Tidak Semua Berhaji Sekadar Berburu huruf "H"

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Agama
dipublikasikan 11 September 2016
Tidak Semua Berhaji Sekadar Berburu huruf

Foto Dok. Pribadi
 

Dalam sejarah, paling tidak, ada tiga perjalanan yang sangat fenomenal dialami oleh Nabi Muhammad saw: Hijrah, isra mikraj dan haji (Azumardi Azra).

Hijrah adalah perjalanan Nabi dari kota Mekah ke Madinah. Kehidupan Nabi dan umat Islam di Mekah saat itu sudah tidak kondusif dan mendapat teror dari penduduk kafir Mekah, maka demi keselamatan dan keberlangsungan hidup, Nabi dan umatnya melakukan hijrah, pindah meninggalkan Mekah menuju ke Madinah (saat itu bernama Yatsrib).

Di Madinah inilah Islam berkembang pesat dan komunitas Islam bertambah. Piagam Madinah (mitsaq Al-Madinah) menjadi semacam icon dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Dengan beragam keyakinan, suku dan adat istiadat dapat hidup harmonis dan demokratis.

Isra mikraj adalah perjalanan Nabi di malam hari dari Masjid Al-Haram di kota Mekah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, setelah itu Nabi melakukan perjalanan naik (mikraj) ke Sidratul Muntaha. Sekilas tentang isra mikraj bisa dibaca tulisan saya,  https://www.inspirasi.co/post/details/11834/tuhan-pun-sakit-lapar-dan-haus.

Haji adalah perjalanan berkunjung ke Masjidil Haram Mekah untuk menunaikan serangkaian ibadah (ritual) yang telah ditentukan secara syari'i.

Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang merupakan kewajiban sekali seumur hidup bagi setiap orang Islam yang mampu menunaikannya.

Mampu (istitha'ah) dalam hal ini berarti mampu semuanya, baik itu jasmani, rohani (mental), ekonomi maupun keamanan dalam melaksanakan ibadah haji/umrah. Wajib sekali seumur hidup berarti tidak wajib hukumnya berkali-kali melaksanakan ibadah haji/umrah. Selebihnya boleh-boleh saja atau hukumnya mubah (sunah).

Makanya kebijakan Menteri Agama yang sekarang, yaitu memprioritaskan bagi yang belum pernah berangkat haji dan sudah lanjut usia daripada yang sudah berhaji untuk menunaikan ibadah haji adalah kebijakan yang tepat, perlu diacungi jempol dan mesti diapresiasi. Apalagi kenyataan sampai hari ini daftar tunggu calon jamaah haji kita membutuhkan waktu yang lumayan panjang atau lama sekali, dan bahkan secara timeline sudah mencapai puluhan tahun.

Yang menarik dari tiga perjalanan yang fenomenal ini (hijrah, isra mikraj dan haji) adalah berangkat dari, dalam dan kepada Allah (minallah, fillah dan ilallah). Tujuannya jelas untuk Allah, tidak untuk yang selain-Nya. Lillahi ta'ala. Perjalanan yang sama-sama tujuannya yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Fenomena berangkat menunaikan ibadah haji dengan menggunakan paspor palsu menyebrang melalui negara jiran Philipina yang terjadi pada musim haji tahun ini, maraknya biro perjalanan haji dan umrah yang tidak resmi alias bodong menipu jamaah, tidak sedikit oknum pejabat menyalahgunakan wewenang, antrian panjang daftar tunggu calon jamaah haji hingga belasan bahkan puluhan tahun lamanya, adalah bukti antusiasme keberagamaan umat Islam untuk menunaikan rukun Islam yang kelima ini.

Hal ini tentu di samping sangat menggembirakan tapi juga memprihatinkan.

Menggembirakan karena kesadaran umat Islam dalam beragama sangat tinggi. Konsekuensinya adalah lahirnya komunitas Islam yang baik atau salih, baik kesalihan individu maupun kesalihan sosial. Perilaku yang tidak baik atau tidak terpuji menjadi berkurang pelakunya.

