Ketika Tersangka Ahok Ditahan

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Politik
dipublikasikan 28 November 2016
Ketika Tersangka Ahok Ditahan

Foto: wartakota.tribunnews.com


Viral rencana aksi unjuk rasa pada tanggal 2 Desember mendatang (baca: Aksi 212) dengan menggelar salat Jumat di sepanjang jalan protokol ibu kota Jakarta melahirkan polemik di kalangan umat Islam. Bukan tentang unjuk rasanya, tapi polemik tentang hukum salat Jumat di jalanan yang menjadi titik tekan. Bertumpu pada sah atau tidaknya salat Jumat di jalanan.

Polemik yang berkisar pada tema agama yang muncul atau dibawa ke ranah publik dan berbalut kepentingan politik (baca: politisasi agama)---saya cenderung menyangsikan seratus persen murni soal agama---kembali terjadi sebagaimana polemik tafsir atas Al-Maidah 51 yang memicu fenomena kegaduhan dan entah sampai kapan berakhir, berakibat sumbu pendek yang menimbulkan unjuk rasa berjilid, dan membawa Ahok pada status tersangka sebagai penista agama.

Polarisasi pemahaman konsep ajaran Islam antara dua sisi, sisi tekstual berhadap-hadapan dengan sisi kontekstual menjadi kentara dan penting ketika ditarik ke ranah kekinian. Inilah yang pada gilirannya melahirkan beragam sudut pandang dan beragam paham. Memperkaya khazanah pemikiran Islam adalah sisi baik dan positifnya. Konflik dan sikap mengkafirkan adalah sisi buruk dan negatifnya.

Yang paling mutakhir dari polarisasi pemahaman dan polemik konsepsi ajaran Islam itu adalah polemik tafsir Al-Maidah 51 dan salat Jumat di jalanan ini. Salat Jumat di jalanan misalnya, ada yang menyatakan boleh dan tidak boleh, sah dan tidak sah. Dua-duanya sama mempunyai rujukan.

Terlepas dari politisasi agama dan politisasi hukum, misalnya jika ada, yang jelas memang proses hukum terhadap kasus Ahok sudah berjalan, bahkan realitas status Ahok sekarang sudah tersangka. Problemnya, menurut publik terutama yang berseberangan dengan kelompok pendukung Ahok, ada hal yang janggal secara hukum, kenapa status tersangka Ahok sampai saat ini masih bebas berkeliaran dan tidak ditahan?

Itulah salah satu agenda unjuk rasa jilid 3 yang akan dilakukan pada 2 Desember mendatang yang mereka menyebutnya dengan "Aksi 212" itu dengan menggelar salat Jumat di sepanjang jalan protokol ibu kota Jakarta.

Kalau hal ini sampai terjadi, dengan massa yang begitu besar jumlahnya seperti melihat pengalaman aksi sebelumnya, maka jelas menjadi problem, terutama bagi aparat kepolisian dalam menangani dan menindak massa unjuk rasa seperti ini, karena secara hukum jelas melanggar hukum, mengganggu ketertiban umum dan melanggar hak-hak asasi orang lain.

Realitas kasus Ahok sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Tinggal menunggu eksekusi kejaksaan apakah tersangka Ahok ini ditahan atau tidak. Itu saja. Kalau Ahok masih bebas dan tidak ditahan, Aksi 212 pasti tetap dilakukan. Sebaliknya, kalau dalam dua atau tiga hari dalam minggu ini, tersangka Ahok langsung ditahan oleh kejaksaan, maka ceritanya akan lain.

Aksi 212 sudah pasti batal terjadi, karena logikanya apalagi yang akan dituntut, tersangka sudah ditahan. Selesai sudah. Tidak ada lagi aksi 212 itu. Tidak ada lagi salat Jumat di jalanan. Salat Jumat kembali seperti biasa, dilaksanakan di masjid, di gedung atau di tempat yang lazim sesuai syariat.

Jika sebelum tanggal 2 Desember itu, tersangka Ahok belum juga ditahan. Ini yang menjadi dilema hukum. Hukum harus tunduk pada tekanan dan opini publik. Maka sudah pasti Aksi 212 lanjut dan digelar. Walaupun berbagai pihak menganjurkan untuk tidak dilakukan aksi tersebut.

Bahkan ormas sebesar PBNU sampai mengeluarkan fatwa tidak sah salat Jumat di jalanan atau jalan raya. Dan Muhammadiyah pun menghimbau umat Islam untuk tidak melakukan aksi unjuk rasa lagi. Tinggal menunggu fatwa MUI pusat terhadap hukum salat Jumat di jalanan ini.

Hari ini (28/11/2016), alhamdulillah, terjadi win-win solution, tersiar berita bahwa akhirnya kalaupun terpaksa harus dilakukan aksi 212 dengan menggelar salat Jumat, berdasarkan pengalaman aksi 411 sebelumnya salat Jumat di Masjid Istiqlal tidak menampung jemaah, yang rencana awalnya dilakukan di sepanjang Jalan Sudirman-MH Thamrin, dipindahkan ke kawasan Monas. Ringkasnya, aksi 212 dengan salat Jumat di jalanan batal dan dipusatkan di kawasan Monas.

Persoalannya, apakah itu akan terjadi, tersangka Ahok ditahan dalam dua atau tiga hari ini? Terus kalau Ahok nanti ditahan, apakah aksi 212 di kawasan Monas pun akan tetap dilakukan, padahal tuntutannya sudah dikabulkan? Kalau masih tetap  dilakukan aksi 212 ini, lagi-lagi logikanya "Jaka Sembung" alias nggak nyambung, atau apakah mungkin nanti mereka menyebut aksi 212 ini sebagai aksi syukuran atas ditahannya Ahok? 

Jadi perlu dipertanyakan, ada apa dengan aksi 212 ini sebenarnya? Kita tunggu saja drama aksi dan proses hukum selanjutnya! Wallahu a'lam.

  • view 289