Ahok : "Perang" Antara Islam Liberal Vs Islam Radikal

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Politik
dipublikasikan 09 Oktober 2016
Ahok :

Foto RiauSIDIK.com

 

Sejak Indonesia, khususnya Daerah Khusus Ibukota Jakarta dikenalkan dengan seorang yang bernama Ahok (nama lain dari Basuki Tjahaya Purnama atau kalau boleh diarabkan menjadi "Salam Nurul Badri"), kontroversi demi kontroversi datang silih berganti. Tiada hari tanpa kontroversi. Karena tampaknya Ahok terlahir untuk kontroversi itu sendiri. Persis "gurunya" yaitu Gusdur yang menjadi sosok yang kontroversial juga.

Konon ketika Ahok bertemu dengan Gusdur, ia diprediksi oleh Gusdur -- entah cerita ini benar atau tidak -- akan menjadi Gubernur. "Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi gubernur, jadi presiden, kamu aja bisa...", kata Gusdur saat itu.  Dan -- entah ini pun kebetulan atau memang kehendak Tuhan dan sesuai prediksi Gusdur -- akhirnya benar Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan perantara Gubernur Jokowi (sekarang Presiden RI) yang saat itu Ahok menjadi wakilnya.

Sejak awal kemunculan Ahok memang banyak menimbulkan hal-hal kontroversial. Dari hal yang paling pokok yaitu agamanya yang non-muslim mendampingi Jokowi menjadi gubernur dan wakil gubernur saat itu, sampai cara komunikasi yang agak unik -- yang sebenarnya sangat "Betawi punya gaya" -- yaitu bicara ceplas ceplos, asal goblek, ngomongnya asal (istilah Betawinya), suka mencela orang (membullying) tanpa tedeng aling-aling, itu semua menjadi konsumsi berita dan viral di banyak media sosial bagi warga Jakarta -- bahkan warga bangsa Indonesia -- sehari-hari.

Apalagi kasus yang terakhir ini, yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di ruang publik dan tranding topic di media daring yang berkaitan dengan pernyataan Ahok tentang Surat Al-Maidah ayat 51 itu.

Terlepas dari pencalonan Ahok sebagai cagub dan diplintir atau tidak diplintirnya pernyataan Ahok tersebut, tapi yang jelas ini sudah menjadi realitas berita dan viral di ruang publik melalui berbagai media sosial.  Ini menggambarkan bahwa atmosfer pilkada DKI Jakarta belum apa-apa sudah mulai memanas.

Yang paling menarik adalah realitas komunitas Islam yang pro dan kontra terhadap pernyataan Ahok yang menyitir sebuah ayat dalam kitab suci umat Islam, Alquran itu dan terhadap Ahok itu sendiri sebagai petahana yang sudah resmi menjadi salah satu calon gubernur DKI Jakarta untuk lima tahun yang akan datang. 

Yang pro dan kontra ini,  pada akhirnya mengerucut dan terbelah kepada dua intern komunitas atau kelompok Islam yaitu Islam liberal dan Islam radikal (fundamentalis). Islam liberal adalah katagori yang pro Ahok dan Islam radikal atau fundamentalis adalah katagori yang kontra terhadap Ahok. Yang satu mendukung habis-abisan Ahok dan yang terakhir membantai habis-habisan Ahok. Ringkasnya, secara spesifik dan terbatas pada intern komunitas Islam -- kalau saya boleh menyebut dan menyimpulkan -- ada semacam "perang" antara Islam liberal versus Islam radikal.

 Indikasinya adalah dari awal komunitas Islam liberal tampak kedekatannya lebih kentara dengan Ahok dan lebih gencar mempublikaskan dan menawarkan tafsir yang berbeda -- terutama tafsir terhadap surat Al-Maidah ayat 51 yang menyebut kata "awliya" -- dengan mainstream mayoritas umat Islam tentang bolehnya non-muslim diangkat atau dipilih menjadi pemimpin. Artinya, bagi Islam liberal, tidak ada larangan bagi umat Islam memilih atau mengangkat orang non-muslim menjadi pemimpin. Referensi tafsirnya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademik dan ilmiah.

Sementara komunitas Islam radikal (fundamentalis) dan sebagian masyarakat Islam (bukan seluruh umat Islam) tetap "keukeuh"  dengan keyakinannya  bahwa haram hukumnya mengangkat atau memilih orang non-muslim menjadi pemimpin. Mereka juga punya referensi tafsirnya jelas, bisa dipertanggungjawabkan secara akademik dan ilmiah.

Tarik menarik dan silang pendapat tentang hal ini sangat sulit untuk dikompromikan. Perbedaan penafsiran terhadap teks dalam Alquran sebenarnya sudah menjadi biasa dan tradisi dalam Islam. Seyogyanya ini adalah khazanah yang memperkaya pemikiran Islam selama ini.

Dalam Islam kerap disebut sebagai proses ijtihad. Yang sangat disayangkan adalah alih-alih saling menghargai, tetapi perbedaan sering membawa pada sikap saling mengkafirkan dan menyalahkan, bahkan perpecahan dalam intern umat Islam. Padahal bukankah perbedaan itu adalah rahmat?

Kata perang sengaja ditulis dalam tanda kutip. Sebenarnya sudah maklum dan jelas pengertiannya, bahwa yang dimaksud bukan perang fisik atau perang mengangkat senjata. Juga tidak dalam katagori analogi dengan perang dalam Islam atau pewayangan, misalnya perang badar, perang uhud atau perang bhatarayuda..

Melainkan perang lebih pada pengertian kompetisi atau festival strategi, program kerja, gagasan, ide, konsep, skenario dan seterusnya dalam rangka memenangkan siapa yang dicalonkan untuk memimpin ibukota Jakarta lima tahun ke depan. Jadi pengertiannya lebih pada arti mendukung dan tidak mendukung calon gubernur itu sendiri. Sebuah kampanye calon. 

Yang pasti, "perang" pilkada DKI Jakarta ini bakal seru dan meriah. Siapa yang cerdas memenangkan siapa, lewat festival gagasan, konsep, visi misi, strategi dan program kerja yang digelar, Islam liberal atau Islam radikalkah? Wallahu a'lam.

 

  • view 577

  • Ikhsan Hudzaifah
    Ikhsan Hudzaifah
    11 bulan yang lalu.
    Seperti halnya "kebanyakan" orang diluar sana menganggap bila hal ini adalah soal pilkada, sungguh sangat tak berarti!

    • Lihat 4 Respon