Pelanggaran terhadap norma-norma hukum, pelanggaran moral, kriminalitas misalnya, tidak akan banyak terjadi lagi di masyarakat. Karena tadi banyaknya orang baik di negeri ini. Orang yang sudah berhaji (mestinya) menjadi orang baik dan salih.

Memprihatinkan karena realitas menunjukkan ibadah haji tidak membekas dan nggak berpengaruh banyak terhadap perubahan dan perbaikan akhlak dan moral orang yang telah menunaikan ibadah haji. Sebelum dan sesudah berhaji tidak jauh berbeda dan begitu-gitu saja perilakunya. Perilaku tidak terpuji masih saja dilakukan oleh orang yang notebene sudah berhaji. Perilaku korup, sombong dan zalim misalnya, kerap dilakukan oleh orang yang mengaku sudah berhaji dan itu sudah menjadi kebiasaannya selama ini.

Jangan-jangan fenomena tadi yang merupakan antusiasme dan semangat keberagamaan umat Islam dengan tingginya keinginan berangkat menunaikan ibadah haji adalah sekadar menebar citra diri (pencitraan) atau sebatas status sosial atau ingin disebut "haji" alias sekadar ingin menyematkan atau menambah satu huruf  "H" di depan namanya yang menjadi kebanggaan dan cenderung pamer diri dan (ta)kabur itu.

Tidak afdol, kalau huruf "H" itu tidak dicantumkan, ditulis atau disebut di depan namanya setelah menunaikan ibadah haji. Bahkan ada yang sampai protes, keberatan, tidak terima dan meminta dicantumkan.

Mendapatkan huruf itu -- "H" dipanjangkan dan dieja menjadi "h-a-j-i" -- sekadar tahu saja iya, harus susah payah, biayanya mahal dan jaraknya jauh lagi. Makanya, wajar saja. Begitu logika berpikir mereka yang sekadar berburu atau mengejar huruf "H" dalam ritual haji. Naif dan memprihatinkan memang. Itulah  Indonesia.  Na'udzu billahi min dzalik!

Kalau begitu, untuk apa berdo'a dan mendekatkan diri pada Tuhan saja harus bersusah payah dan jauh-jauh pergi ke Mekah? Apa kalau kita berdo'a di sini, memangnya Tuhan tidak mendengar do'a kita? Lalu untuk apa berhaji? Pertanyaan-pertanyaan nakal yang ditulis Komarudin Hidayat dalam bukunya "Wisdom of Life"  ini layak kita jadikan renungan. Atau coba kita simak kritik Gusmus (KH. A. Mustofa Bisri) dalam salah satu bait puisinya, "Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri. Mencari pengalaman spiritual dan matrial. Membuang uang kecil dan dosa besar. Lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi, Haji." Ini semua tentu agar berhaji kita betul-betul tidak sekadar simbol tapi bermakna bagi diri dan kehidupan kita. Berhaji yang mabrur.

Dan kita yakin bahwa tidak semua orang yang berangkat haji seperti itu. Pasti tidak semua orang naik haji itu melulu dan cuma sekadar mengejar atau berburu huruf "H". Sayang sekali kalau ada orang berhaji seperti itu. Artinya bahwa masih banyak orang yang berangkat haji yang niatnya tetap bersih, tulus dan lurus untuk mendekatkan diri pada Allah dan ingin meraih haji mabrur. Haji mabrur tetap menjadi obsesi dan cita-cita jamaah haji.

Haji mabrur, yang kata Nabi,  tidak ada balasannya kecuali surga. Jadi siapa yang tak ingin masuk surga. Haji mabrur itu pasti diperoleh sesudah selesai menunaikan ibadah haji. Dan efeknya juga pasti setelah kembali dari menunaikan ibadah haji. Kesalihan individu dan kesalihan sosial adalah buah dari haji mabrur itu sendiri.

09 Dzulhijah 1437 H.

  • view 220