#KurinduITD - Nafsu Menyeret Ahok Ke Penjara

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Politik
dipublikasikan 15 Oktober 2016
#KurinduITD - Nafsu Menyeret Ahok Ke Penjara

Foto eramuslim.com


Drama kasus Ahok tentang Al-Maidah 51 berakhir klimaks. Demonstrasi besar-besaran anti Ahok benar-benar terjadi, Jum'at (14/10) kemarin. Tujuannya satu, menyeret Ahok ke penjara. Dengan begitu usaha menggagalkan Ahok sebagai cagub DKI Jakarta tercapai. Dalam hal ini tulisan Denny JA, https://www.inspirasi.co/post/details/22905/setelah-demo-adili--ahok-talk--show-imajiner, melukiskan dengan bagus dan menarik tentang respons publik yang berkaitan demo kemarin, must a read dan dapat dijadikan rujukan.

Bukan sok tahu atas apa yang belum atau bakal terjadi, tapi menurut persepsi saya yang awam tentang realitas politik, yang konon sulit ditebak. Bukan juga mendahului tukang survei. Tapi berdasarkan pada arus politik dan kepiawaian Ahok dalam beberapa peristiwa yang menggoyangnya.

Sesuai namanya "Basuki" yang artinya "selamat", alih-alih nafsu kelompok yang anti Ahok untuk menyeretnya ke penjara, Ahok kelihatannya santai saja merespons itu semua, bahkan ia menegaskan  bahwa ia tidak merasa terancam.  Ia tampaknya bakal selamat dari segala jerat dan intrik yang menfitnah dirinya dalam persaingan politik menuju festival pilkada DKI Jakarta.

Artinya, Ahok tampaknya akan aman melenggang menuju cagub sampai hari pemungutan suara.   Dan bahkan ia menjadi calon yang semakin kuat, tak tertandingi dan sulit dikalahkan oleh cagub yang lainnya. Betul versi hasil survei terbaru dari tukang survei yang baru-baru ini dirilis, yang menyebutkan Ahok ternyata bisa dikalahkan, tapi sangat sulit. Bukan tendensius, tapi percayalah.

Karena  sekalipun dilakukan proses hukum terhadap Ahok yang ditenggarai melakukan penodaan atau penistaan agama, sebenarnya tidak perlu khawatir. Pasalnya, meski status Ahok berubah menjadi tersangka, misalnya; maka ia tetap bisa mengikuti sebagai calon gubernur di pilkada DKI Jakarta 2017. Atau termasuk kalau Ahok sebagai pejawat terpilih kembali sebagai gubernur Provinsi DKI Jakarta di tanggal 15 Pebruari 2017 nanti, dan status hukumnya hanya sebagai tersangka, maka tidak serta merta melengserkannya dari kursi DKI 1. Berbeda  kalau ia berstatus terdakwa, Begitu menurut pendapat pakar hukum tata negara Margarito Kamis.(Republika.co.id, 15/10).

Itulah kenapa mereka, para penentang dan lawan politik Ahok sangat bernafsu menyeret Ahok ke penjara. Tapi tentu saja Ahok bersama tim sukses juga para pendukungnya, tidak bakalan rela kalau sampai Ahok menjadi terdakwa apalagi menjadi pesakitan. Makanya, semua drama dalam menjegal pencalonannya menuju DKI 1 kemungkinan besar kandas di tengah jalan. Ini sekaligus adalah semacam pemanasan awal yang akan mengantarkannya secara sehat dan elegan ke kursi DKI 1 untuk lima tahun ke depan. Sebuah ujian kelas yang akan membuktikan Ahok menjadi juara 1 di kelasnya.

Ini menunjukkan bahwa Ahok semakin teruji kecerdasan dan kepiawaiannya dalam kancah politik nasional. Apalagi kalau melihat orang-orang yang berada di sekeliling Ahok yang merupakan tim manajemen dan tim sukses sebagai think thank atau wadah pemikir, baik yang resmi terdaftar di KPUD maupun tidak resmi, dan ini yang lebih besar jumlahnya juga solid. Ahok dikelilingi oleh orang-orang muda, berpikir brilian, cerdas, segar dan kreatif dalam merumuskan strategi dan cetak biru untuk memenangkan kompetisi pilkada ini.

Saya tidak perlu merinci siapa-siapa saja sekelompok orang muda yang berada di balik layar dan belakang Ahok. Yang jelas mereka adalah orang-orang yang pintar, berkualitas, dan memiliki kapabilitas yang tidak diragukan lagi dalam membidani kelahiran dan mengantarkan Ahok menuju gubernur DKI Jakarta.

Karena selain faktor Ahok sendiri sebagai seorang sosok yang berkualitas dan luar biasa, juga faktor orang-orang muda sebagai think thank atau wadah pemikir itu yang "menemani" dan "mengawal" Ahok yang juga berkualitas dan luar biasa.

Terlepas dari segala kelemahan dan kekurangan yang ada pada Ahok, terutama terkait karakternya sebagai layaknya manusia yang sama dengan yang lainnya, tapi juga ia memiliki kelebihan sebagai kekuatan positif yang melengkapi dan nilai tambah yang menggenapi sosok Ahok. Ini bisa dilihat, paling tidak, sejak ia dilantik sebagai gubernur DKI Jakarta menggantikan atau melanjutkan Jokowi sampai hari ini.

Ahok memiliki karakteristik kepemimpinan yang khas dan layak diapresiasi dalam memimpin ibukota Jakarta lima tahun ke depan. Karakteristik kepemimpinan yang dimiliki olek Ahok -- Ini pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan yang lain berbeda pendapat dengan saya -- antara lain adalah berpikir di luar kelaziman (think outside the box), keberanian mendobrak birokrasi, kemampuan untuk selalu berimprovisasi, menghormati waktu, dan tidak mendewakan kekuasaan.

Merespons masalah secara real time, keberanian mengambil resiko, keberanian melawan fitnah, kemampuan melakukan transformasi diri, berpikir rasional, taat sistem dan peraturan, dan tentu problem solver.

Karakteristik kepemimpinan Ahok seperti di atas adalah aset dan modal bagi Ahok dan tim suksesnya untuk menguatkan persepsi bahwa Ahok tampaknya tetap sulit terkalahkan oleh siapa pun calon pesaingnya dalam pilkada DKI Jakarta. Rileks saja. Ayo siapa berani lawan Ahok?

 

  • view 458