Anak Belajar Dari Lingkungannya

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 September 2016
Anak Belajar Dari Lingkungannya

Noura Ismatina, putriku tampak bersama teman-temannya mengaji / Foto Dok. Pribadi
 

Aku sudah menikah. Aku dikarunia empat orang anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Membesarkan, merawat, mengasuh dan mendidik anak-anak itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua.

Aku pun menyadari hal ini dari awal. Bahkan sebelum anak-anak bersekolah secara formal, aku meyakini bahwa orang tua adalah sekolah (madrasah) pertama dan tentu seterusnya, bagi anak-anak, tanpa mengenyampingkan sekolah formal.

Proses pengasuhan dan pendidikan, menyangkut segi motorik, kognitif dan afektif, karakter, intelektual, emosional juga spiritual tidak serta merta melulu menyerahkan pada pihak sekolah, tapi peran orang tua atau keluarga menjadi mendasar dan sangat penting dalam proses pengasuhan, pendidikan dan perkembangan anak secara menyeluruh.

Artinya, bahwa kolaborasi antara keluarga dan sekolah harus berjalan terjalin berkelindan dengan baik. Orang tua adalah the role model atau contoh bagi anak-anaknya. Keteladaan merupakan salah satu proses pendidikan yang paling efektif. Anak-anak akan banyak belajar dari lingkungannya.

Apa yang anak-anak lihat dan dengar, itulah yang mereka rekam dan ikuti. Tidak berlebihan apabila ada pernyataan bahwa baik-buruk anak itu sangat bergantung pada lingkungannya, terutama keluarga. Keluarga adalah tolok ukur proses perkembangan anak menjadi baik atau buruk.

Itulah maksud dari pesan Nabi dalam sabdanya bahwa anak itu terlahir dalam keadaan fitrah atau  sebagai tabula rasa (kertas putih kosong), peran orang tua dan lingkungannya yang akan mewarnai kehidupan anak selanjutnya, baik itu intelektual, emosional maupun spiritual.

Dalam bingkai proses pengembangan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual tadi, aku berupaya mendidik anak-anak ke arah itu. Sejak anak pertama lahir sampai yang terakhir, aku berusaha keras memberi teladan dan contoh dengan kebiasaan baik pada anak-anak.

Contoh kecil tapi ini sangat membekas pada anak-anak adalah membiasakan mereka menunaikan salat lima waktu, mengaji (belajar membaca Alquran) sehabis salat magrib dan jika saatnya adzan magrib berkumandang, pesawat televisi tidak boleh dinyalakan sampai waktu belajar habis kira-kira pukul 21.30 WIB.

Kebiasaan ini tidak pernah absen dilakukan tiap hari sampai akhirnya anak-anak terbiasa dengan kondisi ini. Dan kebiasaan ini berjalan mengalir terus setiap hari tanpa perlu melarang atau menyuruh anak-anak melakukan kebiasaan ini.

Yang juga penting adalah peran ibunya anak-anak yang dengan telaten dan tidak pernah lelah membimbing dan mengajari anak-anak mengaji atau membaca Alquran sehabis salat magrib setiap hari secara rutin sampai mereka bisa dan pandai mengaji atau membaca Alquran.

Bahkan sampai sekarang banyak anak yang tinggal di sekitar rumah juga ikut serta belajar mengaji. Rumah menjadi hidup dan indah dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran. Terdengar damai dan sahdu di telinga. Terasa sejuk dan tenteram di hati ini.

Bukankah Nabi juga menyatakan "Buatlah rumahmu bercahaya dengan salat dan lantunan bacaan Alquran"? Menanamkan nilai-nilai kebaikan dan spiritual pada anak itu paling efektif memang melalui pembiasaan dan keteladanan. Tidak perlu pemaksaan atau bahkan kekerasan.

Dari situ anak-anak terlihat merasa nyaman dan menyenangkan untuk melakukan hal-hal yang baik. Dan ada perasaan tidak enak dan bersalah jika mereka melakukan hal yang tidak baik dan keluar dari kebiasaan baik yang sudah tercipta. Suasana rumah menjadi kondusif.

Aku berusaha menciptakan ini semua dalam proses pendidikan anak-anakku. Aku ingin menciptakan keteladanan sebagai sesuatu yang sangat penting dan berpengaruh banyak terhadap perkembangan psikologi dan spiritual anak-anakku. Allah SWT selalu memberikan perlindungan dan keberkahan. Semoga.

 

Sayyidul Ayyam, 09.09.16 | 08:39

  • view 224