kalau ingin lihat bukti sabda Nabi umat Islam kualitasnya sepert ibuih seolah banyak tapi tidak berkualitas lihat kerumunan di Monas hari ini."

"Karena kalian cuma buih maka pergerakan kalian mudah ditebak dan diombang-ambingkan tergantung angin yang meniup."

"Karena kalian hanya senangnya berkerumun dan teriak-teriak, maka kalian gampang termakan isu."

"Karena kalian cuma kerumunan maka gampang gumunan seolah hebat padahal kualitas umat terlalu sedikit untuk diperhitungkan."

Karena cuitannya ini mengundang respons yang penuh caci maki dan kesalahpahaman, maka Gus Nadir, yang juga sebagai Pengasuh Pengajian Tafsir di Melbourne ini, melakukan klarifikasi.

"Ada pihak yang berperan untuk menenangkan umat. Ada yang ambil peran lain yaitu untuk memenangkan umat. Saya selalu ambil peran yang terakhir ini, yaitu bagaimana umat ini cerdas dan menang secara kualitas. Tidak sekadar bangga dengan jumlah. Term buih yang saya maksud ditujukan kepada kerumunan (cek lagi twit saya), bukan pada individu. Respons sebagian pihak itu seolah saya merendahkan kualitas individu yang berada di sana. Keliru!"

"Yang saya soroti adalah strategi pergerakan umat. Berkerumun itu membuat gerakan umat mudah terbaca, mudah diombang-ambingkan dan mudah dimanfaatkan. Mengurusi satu orang saja kita harus mengeluarkan resources umat yang terbatas ini sampai ratusan miliar rupiah untuk 3 kali aksi, termasuk biaya pengamanan TNI/Polri."

"Kita masih berupa kerumunan, belum strategis, taktis dan visioner. Yang disebut pemimpin umat sekarang adalah mereka yang lantang berteriak dan mengumpulkan kerumunan. Nggak usah pakai dalil dan riset. Cukup bisa teriak mengumpulkan kerumunan maka dia dianggap pemimpin. Pada titik ini saya ingatkan lewat twit saya agar jangan berbangga dengan jumlah yang sudah diingatkan Nabi dengan istilah ‘bagai buih’. Kita harus mulai geser cara pandang dari kuantitas ke kualitas."

"Mengenai hadis soal buih, sudah saya tulis penjelasannya dan dimuat di website ini. (http://nadirhosen.net/tsaqofah/tarikh/192-bagaikan-buih-semata)"

Menurut Gus Nadir, itu yang sebenarnya ia maksud. Ia bicara strategi pergerakan meningkatkan kualitas umat dan menegakkan kembali peradaban Islam yang porak-poranda. Tapi bukankah yang hadir di Monas juga banyak orang-orang yang berkualitas? Betul. Tapi sekali lagi, lanjutnya, bahwa yang ia soroti bukan individu tapi kerumunannya.

Jadi, ia tidak merendahkan para tokoh dan ulama yang hadir. Tapi fokus pada strategi dan kualitas umat secara umum. Al-‘ibrah bi umumil lafz la bi khususis sabab. Ini bukan seperti yang disangka sebagian pihak: al-‘am urida bihi al-khas (kalimat kerumunan itu umum dan bermakna umum, bukan khusus kepada individu).

"Banyak netizen mencaci maki saya. Nggak apa–apa, saya terima. Perlu ada orang yang “tega” mengingatkan umat. Saya sediakan diri saya menjadi samudera yang menampung keluh kesah, sumpah serapah dan caci maki para buih. Mungkin ini cara-Nya Allah mengingatkan kita semua agar kita lebih taktis, stategis dan efektif membangun kembali peradaban Islam agar buih bisa berubah menjadi gelombang dahsyat. Amin Ya Rabbal ‘Alamin"

"Salam ta’zim dan mohon maaf,
Hamba Allah yang dha’if dan faqir
Nadirsyah Hosen http://nadirhosen.net/kehidupan/ummat/klarifikasi-nadirsyah-hosen-soal-buih"

Ini tentu menjadi semacam buah bibir dan refleksi pemikiran yang tetap mencerahkan, sekaligus otokritik untuk intern umat Islam itu sendiri dari Gus Nadir di Monash tentang kerumunan di Monas laiknya buih yang menghampar pada 2 Desember yang lalu. Pro dan kontra, pujian dan caci maki untuk sebuah kritik adalah hal biasa, sudah lumrah. Biarkan mereka menggonggong, Gus Nadir tetap berlalu. Go ahead, Gus!

  • view 159