"Sakitkah" Marwah Daud Ibrahim?

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Tokoh
dipublikasikan 07 Oktober 2016

Jujur, saya tidak begitu banyak mengenal Marwah Daud Ibrahim, selain kali pertama saya pernah bertemu ketika ia menyampaikan kuliah umum di sekitar tahun 1991, saat saya masih sebagai mahasiswa semester tiga IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Selebihnya, kemudian saya hanya tahu lewat media terutama kiprahnya di dunia politik dan menjadi fungsionaris partai Golkar.

Saat itu, saya terus terang merasa kagum dengan presentasinya yang luar biasa, ilmiah, lugas dan memukau. Artikulasinya jelas, masih muda dan tentu terlihat cantik. Yang pasti, saat itu ia belum berkerudung seperti sekarang.

Dari situ, bertahun-tahun tidak begitu jelas saya mendengar kabar dan kiprahnya. Hanya terakhir -- sebelum berita gegernya Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan tahu-tahu muncul Marwah Daud Ibrahim terlibat di dalamnya -- saya sempat menyaksikan Marwah Daud Ibrahim tampil di televisi sebagai tim sukses calon presiden dari koalisi merah putih yang mengusung Prabowo Subianto dan ternyata ia memang bergabung dengan partai Gerinda.

Saya tidak habis pikir, kenapa Marwah Daud Ibrahim yang dikenal sebagai seorang intelektual dan cenderung berpikir ilmiah dan rasional itu bisa berubah 180 derajat dan percaya 100 persen kepada Kanjeng Dimas Taat Pribadi yang absurd, cenderung tahayul dan irasional seperti itu? Heran, mana Marwah Daud Ibrahim yang selama ini sempat saya kagumi? Sulit bagi saya memahami dan menjelaskan fenomena ini.

Apalagi melihat pernyataan tentang sikap dan pilihannya itu dengan gaya seolah-olah ilmiah tapi rancu dan nggak jelas dasar dari paradigma berpikirnya. Yang tampak hanyalah manifestasi dari gejala-gejala psikologis dan sosiologis khususnya kultus dan bermau mitos.

 Berdasarkan pernyataan sikap dan pilihannya itu, paling tidak, ada suatu yang aneh dan rancu pada cara berpikirnya.

Sempat terbetik di benak dan pikiran saya, "sakitkah" Marwah Daud Ibrahim? Mudah-mudahan saya salah. Walaupun pada akhirnya, betul apa yang saya pikirkan, semoga Marwah Daud Ibrahim yang menulis buku "Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan (MHMMD)" ini selalu sehat, kembali mendapat hidayah dari Allah dan berada di jalan-Nya.

 

  • view 232